Beberapa bulan lalu, kudengar kabar gembira itu, dengan penuh harap dan suka cita
Aku bertekad dalam hati, harus kubenahi diri, semaksimal mungkin
Membulatkan niat, perjalananku nanti karena-Mu semata, tanpa satupun embel-embel keduniaan
Lalu, hari-hariku berlalu sangat cepat
Tekad itupun meluntur
Aku masih menjalani waktu seperti biasa
Sholat di akhir waktu, tilawah yang makin jarang dan tak berkualitas
Sholat malam yang bisa dihitung dengan jari
Puasa sunah yang makin kutinggalkan
Bahkan, aku mengabaikan meminta satu hal itu pada-Mu
Aku merasa kesempatan ini kesempatan biasa, siapapun pasti bisa mendapatkannya
Dan kali ini kesempatan itu jatuh padaku
Lalu, semakin dekat dengan jadwal keberangkatan
Kami harus menunggu keputusan dalam ketidakpastian
Saat itu aku baru sadar, ingat kata-kata orang
Bahwa panggilan itu, murni hak-Mu
Siapapun yang "merasa" sudah mendapat kesempatan, belum tentu bisa berangkat bila belum mendapat "undangan resmi" dari-Mu
Banyak alasannya, tak tersedianya kursi, sakit, hamil, halangan lain, bahkan mungkin meninggal !!
Lalu aku pun merasa menjadi orang paling malang sedunia
Merasa malang, karena aku melalaikan kesempatan ini
Melalaikan kesempatan memperbaiki diri dan memohon dengan sepenuh hati kepada-Mu agar berkenan memberikan undangan itu
Namun di sisi lain, akupun tak berani memohon kepada-Mu
Aku merasa tak pantas mendapatkan "undangan" itu dengan kualitas ibadahku yang pas-pasan selama ini
Akhirnya, surat pemberitahuan itupun tiba
Bahwa kami tidak bisa berangkat kali ini karena keterbatasan kuota
Saat itu aku merasa sedih luar biasa, sedihhh
Akankah Allah memberikan undangan itu pada kesempatan berikutnya ?
Ataukah menundanya lagi ?
Atau mungkin tidak memberikannya sama sekali ?
Tapi beberapa waktu kemudian, aku bahagia
Karena menyadari betapa aku sebenarnya menginginkannya
Mengharapkannya
Dan merindukannya
Aku pun kembali bertekad
Aku harus bangkit berbenah diri
Dan akan selalu memintanya dalam doa-doaku, sepenuh jiwa
Mohon Ia berkenan memberikan kesempatan itu
Ya Allah,
Berikanlah kami kekuatan untuk memperbaiki diri dan ibadah kami
Berikanlah kami umur yang panjang dan kesehatan
Sampai saat itu tiba
Amin
Wednesday, November 30, 2005
Monday, November 28, 2005
Thursday, November 24, 2005
'till the dream comes true
Akhir-akhir ini keinginan berhenti bekerja makin menguat, mengikat, mengakar, dan menghujam jauh ke dalam relung hati.
Tapi apa daya, semua itu baru sebatas keinginan tanpa daya kekuatan, hanya harapan tanpa kuasa tuk membuatnya tercipta, dan sekedar impian yang tak pernah kutahu kapan menjelma nyata.
Hanya satu yang bisa mewujudkan itu semua, keberanian. Bukan pesangon sekian puluh juta, atau jaminan akan kelangsungan hidup di masa yang akan datang, hanya keberanian !!!
Aku harus berani menghadapi semua tudingan miring orang-orang.
Aku harus berani mengatakan pada orang tua dan keluarga besarku bahwa ini pilihan terbaik untuk hidupku.
Dan aku harus berani meyakinkan diri bahwa Allah semata sumber rejekiku, bukan perusahaan tempatku bekerja selama ini.
Tapi sampai detik ini, aku belum punya keberanian itu.
Terseok-seok aku mengumpulkannya sedikit demi sedikit, satu demi satu, sampai kapan ?
Beri aku kekuatan Ya Allah, kekuatan dan keberanian......
Apalah artinya isak tangis penuh air mata, tanpa dayaku mewujudkan ini semua ?
Dia anakku, kulahirkan dari rahimku
Amanah terbesar dari Mu
Bagaimana sifatnya kelak
Seperti apa budi pekertinya
Sebaik apa ibadahnya
Doa-doa apa yang akan dia lantunkan
Dan sebesar apa cinta dan rindunya pada Mu dan Rasul Mu
Akulah yang akan Kau minta pertanggungjawaban
Bukan pengasuhnya
Lalu bagaimana mungkin aku bisa membimbingnya dan mengajarkan itu semua hanya dalam 4 jam dari 24 jam yang dia miliki dalam sehari ?
Aku berharap dia mencintaiku, menyayangiku, dan selalu menyebutku dalam doa-doanya.
Tapi mungkinkah dia melakukan itu ketika dia merasa betapa sedikitnya waktuku untuknya ?
Ampuni aku Robb, berilah aku kekuatan dan keberanian mewujudkan ini semua.
Tapi apa daya, semua itu baru sebatas keinginan tanpa daya kekuatan, hanya harapan tanpa kuasa tuk membuatnya tercipta, dan sekedar impian yang tak pernah kutahu kapan menjelma nyata.
Hanya satu yang bisa mewujudkan itu semua, keberanian. Bukan pesangon sekian puluh juta, atau jaminan akan kelangsungan hidup di masa yang akan datang, hanya keberanian !!!
Aku harus berani menghadapi semua tudingan miring orang-orang.
Aku harus berani mengatakan pada orang tua dan keluarga besarku bahwa ini pilihan terbaik untuk hidupku.
Dan aku harus berani meyakinkan diri bahwa Allah semata sumber rejekiku, bukan perusahaan tempatku bekerja selama ini.
Tapi sampai detik ini, aku belum punya keberanian itu.
Terseok-seok aku mengumpulkannya sedikit demi sedikit, satu demi satu, sampai kapan ?
Beri aku kekuatan Ya Allah, kekuatan dan keberanian......
Apalah artinya isak tangis penuh air mata, tanpa dayaku mewujudkan ini semua ?
Dia anakku, kulahirkan dari rahimku
Amanah terbesar dari Mu
Bagaimana sifatnya kelak
Seperti apa budi pekertinya
Sebaik apa ibadahnya
Doa-doa apa yang akan dia lantunkan
Dan sebesar apa cinta dan rindunya pada Mu dan Rasul Mu
Akulah yang akan Kau minta pertanggungjawaban
Bukan pengasuhnya
Lalu bagaimana mungkin aku bisa membimbingnya dan mengajarkan itu semua hanya dalam 4 jam dari 24 jam yang dia miliki dalam sehari ?
Aku berharap dia mencintaiku, menyayangiku, dan selalu menyebutku dalam doa-doanya.
Tapi mungkinkah dia melakukan itu ketika dia merasa betapa sedikitnya waktuku untuknya ?
Ampuni aku Robb, berilah aku kekuatan dan keberanian mewujudkan ini semua.
Wednesday, November 23, 2005
Saturday, November 19, 2005
Ketabahanmu.....
Akhir bulan lalu, hari Kamis 27 Okt 2005, Mbak Wiji melahirkan putri pertamanya, Nasyamah Hasna Sabila, dalam usia kandungan 30 minggu, dengan berat lahir hanya 700 gram.
Waktu melihatnya dari balik kaca NICU, hati ini berdegup kencang, Nasya terlihat begitu mungil dan lemah, tapi dia tampak aktif bergerak.
Saat itu aku yakin, Nasya akan bertahan, tumbuh besar seperti anak-anak lain, dan akan saudara perempuan buat Abrar.
Tapi Allah berkehendak lain, Minggu tanggal 30 Nov 2005, pukul 19.20 Allah memanggilnya lagi.
Hanya 4 hari ia merasakan kehidupan dunia ini, lalu kembali pada Dzat yeng menciptakannya.
Satu hal yang membuatku terpana, ketabahan kedua orangtuanya.
Mereka begitu sabar menerima, dengan penuh keimanan.
Ya Allah, jika cobaan ini menimpa hamba, akankah hamba setabah mereka ?
Pasti Allah akan memberikan pengganti yang lebih baik atas ketabahan mereka menghadapi ujian ini.
Waktu melihatnya dari balik kaca NICU, hati ini berdegup kencang, Nasya terlihat begitu mungil dan lemah, tapi dia tampak aktif bergerak.
Saat itu aku yakin, Nasya akan bertahan, tumbuh besar seperti anak-anak lain, dan akan saudara perempuan buat Abrar.
Tapi Allah berkehendak lain, Minggu tanggal 30 Nov 2005, pukul 19.20 Allah memanggilnya lagi.
Hanya 4 hari ia merasakan kehidupan dunia ini, lalu kembali pada Dzat yeng menciptakannya.
Satu hal yang membuatku terpana, ketabahan kedua orangtuanya.
Mereka begitu sabar menerima, dengan penuh keimanan.
Ya Allah, jika cobaan ini menimpa hamba, akankah hamba setabah mereka ?
Pasti Allah akan memberikan pengganti yang lebih baik atas ketabahan mereka menghadapi ujian ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)










