Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.....
A terrible disaster occured in Aceh, 26 Desember 2004.
Minggu sore, kami sekeluarga masih nggak "ngeh" kalo bencana itu sedemikian dahsyat, malah pertama kali nonton TV, kami nggak tau kalo Aceh dan Sumut kena. Senin pagi, baru tersadar, begitu banyak saudara kita yang jadi korban ( bukan berarti korban di negara lain bukan saudara, tapi korban dari bangsa sendiri lebih membuat kita "terluka"). Senin malem, dari kampus, maunya buru-buru pulang, nonton teve, tapi belum banyak berita yang jelas. Selasa, kata Ibuk waktu nelpon, " Udah lihat teve blum ? Masya Allah, korban anak-anak banyak banget, mayatnya sampai berjajar, bukan hanya puluhan, tapi ratusan......", DEG, separah itukah ? Malam itu kami benar-benar terpaku dan menangis, bukan hanya karena tidak tega melihat sekian banyak mayat ( terutama anak-anak ) yang belum terurus, tapi juga karena menyadari, maut itu begitu dekat, hanya dengan sapuan ombak dalam waktu setengah jam, Dia "memanggil pulang " sekian banyak nyawa manusia.
Ya Allah, sedemikian keras kah hati ini, hingga baru tersadar dengan peristiwa ini, dengan teguran keras seperti ini ? Bimbing kami Ya Allah, untuk tetap istiqomah di jalanmu, dan tak akan merapuh seiring berjalannya waktu.
Sempat terlintas dalam hati, kenapa harus Aceh ? Yang belum sembuh lukanya........ Wallahu'alam, Allah pasti memberikan yang terbaik, pasti ada sekian banyak hikmah atas peristiwa ini.
Aceh, kami ikut berduka, ikut menangis atas penderitaan yang kau alami, walaupun tak mungkin kami bisa merasakan betapa pedih penderitaan kehilangan anak, istri, suami, orang tua, mertua, dan saudara dalam waktu sekejap. Tapi jangan terlena oleh air mata, yakinlah Allah tak akan menurunkan cobaan yang tak sanggup dipikul hamba-Nya, pasti masih ada mentari dan hari esok. Biarlah anak-anak dan bayi-bayi kecilmu yang lucu menunggu di depan pintu surga, mereka tak akan masuk ke dalamnya tanpa ibu dan bapaknya. Biarlah suami, istri, orang tua, dan saudara-saudaramu mendahuluimu, Allah pasti memberikan yang terbaik bagi mereka.
Thursday, December 30, 2004
Thursday, December 23, 2004
BILA IBU BOLEH MEMILIH
BILA IBU BOLEH MEMILIH
Ratih Sanggarwati
Jakarta, 21 Agustus 2004
Anakku,
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu...
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah
Sembilan bulan nak,,,, engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata...
Anakku,...
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah... saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu
Anakku,...
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu di dada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan
Anakku,
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku...
Hidup memang pilihan ....
Jika dengan pilihan ibu , engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak ...
Maafkan ibu....
Maafkan ibu ...
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita, agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak ....
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak ...
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu,,,,
Ratih Sanggarwati
Jakarta, 21 Agustus 2004
Anakku,
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu...
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah
Sembilan bulan nak,,,, engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata...
Anakku,...
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah... saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu
Anakku,...
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu di dada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan
Anakku,
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku...
Hidup memang pilihan ....
Jika dengan pilihan ibu , engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak ...
Maafkan ibu....
Maafkan ibu ...
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita, agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak ....
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak ...
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu,,,,
Bunda, Rindu Ini Melangit Lagi!
Bunda, Rindu Ini Melangit Lagi!
Taken from www.eramuslim.com, Publikasi: 22/12/2004 09:28 WIB
Cintamu padaku,
Berakar di sukma
Rindangnya memenuhi jiwa
Sepanjang masa (sebuah sumber)
"Dan Kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya,
Ibunya telah mengandungnya Dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, ...."
(QS Luqman : 14)
eramuslim - Bunda, malam ini tiba-tiba saja aku mengingatmu dengan utuh. Gurat syahdumu, tulus senyummu bahkan gaya berceritamu di masa kecil. Tiba-tiba saja bayangan sosok anggunmu dengan sorot mata penuh cinta hadir dalam jeda yang panjang kemudian menghilang. Sedang apakah saat ini bunda? Membaca buku? Tadarus Al-Qur'an? Menonton televisi atau ah entahlah, aku tidak yakin apa yang sedang bunda kerjakan saat ini. Mungkin juga bunda tengah bersiap di peraduan. Malam sudah akan beranjak. Tidur bunda selalu awal. Itu yang kutau. Ah, semoga bunda baik-baik saja.
Bunda, mata ini sudah dari tadi berkabut. Orang-orang yang lalu lalang tak lagi aku pedulikan. Pandangan ini bahkan telah samar. Bening air mata mungkin sebentar lagi luruh. Duh, mengapa lama sekali petugas itu memanggil dan menyerahkah obat yang akan aku tebus. Bunda, aku takut.
Bunda, betapa aku ingin menujumu detik ini juga. Merengkuh banyak kekuatan yang seringkali engkau persembahkan ketika masalah tengah menghadang. Memetik bulir-bulir kedamaian yang selalu kau hunjamkan teguh ke kedalaman jiwa. "Bunda yakin, Allah pasti memberikan jalan atas masalahmu. Allah tahu batas kemampuanmu. Ia sudah menakarnya. Kamu yang harus yakin."
Bunda, betapa bahagia jika saat ini engkau nyata di hadapanku, inginnya aku bersimpuh di pangkuan dan meneguk percik-percik pinta yang kau senandungkan sempurna kepada Allahu Rabbana. "Semoga anak bunda jadi anak yang shalihah, pintar dan mendapat pendamping hidup yang shalih", "Semoga kamu, nak, sehat dan diberikan rezeki yang berkah".
Bunda, sungguh gembira tak terkira bila kau ada di sini sekarang, hingga dengan bebas aku meminta kesediaanmu untuk membaluri jiwa dengan param hangat doa-doa ikhlasmu hingga ketenangan itu menjulang. Bunda betapa ingin ku raih itu semua sekarang juga. Dada ini bunda, seperti diterjang beribu gempa.
Tahukah bunda, dokter yang memeriksaku barusan memberitahu bahwa janin yang tengah ku kandung tidak bergerak. Aku melihatnya bunda. Gumpalan kecil itu terlihat di layar monitor jelas sekali. Aku melihatnya bunda. Si kecil yang Allah amanahkan di dalam rahim. Dokter mengguncang-guncang alat itu agar si kecil bergerak. Berkali-kali. Lagi dan lagi. Ia diam bunda. Senyap. "Allah, janin kecilku."
"Bu, saya masih belum yakin dengan keadaan janin ibu. Dua minggu yang akan datang, kontrol lagi yah, untuk kepastiannya," suara dokter sayup-sayup singgah di telinga. Ia menuliskan resep dan dengan senyuman tulus mengangsurkan kertas itu ke hadapan. "Sabar ya bu, banyak berdo'a," tambahnya menenangkan.
Bunda, kecemasan ini begitu kental. Aku merasakannya sekarang perkataan bunda di waktu lalu. "Nak, jangan buat bunda cemas, hati bunda seperti belah ketika kau belum datang juga, lain kali telpon jika akan menginap", "Nak, makanlah, agar sakitmu segera sembuh, bunda tak bisa tidur melihatmu berbaring lemah, bunda cemas nak, sungguh!". Duh bunda, aku tahu khawatir itu saat ini.
Dua bulan yang lalu dokter memberi tahu bahwa aku resmi menjadi seorang ibunda. Dan sejak saat itu, aku mulai merasakan perasaan yang tumbuh berganti-ganti. Kesayangan, kebahagiaan, kecemasan hingga perasaan tanpa nama. Bunda, betapa tidak mudah ternyata menyandang gelar itu. Lelah berhari-hari karena mual dan pusing. Menghindari banyak makanan dan menelan obat dan vitamin agar janin yang dikandung sehat. Aku juga harus berhati-hati dalam banyak hal. Dan semuanya, segalanya, demi sesosok cinta di dalam sana.
Bunda, seperti ucapanmu bahwa do'a seorang bunda seperti tuah, seperti bisa, selalu ampuh. Maka aku memohon kepadamu, do'akan agar amanah Allah yang tengah ku kandung baik-baik saja. Pintakan kepada Allah, agar si kecil tumbuh dengan sempurna. Aku juga selalu berdoa untuk amanah ini, do'a yang bunda sendiri ajarkan,
"Ya Allah, lindungilah ia yang berada di rahim hamba, jadikanlah ia dalam keadaan baik, bentuk yang sempurna, rupa yang elok, dan teguhkanlah kelak dan hatinya keimanan kepada Mu, mengikuti sunnah Rasul Muhammad, berikanlah kebaikan untuknya di dunia dan akhirat."
Aku sayang bunda. Sungguh. Meski aku tahu sayang ini hanya seujung kuku dari bentang cakrawala cinta terindahmu. Meski sangat nyata rindu ini hanya setitik kecil di samudera penantianmu. Meski sangat jelas, ingatan kepada bunda bukanlah apa-apa dibanding semua yang bunda lakukan. Pengorbanan, ketulusan, kasih sayang, sujud-sujud bunda, bahkan air mata kesedihan. Tak tertebus. Tanpa batas. Semoga Allah sajalah yang membalas itu semua. Surga.
Bunda, sudah berapa lama kita tidak bertemu. Rindu padamu bunda, membumbung tinggi. Bunda, perkenankan aku bersimpuh dari jauh. Dalam gundah. Dalam lelah. Di setiap detak tak tentu. Serta dalam degup yang menderu. Ingin kusampaikan untai kata ini di gendang telinga mu "Bunda, rindu ini melangit lagi!"
***
Husnul Mubarikah
Taken from www.eramuslim.com, Publikasi: 22/12/2004 09:28 WIB
Cintamu padaku,
Berakar di sukma
Rindangnya memenuhi jiwa
Sepanjang masa (sebuah sumber)
"Dan Kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya,
Ibunya telah mengandungnya Dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, ...."
(QS Luqman : 14)
eramuslim - Bunda, malam ini tiba-tiba saja aku mengingatmu dengan utuh. Gurat syahdumu, tulus senyummu bahkan gaya berceritamu di masa kecil. Tiba-tiba saja bayangan sosok anggunmu dengan sorot mata penuh cinta hadir dalam jeda yang panjang kemudian menghilang. Sedang apakah saat ini bunda? Membaca buku? Tadarus Al-Qur'an? Menonton televisi atau ah entahlah, aku tidak yakin apa yang sedang bunda kerjakan saat ini. Mungkin juga bunda tengah bersiap di peraduan. Malam sudah akan beranjak. Tidur bunda selalu awal. Itu yang kutau. Ah, semoga bunda baik-baik saja.
Bunda, mata ini sudah dari tadi berkabut. Orang-orang yang lalu lalang tak lagi aku pedulikan. Pandangan ini bahkan telah samar. Bening air mata mungkin sebentar lagi luruh. Duh, mengapa lama sekali petugas itu memanggil dan menyerahkah obat yang akan aku tebus. Bunda, aku takut.
Bunda, betapa aku ingin menujumu detik ini juga. Merengkuh banyak kekuatan yang seringkali engkau persembahkan ketika masalah tengah menghadang. Memetik bulir-bulir kedamaian yang selalu kau hunjamkan teguh ke kedalaman jiwa. "Bunda yakin, Allah pasti memberikan jalan atas masalahmu. Allah tahu batas kemampuanmu. Ia sudah menakarnya. Kamu yang harus yakin."
Bunda, betapa bahagia jika saat ini engkau nyata di hadapanku, inginnya aku bersimpuh di pangkuan dan meneguk percik-percik pinta yang kau senandungkan sempurna kepada Allahu Rabbana. "Semoga anak bunda jadi anak yang shalihah, pintar dan mendapat pendamping hidup yang shalih", "Semoga kamu, nak, sehat dan diberikan rezeki yang berkah".
Bunda, sungguh gembira tak terkira bila kau ada di sini sekarang, hingga dengan bebas aku meminta kesediaanmu untuk membaluri jiwa dengan param hangat doa-doa ikhlasmu hingga ketenangan itu menjulang. Bunda betapa ingin ku raih itu semua sekarang juga. Dada ini bunda, seperti diterjang beribu gempa.
Tahukah bunda, dokter yang memeriksaku barusan memberitahu bahwa janin yang tengah ku kandung tidak bergerak. Aku melihatnya bunda. Gumpalan kecil itu terlihat di layar monitor jelas sekali. Aku melihatnya bunda. Si kecil yang Allah amanahkan di dalam rahim. Dokter mengguncang-guncang alat itu agar si kecil bergerak. Berkali-kali. Lagi dan lagi. Ia diam bunda. Senyap. "Allah, janin kecilku."
"Bu, saya masih belum yakin dengan keadaan janin ibu. Dua minggu yang akan datang, kontrol lagi yah, untuk kepastiannya," suara dokter sayup-sayup singgah di telinga. Ia menuliskan resep dan dengan senyuman tulus mengangsurkan kertas itu ke hadapan. "Sabar ya bu, banyak berdo'a," tambahnya menenangkan.
Bunda, kecemasan ini begitu kental. Aku merasakannya sekarang perkataan bunda di waktu lalu. "Nak, jangan buat bunda cemas, hati bunda seperti belah ketika kau belum datang juga, lain kali telpon jika akan menginap", "Nak, makanlah, agar sakitmu segera sembuh, bunda tak bisa tidur melihatmu berbaring lemah, bunda cemas nak, sungguh!". Duh bunda, aku tahu khawatir itu saat ini.
Dua bulan yang lalu dokter memberi tahu bahwa aku resmi menjadi seorang ibunda. Dan sejak saat itu, aku mulai merasakan perasaan yang tumbuh berganti-ganti. Kesayangan, kebahagiaan, kecemasan hingga perasaan tanpa nama. Bunda, betapa tidak mudah ternyata menyandang gelar itu. Lelah berhari-hari karena mual dan pusing. Menghindari banyak makanan dan menelan obat dan vitamin agar janin yang dikandung sehat. Aku juga harus berhati-hati dalam banyak hal. Dan semuanya, segalanya, demi sesosok cinta di dalam sana.
Bunda, seperti ucapanmu bahwa do'a seorang bunda seperti tuah, seperti bisa, selalu ampuh. Maka aku memohon kepadamu, do'akan agar amanah Allah yang tengah ku kandung baik-baik saja. Pintakan kepada Allah, agar si kecil tumbuh dengan sempurna. Aku juga selalu berdoa untuk amanah ini, do'a yang bunda sendiri ajarkan,
"Ya Allah, lindungilah ia yang berada di rahim hamba, jadikanlah ia dalam keadaan baik, bentuk yang sempurna, rupa yang elok, dan teguhkanlah kelak dan hatinya keimanan kepada Mu, mengikuti sunnah Rasul Muhammad, berikanlah kebaikan untuknya di dunia dan akhirat."
Aku sayang bunda. Sungguh. Meski aku tahu sayang ini hanya seujung kuku dari bentang cakrawala cinta terindahmu. Meski sangat nyata rindu ini hanya setitik kecil di samudera penantianmu. Meski sangat jelas, ingatan kepada bunda bukanlah apa-apa dibanding semua yang bunda lakukan. Pengorbanan, ketulusan, kasih sayang, sujud-sujud bunda, bahkan air mata kesedihan. Tak tertebus. Tanpa batas. Semoga Allah sajalah yang membalas itu semua. Surga.
Bunda, sudah berapa lama kita tidak bertemu. Rindu padamu bunda, membumbung tinggi. Bunda, perkenankan aku bersimpuh dari jauh. Dalam gundah. Dalam lelah. Di setiap detak tak tentu. Serta dalam degup yang menderu. Ingin kusampaikan untai kata ini di gendang telinga mu "Bunda, rindu ini melangit lagi!"
***
Husnul Mubarikah
Friday, December 17, 2004
Vaksinasi
Semalem baca buku "Yang Orangtua Harus Tahu ttg Vaksinasi pada Anak" nya Stephanie Cave, M.D. & Deborah Mitchell, blom selesai sih, baru bab-bab awal malah. Tapi astaghfirullah, cukup untuk memberikan gambaran betapa banyak "sisi gelap" vaksinasi yang selama ini kita enggak tahu.
Selama ini sih vaksinasi yang dikasih ke Abrar selalu berdasar recommend dsa-nya. Vaksin apa aja yang mo ' dikasih & kapan jadwalnya, kalaupun ada yang masih ragu-ragu, mis MMR, emang belum sih, dsa juga ga maksa.
Waktu denger "kabar burung" vaksinasi memicu timbulnya autis, dan bla bla bla....sempet kuwatir juga sih....tapi seiring berjalannya waktu kekhawatiran itu makin menipis, apalagi dsa juga ngasih penjelasan yang "melegakan".
But who knows, ternyata selain isu autis, ada begitu banyak resiko vaksinasi yang kita belum tahu, termasuk berbagai kandungan berbahaya dalam vaksin yang sama sekali kita buta. Satu analogi sederhana, kita mati-matian menjaga anak-anak kita agar terhindar dari debu, asap rokok, asap kendaraan, yang kita tahu mengandung berbagai bahan beracun, tapi kita dengan sukarela "memasukkan" bahan-bahan beracun pula ke tubuh anak-anak kita ?
Ada pilihan lain gak sih ?
Satu hal yang bikin aku bener-bener "TERCENGANG" tadi malam, bahwa sejak tahun 2000 vaksin polio oral ternyata di Amerika sudah tidak dibolehkan diberikan pada bayi karena terbukti memicu timbulnya polio sebanyak 10 kasus per tahun, tapi kenapa Abrar yang lahir tanggal 16 Agustus 2003 masih dikasih vaksin polio secara oral ? Kenapa kita enggak dikasih alternatif ?
Ugh, bingung aku......
Alhamdulillah, sampai saat ini Abrarku baik-baik saja ( dan sejak semalem, aku nambah porsi doaku buat Abrar, semoga dia tetap sehat, cerdas, dan ceria, semoga kelak dia jadi anak lelaki yang kuat fisik dan sholeh batinnya amiiinnn, )
Tapi tak urung buku itu membuat keputusan vaksinasi Abrar selanjutnya jadi sulit, ahh tapi gak boleh bilang gitu, bukunya kan belum selesai dibaca, hehehe.......
Tadinya buku itu ada di tumpukan buku yang "mau" dibaca, tapi kayaknya harus dipindah ke buku yang "wajib" dibaca, hehehe
Jadi semakin memacu semangat baca nih, dalam setahun ini baru berapa buku yang aku baca ya ? :D
Buat temen-temen yang punya atau mau punya baby, buku itu bagus lho.....boleh pinjem kok, tapi nunggu selesai dibaca dulu ya dan jangan lupa dikembaliin !!!!!!!!!
Selama ini sih vaksinasi yang dikasih ke Abrar selalu berdasar recommend dsa-nya. Vaksin apa aja yang mo ' dikasih & kapan jadwalnya, kalaupun ada yang masih ragu-ragu, mis MMR, emang belum sih, dsa juga ga maksa.
Waktu denger "kabar burung" vaksinasi memicu timbulnya autis, dan bla bla bla....sempet kuwatir juga sih....tapi seiring berjalannya waktu kekhawatiran itu makin menipis, apalagi dsa juga ngasih penjelasan yang "melegakan".
But who knows, ternyata selain isu autis, ada begitu banyak resiko vaksinasi yang kita belum tahu, termasuk berbagai kandungan berbahaya dalam vaksin yang sama sekali kita buta. Satu analogi sederhana, kita mati-matian menjaga anak-anak kita agar terhindar dari debu, asap rokok, asap kendaraan, yang kita tahu mengandung berbagai bahan beracun, tapi kita dengan sukarela "memasukkan" bahan-bahan beracun pula ke tubuh anak-anak kita ?
Ada pilihan lain gak sih ?
Satu hal yang bikin aku bener-bener "TERCENGANG" tadi malam, bahwa sejak tahun 2000 vaksin polio oral ternyata di Amerika sudah tidak dibolehkan diberikan pada bayi karena terbukti memicu timbulnya polio sebanyak 10 kasus per tahun, tapi kenapa Abrar yang lahir tanggal 16 Agustus 2003 masih dikasih vaksin polio secara oral ? Kenapa kita enggak dikasih alternatif ?
Ugh, bingung aku......
Alhamdulillah, sampai saat ini Abrarku baik-baik saja ( dan sejak semalem, aku nambah porsi doaku buat Abrar, semoga dia tetap sehat, cerdas, dan ceria, semoga kelak dia jadi anak lelaki yang kuat fisik dan sholeh batinnya amiiinnn, )
Tapi tak urung buku itu membuat keputusan vaksinasi Abrar selanjutnya jadi sulit, ahh tapi gak boleh bilang gitu, bukunya kan belum selesai dibaca, hehehe.......
Tadinya buku itu ada di tumpukan buku yang "mau" dibaca, tapi kayaknya harus dipindah ke buku yang "wajib" dibaca, hehehe
Jadi semakin memacu semangat baca nih, dalam setahun ini baru berapa buku yang aku baca ya ? :D
Buat temen-temen yang punya atau mau punya baby, buku itu bagus lho.....boleh pinjem kok, tapi nunggu selesai dibaca dulu ya dan jangan lupa dikembaliin !!!!!!!!!
Thursday, December 16, 2004
Buruk Sangka
Sabtu pagi kemaren, aku, Abie, Abrar, dan Budhe jalan ke Lebak Bulus. Nggak ada yang mau mudik sih, tapi mau ngambil kiriman dari Pacitan yang dititipin bus. Sekalian mo' ngirim paket juga. Jadi biar ke Lebak Bulusnya enggak rugi, sekalian ngirim juga :D
KIta udah pesen-pesen nih sama kenek busnya, plus ngasih ongkos ke dia, trus pulang deh. Nyampe di tempat parkir, kiriman dari Bapak langsung dibongkarrrrr, nggak sabar pengen nyicipin jambu air nya....wahhh jambu air nya enakk banget dehhh, biarpun Bapak bilang jambunya kecil-kecil, tetep aja guedhe, walaupun katanya nggak manis gara-gara udah sering turun hujan, tetep aja rasanya manis, heran ya, hehehe.
Bapak lebih seneng ngirim paket via bus, karena cepet, hari ini dititipin, besok pagi dah nyampe. Jadi Ibuk bisa nitipin lauk juga buat si Abrar, ada ayam yang udah dibumbuin, hati sapi, empal daging, wahhh, nyam nyam nyam, makasih ya Buk....Eh, baju-baju Abrar yang ketinggalan ternyata juga ada.
Minggu pagi, aku nelpon Bapak, katanya paketnya blum nyampe....nelpon lagi sore, blum nyampe juga, Senin pagi, belom juga, siangnya belom juga........wahhhh ada yang nggak beres nih....
Awalnya kita nyalahin keneknya tuh, pasti dia yang lupa, terus gimana dong klo barangnya ada di bagasi trus kebawa lagi ke Jakarta ? Wahhhh, jangan dehh.......Apalagi klo sampe hilang, hiks......
Isinya lumayan sih, ada kado buat si Tante Bella ( sepupuku yang umur 3 tahun, tetep harus dipanggil Tante kan sama Abrar....ini yang paling susah nyarinya, isinya buku cerita sama mainan ), 4 kardus susu low fat buat Bapak Ibuk, brownies 3 biji, celana pendek buat Bapak ( padahal di sana juga banyak), trus foto-foto pas lebaran kemaren, whuaaaa bener-bener sedih deh klo sampe hilang...
Akhirnya Abie nelpon ke Lebak Bulus, katanya bus yang kita cari enggak jalan ke Jakarta, wahhh kita dah seneng tuh, berarti busnya ada di Pacitan, lebih gampang kan nyarinya ?
Terus nelpon ke Ngadirojo, kita dapet berita mengejutkannnn, ternyata busnya mogok di perjalanan Jakarta - Pacitan, waduh.....tapi si bapak yang di telpon janji mau bantuin nyari paketnya....
Febri yang baru pulang dari Solo diminta mampir ke Ngadirojo sama Ibuk, sorenya dia nelpon, alhamdulillah paketnya ketemu.......hehe, seneng deh......
Kata Febri malah paketnya udah dinaikin di mobil pick up, mau dianterin ke rumah, padahal jarak rumah ke pool bus nya sekitar 1 jam perjalanan, baek banget ya kenek nya, dia juga sempet minta maaf.
Astaghfirullah, udah buruk sangka nih beberapa hari ini.
Kasihan banget ya keneknya disalah salahin terus, padahal busnya yang bermasalah....
Hari ini aku belajar satu hal, "jangan gampang berburuk sangka"
KIta udah pesen-pesen nih sama kenek busnya, plus ngasih ongkos ke dia, trus pulang deh. Nyampe di tempat parkir, kiriman dari Bapak langsung dibongkarrrrr, nggak sabar pengen nyicipin jambu air nya....wahhh jambu air nya enakk banget dehhh, biarpun Bapak bilang jambunya kecil-kecil, tetep aja guedhe, walaupun katanya nggak manis gara-gara udah sering turun hujan, tetep aja rasanya manis, heran ya, hehehe.
Bapak lebih seneng ngirim paket via bus, karena cepet, hari ini dititipin, besok pagi dah nyampe. Jadi Ibuk bisa nitipin lauk juga buat si Abrar, ada ayam yang udah dibumbuin, hati sapi, empal daging, wahhh, nyam nyam nyam, makasih ya Buk....Eh, baju-baju Abrar yang ketinggalan ternyata juga ada.
Minggu pagi, aku nelpon Bapak, katanya paketnya blum nyampe....nelpon lagi sore, blum nyampe juga, Senin pagi, belom juga, siangnya belom juga........wahhhh ada yang nggak beres nih....
Awalnya kita nyalahin keneknya tuh, pasti dia yang lupa, terus gimana dong klo barangnya ada di bagasi trus kebawa lagi ke Jakarta ? Wahhhh, jangan dehh.......Apalagi klo sampe hilang, hiks......
Isinya lumayan sih, ada kado buat si Tante Bella ( sepupuku yang umur 3 tahun, tetep harus dipanggil Tante kan sama Abrar....ini yang paling susah nyarinya, isinya buku cerita sama mainan ), 4 kardus susu low fat buat Bapak Ibuk, brownies 3 biji, celana pendek buat Bapak ( padahal di sana juga banyak), trus foto-foto pas lebaran kemaren, whuaaaa bener-bener sedih deh klo sampe hilang...
Akhirnya Abie nelpon ke Lebak Bulus, katanya bus yang kita cari enggak jalan ke Jakarta, wahhh kita dah seneng tuh, berarti busnya ada di Pacitan, lebih gampang kan nyarinya ?
Terus nelpon ke Ngadirojo, kita dapet berita mengejutkannnn, ternyata busnya mogok di perjalanan Jakarta - Pacitan, waduh.....tapi si bapak yang di telpon janji mau bantuin nyari paketnya....
Febri yang baru pulang dari Solo diminta mampir ke Ngadirojo sama Ibuk, sorenya dia nelpon, alhamdulillah paketnya ketemu.......hehe, seneng deh......
Kata Febri malah paketnya udah dinaikin di mobil pick up, mau dianterin ke rumah, padahal jarak rumah ke pool bus nya sekitar 1 jam perjalanan, baek banget ya kenek nya, dia juga sempet minta maaf.
Astaghfirullah, udah buruk sangka nih beberapa hari ini.
Kasihan banget ya keneknya disalah salahin terus, padahal busnya yang bermasalah....
Hari ini aku belajar satu hal, "jangan gampang berburuk sangka"
Sunday, December 12, 2004
~ M i L A d ~
Today is my birthday.....ternyata aku udah 23 taun...
Nothing special actually, but my family made it so special.....
Semalam, aku ngobrol berdua sama Abie sampe jam 1 malem....pas jam 12 Abie yang pertama bilang, "Selamat ulang tahun ya Mi, bla..bla...bla", wahhhh makasih ya Bie....
Udah lama banget enggak ngobrol berdua gini, sampe akhirnya kita ngobrol sambil merem saking nahan ngantuk padahal masih pengen ngobrol, hehe
Eh, siangnya kita juga jalan-jalan lho.....kata Abie sih beli kado buat Ummi, hehe
Kadonya istimewa banget, yang pasti udah lama Ummi harapkan, sekali lagi makasih ya Abie....
Sampe' segedhe gini, Bapak - Ibuk - Febri enggak pernah lupa nelpon untuk bilang selamat ulang tahun....dan sederet doa yang kudengar seksama dengan penuh haru....alhamdulillah ya Robbi, Kauhadirkan aku ke dunia ini melalui mereka....begitu besar perhatian mereka sampe untuk hal-hal kecil sekalipun...sampe pernah aku nanya sama Ibuk, "Buk, bisa enggak ya kelak aku memperlakukan Abrar seperti Ibuk memperlakukan aku ? ", dan Ibuk dengan optimis menjawab, "Insya Allah, pasti bisa........."
Nothing special actually, but my family made it so special.....
Semalam, aku ngobrol berdua sama Abie sampe jam 1 malem....pas jam 12 Abie yang pertama bilang, "Selamat ulang tahun ya Mi, bla..bla...bla", wahhhh makasih ya Bie....
Udah lama banget enggak ngobrol berdua gini, sampe akhirnya kita ngobrol sambil merem saking nahan ngantuk padahal masih pengen ngobrol, hehe
Eh, siangnya kita juga jalan-jalan lho.....kata Abie sih beli kado buat Ummi, hehe
Kadonya istimewa banget, yang pasti udah lama Ummi harapkan, sekali lagi makasih ya Abie....
Sampe' segedhe gini, Bapak - Ibuk - Febri enggak pernah lupa nelpon untuk bilang selamat ulang tahun....dan sederet doa yang kudengar seksama dengan penuh haru....alhamdulillah ya Robbi, Kauhadirkan aku ke dunia ini melalui mereka....begitu besar perhatian mereka sampe untuk hal-hal kecil sekalipun...sampe pernah aku nanya sama Ibuk, "Buk, bisa enggak ya kelak aku memperlakukan Abrar seperti Ibuk memperlakukan aku ? ", dan Ibuk dengan optimis menjawab, "Insya Allah, pasti bisa........."
Saturday, December 11, 2004
Asma dan Mimpi
Hari ini berangkat kantor sambil gedubrak-gedubruk, semalem tidur enggak nyenyak gara-gara asma kambuh. Padahal sorenya sempet ngobrol sama Ibuk di telpon, "tenang aja Buk, asmaku udah lama nggak kambuh kok..." ugh astagfirullah....ternyata malemnya kambuh :D.
Kasihan si Abie, harus bolak balik dibangunin, yang minta diambilin minum lah, minta minyak angin lah, minta ngelonin Abrar lah....sebenernya ada satu lagi sih, minta dipijitin ( biasanya si asma mereda klo udah dipijit Abie ) tapi Abie kayaknya capeeeeee' banget, ya udah lah.....
Akhirnya bisa tidur juga sambil meringkuk di sebelah Abrar yang udah pules.....tapi kayaknya lupa enggak baca doa, jadinya mimpi serem deh....mimpiin Bapak, mimpi kebanjiran, mobil mogok whuaaaaaaaaa!!!!!!!!!
Sampe agak siang ini masih keinget terus sama Bapak, Bapak kangen sama aku kali yaaaaa...makanya nyetrum, hihi
Tapi kalo ditanyain, Bapak pasti bilang, "Ge er ah, Bapak enggak kangen kamu kok", hehe, tapi Bapak pasti guyonnnnnn.......kulo nggih kangen kok Pak....
Kasihan si Abie, harus bolak balik dibangunin, yang minta diambilin minum lah, minta minyak angin lah, minta ngelonin Abrar lah....sebenernya ada satu lagi sih, minta dipijitin ( biasanya si asma mereda klo udah dipijit Abie ) tapi Abie kayaknya capeeeeee' banget, ya udah lah.....
Akhirnya bisa tidur juga sambil meringkuk di sebelah Abrar yang udah pules.....tapi kayaknya lupa enggak baca doa, jadinya mimpi serem deh....mimpiin Bapak, mimpi kebanjiran, mobil mogok whuaaaaaaaaa!!!!!!!!!
Sampe agak siang ini masih keinget terus sama Bapak, Bapak kangen sama aku kali yaaaaa...makanya nyetrum, hihi
Tapi kalo ditanyain, Bapak pasti bilang, "Ge er ah, Bapak enggak kangen kamu kok", hehe, tapi Bapak pasti guyonnnnnn.......kulo nggih kangen kok Pak....
Thursday, December 09, 2004
100% : 2 = 100% ???
Hari ini Abrar blom bangun waktu brangkat ke kantor. Hiks...sedih deh, kayaknya ada yang hilang, enggak denger suara cadelnya nyanyi, "Uu caca' tua....", sama lambaian tangannya, "da daaaaa....".
Ya Allah...he's the most precious gift to my life....dia selalu membuatku bersyukur betapa besar nikmat yang tlah Kau curahkan bagiku.....( perasaan dulu sebelum ada Abrar, Abi nya yang menempati posisi "the most precious", tapi kok sekarang berubah ya, hehe...But don't worry Abi, rumus cinta itu berlaku juga buat Ummi kok, cinta 100% itu bukan jadi 50% klo dibagi dua, tapi jadi 100% X 2 !!!!)
Udah kangen berat nih....padahal nanti harus langsung ke kampus. Ada kuis lagi, enggak bisa nitip absen....Duuhhh, jangan bobo' dulu ya Dhek....tungguin Ummi pulang ya Sayang.....
Subscribe to:
Posts (Atom)