Bulan ini umur Abrar 17 bulan.
Padahal rasanya baru kemaren kita ninggalin rumah sakit habis lahiran, hehe.
Ummi termasuk "agak males" mendokumentasikan perkembangan Abrar, tapi insya Allah ummi inget kok.
Umur 4 bulan, Abrar bisa tengkurap sendiri.
Umur 5 bulan, bisa balik dari tengkurep.
Umur 9 bulan, Abrar bisa merangkak.
Umur 13 bulan, Abrar bisa berjalan dengan lancar.
Umur 17 bulan, udah banyak kata-kata yang bisa Abrar ucapkan : Allah, Allah aba ( Allahu Akbar ), ajid ( masjid ), jatuh, eta ( kereta ) , kuda, mati, mbah kung, mbah ti, bude, pakde, ummi, abi, maem, susu, mandi, minta, makasih, buku, baca, gajah, cicak, ayam, mati, hidup, nyala, bobok, ac, hape, baju, kaki, tangan, mata, hidung, telinga, gigi, kepala, sepatu, saya, jauh, nda ( bundar, bunda ), cici ( kelinci ) dan banyak lagi.
Abrar juga udah bisa nyayiin beberapa lagu walaupun masih cedal cedal dan ada beberapa kata yang bolong; burung kakak tua, topi saya bundar, naek kereta api, satu satu, tidur anakku...
Abrar juga udah bisa lari, senengnya sekarang muter-muter dan jalan mundur...
Abrar bisa berhitung sampe tiga dalam bahasa inggris ( one, two, three ) dan satu sampai tujuh dalam bahasa indonesia ( kurang 3 lagi sampe sepuluh yaa )
Abrar pun udah bisa menunjukkan beberapa anggota tubuh, mata, hidung, mulut, telinga, kepala, tangan, kaki, perut.
Kayaknya nggak cukup kata untuk mengungkapkan betapa mengagumkannya perkembangan Abrar di mata ummi, hanya alhamdulillah yang selalu ummi panjatkan.
Monday, January 17, 2005
Monday, January 10, 2005
Daddy's Steps
Daddy's Steps
"Walk a little slower, Daddy,"
"Walk a little slower, Daddy,"
Said a child so small."
I'm following in your footsteps;
and I do not want to fall.
Sometimes your steps are very fast,
Sometimes they're hard to see.
So walk a little slower, Daddy.
For you are leading me.
Someday when I am all grown up,
You're what I want to be.
Then I will have a little child
Who'll want to follow me.
And I would want to lead just so
And know that I was true.
So walk a little slower, Daddy,
For I must follow you."
author:unknown
Saturday, January 01, 2005
Resign
Ehm, sering lo aku mikir, klo diadain pooling, berapa persen wanita bekerja yang bersedia resign kalau kebutuhan hidupnya terpenuhi. Kebutuhan hidup terpenuhi dalam artian gaji dari suami mencukupi atau ada tunjangan / bantuan dari pemerintah ( mimpi kali yeeeee..... ).
Banyak kali ya, 40% ? 50% ? Atau lebih ?
2 bulan terakhir di tahun 2004, yang terpikir resign melulu.
Sangat sangat dan sangat bertolak belakang dibandingkan saat Abrar baru berumur beberapa bulan.
Wacana resign memang udah muncul dari awal menikah, si Abie paling getol kalo udah ngomongin resign, tapi akhirnya selalu terbentur pada sekian banyak alasan ( yang memang ada, atau diada-adain ? )
Dulu, waktu Abrar umur 3 bulan dan harus ditinggal ngantor, aku sedih bukan main. Tapi begitu Abrar umur 5-6 bulan, mulai muncul perasaan "Ahh biasa, banyak kok anak-anak yang ditinggal kerja sama ibunya. Dan mereka baik-baik aja......"
Aku menikmati saat-saat di rumah bersama Abrar, tapi aku juga enjoy di kantor. Malah kalau Abie ngomongin resign, aku bilang "iya, nanti dipikirin", tapi dalam hati terbayang apa sih enaknya resign, kan bosen di rumah terus.
Tapi itu beberapa bulan lalu........bukan beberapa bulan ini dan bukan hari ini.
Semakin hari, semakin berat ninggalin Abrar ngantor.
Bukan karena dia nggak mau ditinggal, setiap pagi dia justru cium tangan dan melambaikan tangan, tanpa menangis. He's a good little boy.....dia akan selalu bilang "Iya" sambil mengangguk klo dipamitin ke kantor atau ke kampus.
Tapi justru sikap polosnya itu yang membuat aku makin merasa bersalah.
Ya Allah, berapa banyak jatah anakku yang tidak kuberikan ? Betapa besar kedzaliman yang kulakukan padanya ?
Memandikannya ( bukan hanya pagi hari seperti yang kulakukan ), menyuapi, menemani bermain, membacakan buku, menciumnya, memeluknya, membantunya bangun bila ia terjatuh, bertepuk tangan bila ia berhasil melakukan sesuatu yang "hebat"......berapa banyak hal yang seharusnya bisa kulakukan untuknya sepanjang hari ketika aku di kantor ?
Ummi harus segera membulatkan tekat Nak, ummi harus segera memutuskan.......sebelum terlalu berat apa yang harus ummi pertanggungjawabkan.........
To my lovely boy........
Ummi selalu sayang padamu, meski ummi tak selalu bersamamu.....
Banyak kali ya, 40% ? 50% ? Atau lebih ?
2 bulan terakhir di tahun 2004, yang terpikir resign melulu.
Sangat sangat dan sangat bertolak belakang dibandingkan saat Abrar baru berumur beberapa bulan.
Wacana resign memang udah muncul dari awal menikah, si Abie paling getol kalo udah ngomongin resign, tapi akhirnya selalu terbentur pada sekian banyak alasan ( yang memang ada, atau diada-adain ? )
Dulu, waktu Abrar umur 3 bulan dan harus ditinggal ngantor, aku sedih bukan main. Tapi begitu Abrar umur 5-6 bulan, mulai muncul perasaan "Ahh biasa, banyak kok anak-anak yang ditinggal kerja sama ibunya. Dan mereka baik-baik aja......"
Aku menikmati saat-saat di rumah bersama Abrar, tapi aku juga enjoy di kantor. Malah kalau Abie ngomongin resign, aku bilang "iya, nanti dipikirin", tapi dalam hati terbayang apa sih enaknya resign, kan bosen di rumah terus.
Tapi itu beberapa bulan lalu........bukan beberapa bulan ini dan bukan hari ini.
Semakin hari, semakin berat ninggalin Abrar ngantor.
Bukan karena dia nggak mau ditinggal, setiap pagi dia justru cium tangan dan melambaikan tangan, tanpa menangis. He's a good little boy.....dia akan selalu bilang "Iya" sambil mengangguk klo dipamitin ke kantor atau ke kampus.
Tapi justru sikap polosnya itu yang membuat aku makin merasa bersalah.
Ya Allah, berapa banyak jatah anakku yang tidak kuberikan ? Betapa besar kedzaliman yang kulakukan padanya ?
Memandikannya ( bukan hanya pagi hari seperti yang kulakukan ), menyuapi, menemani bermain, membacakan buku, menciumnya, memeluknya, membantunya bangun bila ia terjatuh, bertepuk tangan bila ia berhasil melakukan sesuatu yang "hebat"......berapa banyak hal yang seharusnya bisa kulakukan untuknya sepanjang hari ketika aku di kantor ?
Ummi harus segera membulatkan tekat Nak, ummi harus segera memutuskan.......sebelum terlalu berat apa yang harus ummi pertanggungjawabkan.........
To my lovely boy........
Ummi selalu sayang padamu, meski ummi tak selalu bersamamu.....
Subscribe to:
Posts (Atom)