Tuesday, May 03, 2005

Maut

Pak Zaenal, tetangga sebelah, meninggal dunia tadi malam, innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.
Jerit tangis istri dan keluarganya masih tergiang di telinga. Meskipun beliau sudah lama mengidap sakit diabetes, tapi tentu tak satupun keluarganya yang menyangka, secepat itu malaikat maut menjemputnya.
Ada penyesalan mendalam di hati ummi, penyesalan yang mendorong umi menguntai sebanyak mungkin permohonan ampun, astagfirullah, ampuni aku ya Allah.....
Ummi belum menengok beliau, baru sempet nanyain kabar beliau ke putri-putrinya. Jeruk yang ummi beli buat beliau, masih tersimpan utuh di lemari es, menunggu ditenteng menemuinya, tapi tak akan pernah terjadi....
Terus terang, ummi menganggap beliau sakit biasa, bukan sakit parah yang mengharuskan ummi harus segera mengunjunginya. Ummi berpikir, hampir sama dengan asam urat Eyang Ti samping rumah yang kambuh, atau tekanan darah Mbah Istiyono yang tiba-tiba tinggi, yang akan segera sembuh dalam satu dua hari. Ummi berpikir, masih ada hari esok untuk berkunjung, mungkin setelah ujian tengah semester selesai, atau setelah Abrar puas menerima limpahan kasih ummi setelah ditinggal seharian, atau setelah pekerjaan rumah usai dikerjakan.
Sungguh, ummi sangat menyesal.
Saat denyut nadi Pak Zaenal masih terasa ( kata dokter yang dipanggil untuk melihat keadaan beliau), ummi berdoa, ya Allah, jangan kau ambil beliau sekarang, jangan ya Allah, aku belum menengoknya, belum menghiburnya....
Tapi memang sudah waktunya, tidak ada yang akan bisa mencegahnya
Lalu ummi pun tertegun, malam ini malaikat maut datang ke tetanggaku, mungkin selanjutnya aku, suamiku, anakku, orangtuaku, mertuaku ?
Lalu saat aku tiba, akankah amalku sanggup menemani dalam kesendirianku ?
Aku akan sendiri, mempertanggungjawabkan semuanya sendiri, benar-benar sendiri
Tanpa abie, tanpa Abrar, tanpa teman....

Pak Zaenal memang belum lama ummi kenal, bahkan mungkin belum pernah ummi kenal, karena kami sangat jarang berbincang...tapi akhir kehidupannya benar benar meninggalkan pelajaran, jangan pernah menunda sedetikpun untuk suatu kebaikan yang bisa kaulakukan, dan jangan pernah beranggapan waktu kita berada di dunia ini masih lama, mungkin tahun depan, 2 minggu yang akan datang, senin depan, 3 jam lagi, atau bahkan sepuluh menit lagi, adalah saat kita menemui-Nya.

~Maafkan saya Pak~
~Allahumagfirlahu warhamhu waafihu wafuanhu~
~Ya Allah, jadikanlah saat pertemuanku dengan-Mu, adalah saat terindah bagiku~

No comments: