Dua bulan terakhir ini ummi rajin mencari "ilmu" tentang kesehatan anak. Sebelumnya ummi juga suka cari info kesana kemari tentang hal itu, tapi belum seintens belakangan ini. Bila sebelumnya ummi hanya sibuk cari info sana-sini just in cases yang ummi hadapi, sekarang apa pun ummi coba perdalam. Bila dulu hanya dengan satu atau dua narasumber ummi sudah cukup puas, sekarang ummi berusaha mencari lebih banyak referensi. Penyesalan demi penyesalan pun datang bertubi-tubi, ummi merasa bersalah atas sekian banyak ketidakmengertian ummi yang sangat berpengaruh pada treatment ummi pada Abrar saat Abrar sakit, pun soal berbagai vaksinasi dan tetek bengek perawatan kesehatan Abrar. Ummi pun bersyukur, Allah telah memberi kesempatan ummi untuk belajar dan memperbaiki diri, memang ya become a mother is a never ending process, must be trying hard to be better....and better.
Saat ke DSA pun, terasa bedanya sebelum dan setelah ummi "ngerti". Terasa sekali DSA terkesan "mendikte" bila kita tak punya dasar ilmu yang memadai, sangat berbeda apabila kita punya dasar ilmu yang cukup, DSA akan memperlakukan kita as a partner, whuiihh.
Itu baru satu ilmu, kesehatan anak, belum yang lain, pendidikan, psikologi, dst dst, semuanya harus kita pelajari, kalau kita gagal, bukan halnya gagal menempuh suatu ujian dengan konsekuensi nilai jelek atau bahkan menunda kelulusan, tapi masa depan anak kita yang dipertaruhkan, mereka benar-benar bergantung pada kita, ibunya......
Begitulah, begitu berat beban yang dipikul seorang ibu, jangan pernah berhenti menjalani proses belajar, sampai kapanpun, be a smart mom !
Monday, May 16, 2005
Wednesday, May 04, 2005
A Need of Books
Sejak awal memperkenalkan buku pada Abrar, tujuan ummi hanya agar Abrar suka buku dan punya ketergantungan terhadap buku. Bisa membaca pada usia dini bukan harapan ummi, toh suatu saat Abrar pasti akan bisa kalau udah waktunya, dan kalau seorang anak udah punya "bonding" sama buku, membaca insya Allah bukan hal yang sulit nantinya.
Ummi jadi inget waktu ummi antusias mengenalkan kata-kata pada Abrar lewat flashcards. Abi protes, enggak setuju, terlalu memaksa Abrar katanya. Dan sepertinya memang benar, Abrar bukan tipe anak yang mau duduk manis, walaupun hanya 5 menit. Mungkin pendapat orang tua lain akan berbeda, ummi menghargai keinginan abi dan beranggapan alasannya wajar. Toh dengan membacakan buku saja insya Allah stimulasi yang Abrar dapet sudah mencukupi.
Umur Abrar sekarang 21 bulan, udah besar ya. Dan kebutuhan Abrar akan buku mulai tampak. Saat-saat tententu ummi pernah kecewa, kadang Abrar seperti enggak merhatiin kalo ummi bacain buku, dan ummi tidak memaksa. Akhirnya waktu sebelum tidur menjadi "prime time" untuk baca buku meskipun ummi usahakan tetap membacakannya buku di saat lain. Saat itu Abrar udah rileks, perhatiannya nggak terpecah kemana-mana, hanya ada Abrar dan ummi ( tentu saja ada pasukan pengantar tidurnya juga, hehehe ).
Pernah suatu ketika ummi pura-pura enggak akan bacain dia buku, ternyata dia langsung bilang, "ummi, ambil buku"...subhanallah, akhirnya dia merasa buku itu sebuah kebutuhan.
Akhir-akhir ini ummi merasa ada yang salah dengan program membaca ummi dan Abrar. Pertama, waktu membaca berdua dengan Abrar tidak sebanyak dulu, mungkin karena kesibukan kuliah ummi, dan mobilitas Abrar yang makin banyak. Susah meminta Abrar duduk sebentar untuk membaca, kecuali dia menginginkannya sendiri. Kedua, ummi dan abi jarang memberi teladan bahwa ummi dan abi pun suka buku. Ini dia yang susah, hehe, lagi-lagi sepertinya waktu kendalanya. Seringnya pun, ummi baca buku atau majalah kalau Abrar udah tidur, gimana dia bisa lihat ya, hehehe.
Lagi-lagi, kita para orangtua muda yang belum berpengalaman, hehe, seringkali mencanangkan program yang sebenarnya bagus atau mungkin terlalu whuaaahhh, tapi tidak optimal menerapkannya. Kadang-kadang kita ingin memberikan anak kita yang "ter" segalanya, terbaik, teroptimal, namun saat tiba waktu untuk mempraktekkannya, hanya sisa tenaga yang kita gunakan, begitupun saat kita beribadah pada-Nya.
Ummi jadi inget waktu ummi antusias mengenalkan kata-kata pada Abrar lewat flashcards. Abi protes, enggak setuju, terlalu memaksa Abrar katanya. Dan sepertinya memang benar, Abrar bukan tipe anak yang mau duduk manis, walaupun hanya 5 menit. Mungkin pendapat orang tua lain akan berbeda, ummi menghargai keinginan abi dan beranggapan alasannya wajar. Toh dengan membacakan buku saja insya Allah stimulasi yang Abrar dapet sudah mencukupi.
Umur Abrar sekarang 21 bulan, udah besar ya. Dan kebutuhan Abrar akan buku mulai tampak. Saat-saat tententu ummi pernah kecewa, kadang Abrar seperti enggak merhatiin kalo ummi bacain buku, dan ummi tidak memaksa. Akhirnya waktu sebelum tidur menjadi "prime time" untuk baca buku meskipun ummi usahakan tetap membacakannya buku di saat lain. Saat itu Abrar udah rileks, perhatiannya nggak terpecah kemana-mana, hanya ada Abrar dan ummi ( tentu saja ada pasukan pengantar tidurnya juga, hehehe ).
Pernah suatu ketika ummi pura-pura enggak akan bacain dia buku, ternyata dia langsung bilang, "ummi, ambil buku"...subhanallah, akhirnya dia merasa buku itu sebuah kebutuhan.
Akhir-akhir ini ummi merasa ada yang salah dengan program membaca ummi dan Abrar. Pertama, waktu membaca berdua dengan Abrar tidak sebanyak dulu, mungkin karena kesibukan kuliah ummi, dan mobilitas Abrar yang makin banyak. Susah meminta Abrar duduk sebentar untuk membaca, kecuali dia menginginkannya sendiri. Kedua, ummi dan abi jarang memberi teladan bahwa ummi dan abi pun suka buku. Ini dia yang susah, hehe, lagi-lagi sepertinya waktu kendalanya. Seringnya pun, ummi baca buku atau majalah kalau Abrar udah tidur, gimana dia bisa lihat ya, hehehe.
Lagi-lagi, kita para orangtua muda yang belum berpengalaman, hehe, seringkali mencanangkan program yang sebenarnya bagus atau mungkin terlalu whuaaahhh, tapi tidak optimal menerapkannya. Kadang-kadang kita ingin memberikan anak kita yang "ter" segalanya, terbaik, teroptimal, namun saat tiba waktu untuk mempraktekkannya, hanya sisa tenaga yang kita gunakan, begitupun saat kita beribadah pada-Nya.
Tuesday, May 03, 2005
Maut
Pak Zaenal, tetangga sebelah, meninggal dunia tadi malam, innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.
Jerit tangis istri dan keluarganya masih tergiang di telinga. Meskipun beliau sudah lama mengidap sakit diabetes, tapi tentu tak satupun keluarganya yang menyangka, secepat itu malaikat maut menjemputnya.
Ada penyesalan mendalam di hati ummi, penyesalan yang mendorong umi menguntai sebanyak mungkin permohonan ampun, astagfirullah, ampuni aku ya Allah.....
Ummi belum menengok beliau, baru sempet nanyain kabar beliau ke putri-putrinya. Jeruk yang ummi beli buat beliau, masih tersimpan utuh di lemari es, menunggu ditenteng menemuinya, tapi tak akan pernah terjadi....
Terus terang, ummi menganggap beliau sakit biasa, bukan sakit parah yang mengharuskan ummi harus segera mengunjunginya. Ummi berpikir, hampir sama dengan asam urat Eyang Ti samping rumah yang kambuh, atau tekanan darah Mbah Istiyono yang tiba-tiba tinggi, yang akan segera sembuh dalam satu dua hari. Ummi berpikir, masih ada hari esok untuk berkunjung, mungkin setelah ujian tengah semester selesai, atau setelah Abrar puas menerima limpahan kasih ummi setelah ditinggal seharian, atau setelah pekerjaan rumah usai dikerjakan.
Sungguh, ummi sangat menyesal.
Saat denyut nadi Pak Zaenal masih terasa ( kata dokter yang dipanggil untuk melihat keadaan beliau), ummi berdoa, ya Allah, jangan kau ambil beliau sekarang, jangan ya Allah, aku belum menengoknya, belum menghiburnya....
Tapi memang sudah waktunya, tidak ada yang akan bisa mencegahnya
Lalu ummi pun tertegun, malam ini malaikat maut datang ke tetanggaku, mungkin selanjutnya aku, suamiku, anakku, orangtuaku, mertuaku ?
Lalu saat aku tiba, akankah amalku sanggup menemani dalam kesendirianku ?
Aku akan sendiri, mempertanggungjawabkan semuanya sendiri, benar-benar sendiri
Tanpa abie, tanpa Abrar, tanpa teman....
Pak Zaenal memang belum lama ummi kenal, bahkan mungkin belum pernah ummi kenal, karena kami sangat jarang berbincang...tapi akhir kehidupannya benar benar meninggalkan pelajaran, jangan pernah menunda sedetikpun untuk suatu kebaikan yang bisa kaulakukan, dan jangan pernah beranggapan waktu kita berada di dunia ini masih lama, mungkin tahun depan, 2 minggu yang akan datang, senin depan, 3 jam lagi, atau bahkan sepuluh menit lagi, adalah saat kita menemui-Nya.
~Maafkan saya Pak~
~Allahumagfirlahu warhamhu waafihu wafuanhu~
~Ya Allah, jadikanlah saat pertemuanku dengan-Mu, adalah saat terindah bagiku~
Jerit tangis istri dan keluarganya masih tergiang di telinga. Meskipun beliau sudah lama mengidap sakit diabetes, tapi tentu tak satupun keluarganya yang menyangka, secepat itu malaikat maut menjemputnya.
Ada penyesalan mendalam di hati ummi, penyesalan yang mendorong umi menguntai sebanyak mungkin permohonan ampun, astagfirullah, ampuni aku ya Allah.....
Ummi belum menengok beliau, baru sempet nanyain kabar beliau ke putri-putrinya. Jeruk yang ummi beli buat beliau, masih tersimpan utuh di lemari es, menunggu ditenteng menemuinya, tapi tak akan pernah terjadi....
Terus terang, ummi menganggap beliau sakit biasa, bukan sakit parah yang mengharuskan ummi harus segera mengunjunginya. Ummi berpikir, hampir sama dengan asam urat Eyang Ti samping rumah yang kambuh, atau tekanan darah Mbah Istiyono yang tiba-tiba tinggi, yang akan segera sembuh dalam satu dua hari. Ummi berpikir, masih ada hari esok untuk berkunjung, mungkin setelah ujian tengah semester selesai, atau setelah Abrar puas menerima limpahan kasih ummi setelah ditinggal seharian, atau setelah pekerjaan rumah usai dikerjakan.
Sungguh, ummi sangat menyesal.
Saat denyut nadi Pak Zaenal masih terasa ( kata dokter yang dipanggil untuk melihat keadaan beliau), ummi berdoa, ya Allah, jangan kau ambil beliau sekarang, jangan ya Allah, aku belum menengoknya, belum menghiburnya....
Tapi memang sudah waktunya, tidak ada yang akan bisa mencegahnya
Lalu ummi pun tertegun, malam ini malaikat maut datang ke tetanggaku, mungkin selanjutnya aku, suamiku, anakku, orangtuaku, mertuaku ?
Lalu saat aku tiba, akankah amalku sanggup menemani dalam kesendirianku ?
Aku akan sendiri, mempertanggungjawabkan semuanya sendiri, benar-benar sendiri
Tanpa abie, tanpa Abrar, tanpa teman....
Pak Zaenal memang belum lama ummi kenal, bahkan mungkin belum pernah ummi kenal, karena kami sangat jarang berbincang...tapi akhir kehidupannya benar benar meninggalkan pelajaran, jangan pernah menunda sedetikpun untuk suatu kebaikan yang bisa kaulakukan, dan jangan pernah beranggapan waktu kita berada di dunia ini masih lama, mungkin tahun depan, 2 minggu yang akan datang, senin depan, 3 jam lagi, atau bahkan sepuluh menit lagi, adalah saat kita menemui-Nya.
~Maafkan saya Pak~
~Allahumagfirlahu warhamhu waafihu wafuanhu~
~Ya Allah, jadikanlah saat pertemuanku dengan-Mu, adalah saat terindah bagiku~
Subscribe to:
Posts (Atom)