Minggu kemaren oom Febri kasih kabar, katanya mau sidang TA minggu ini, oom minta doa dari ummi dan abi, biar ujiannya lancar dan lulus dengan hasil yang bagus, insya Allah, semua selalu doain.
Selasa pagi-pagi, ummi nelpon oom Febri dari kantor, katanya oom lagi sarapan, wahhh umi kaget, biasanya kan oom baru sarapan jam 11-an biar enggak tambah gemuk katanya, tapi ini kok jam 7 dah sarapan ??? "Aku stress Mbak", gitu katanya.
Trus Kamis malem, mbah kung nelpon, mbah kung bilang kalo oom Febri kena cacar air, waduh gubrakksss, kasihan kan ? Udah mau ujian, stress, kena cacar air pula, tapi Allah pasti punya tujuan baik di balik semua itu. Tapi abis ditelpon mbah kung itu ummi ga terlalu mikirin, oom Febri itu kan biasanya tahan sakit, lagipula sakitnya kan udah jelas, cacar air, jadi umi ga terlalu khawatir.
Tapi setelah ummi nelpon langsung tadi pagi, ummi jadi sedih dan kepikiran, suaranya lemessssss banget, kelihatan jelas klo lagi nahan sakit, katanya demamnya gak turun-turun dari hari Senin, wahh udah 5 hari, udah bolak balik minum parasetamol tapi bbrp jam kemudian pasti langsung demam lagi, udah gitu oom Febri sekarang lagi di kostan, gak ada yang bisa diandalkan untuk ngurus, mungkin ada temen kost nya, tapi apa ya telaten ? ( mudah-mudahan ada yang telaten ya )
Sampai sore ini oom Febri masih demam, cacarnya mulai muncul di seluruh tubuh, padahal besok pagi oom Febri harus sidang. Rencananya mbah kung & mbah ti mau ke Solo sore ini nengokin oom Febri lagi ( kemaren mbah kung mbah ti dah kesana ), mbah ti enggak tega ninggalin oom Febri sakit sendiri.
Cepet sembuh ya oom, kami semua ikut sedih kalo oom sakit.....
Semoga besok lancar ya sidangnya, dengan hasil yang terbaik, amiinnnn.
Friday, July 29, 2005
Akhirnya, si Lumba-lumba pun bisa mandi....
Seminggu ini abi, ummi dan bude sibuk membujuk Abrar agar "rela" membiarkan boneka lumba-lumbanya dicuci, tapi setiap kali ditanya, jawabannya selalu, "enggak boyeh".
Boneka lumba-lumba warna biru yang jauh lebih besar dari Abrar itu sekarang jadi boneka kesayangan yang sulit digantikan dgn yang lain.
Warnanya kini bukan lagi biru putih cerah seperti saat pertama kali dibeli, tapi menjelma menjadi biru pudar dan abu-abu :D.
Saat Abrar mau bobok, si lumba-lumba harus ada disampingnya sambil sesekali dipeluk dan dicium dengan mesra, duuuhh.
Dan di pagi hari saat bangun tidur, lumba-lumba jadi makhluk pertama yang dicari baru ummi dan abi.
Siang hari saat asyik main pun Abrar bisa tiba-tiba mencari lumba-lumbanya, lalu memeluknya eraaaatttt banget, seperti berbulan-bulan nggak ketemu, hahaha.
Seringkali lumba-lumba juga dijadiin kuda tunggangan yang bisa nganter Abrar mengelilingi dunia imajinasinya.
Atau teman mengobrol yang asyik ( Abrar nanyain beberapa pertanyaan sama si lumba-lumba, lalu dijawabnya sendiri, hehe ).
Itulah sebabnya, kemanapun Abrar pergi, asal memungkinkan si lumba-lumba pasti akan dibawa serta.
Seperti waktu pulang ke rumah mbah ti awal Juli lalu, si lumba-lumba membuat ummi harus membawa travel bag yang besar sekali, padahal barang yang dibawa sebenernya cuma sedikit.
Biasanya sebulan atau dua bulan sekali si lumba-lumba dicuci.
Tapi beberapa bulan ini si lumba-lumba nggak bisa dicuci karena Abrar nggak rela berpisah dengannya seharian.
Awalnya sih enggak masalah, tapi lama-lama si lumba-lumba jadi kelihatan jorok, dekil, dan bau.
Sampai akhirnya, 2 hari yang lalu sebelum bobok tiba-tiba Abrar mengadu, "abi, lumba-lumba bau", katanya.
Abi tertawa, lalu Abi mengusulkan, "gimana kalo besok lumba-lumba mandi, biar bersih dan wangi", "iya" kata Abrar.
Akhirnya setelah melalui proses negoisasi yang alot, hehe, pagi ini Abrar memberikan "ijin resmi" pada bude untuk mencuci si lumba-lumba, itupun Abrar harus diyakinkan lebih dulu bahwa dia akan bermain dan tidur siang tanpa si lumba-lumba sampai si lumba-lumba kering sore nanti.
Dan lucunya, sebelum si lumba-lumba masuk ke mesin cuci, Abrar menciumi dan memeluk dia dulu seolah olah enggak tega berpisah, wah wah....
Ummi jadi agak khawatir, takut Abrar jadi ketergantungan dan kecanduan sama si lumba-lumba.
Gimana kalo ternyata suatu saat kami harus pergi ke suatu tempat dan tidak bisa mebawa si lumba-lumba turut serta ?
Boneka lumba-lumba warna biru yang jauh lebih besar dari Abrar itu sekarang jadi boneka kesayangan yang sulit digantikan dgn yang lain.
Warnanya kini bukan lagi biru putih cerah seperti saat pertama kali dibeli, tapi menjelma menjadi biru pudar dan abu-abu :D.
Saat Abrar mau bobok, si lumba-lumba harus ada disampingnya sambil sesekali dipeluk dan dicium dengan mesra, duuuhh.
Dan di pagi hari saat bangun tidur, lumba-lumba jadi makhluk pertama yang dicari baru ummi dan abi.
Siang hari saat asyik main pun Abrar bisa tiba-tiba mencari lumba-lumbanya, lalu memeluknya eraaaatttt banget, seperti berbulan-bulan nggak ketemu, hahaha.
Seringkali lumba-lumba juga dijadiin kuda tunggangan yang bisa nganter Abrar mengelilingi dunia imajinasinya.
Atau teman mengobrol yang asyik ( Abrar nanyain beberapa pertanyaan sama si lumba-lumba, lalu dijawabnya sendiri, hehe ).
Itulah sebabnya, kemanapun Abrar pergi, asal memungkinkan si lumba-lumba pasti akan dibawa serta.
Seperti waktu pulang ke rumah mbah ti awal Juli lalu, si lumba-lumba membuat ummi harus membawa travel bag yang besar sekali, padahal barang yang dibawa sebenernya cuma sedikit.
Biasanya sebulan atau dua bulan sekali si lumba-lumba dicuci.
Tapi beberapa bulan ini si lumba-lumba nggak bisa dicuci karena Abrar nggak rela berpisah dengannya seharian.
Awalnya sih enggak masalah, tapi lama-lama si lumba-lumba jadi kelihatan jorok, dekil, dan bau.
Sampai akhirnya, 2 hari yang lalu sebelum bobok tiba-tiba Abrar mengadu, "abi, lumba-lumba bau", katanya.
Abi tertawa, lalu Abi mengusulkan, "gimana kalo besok lumba-lumba mandi, biar bersih dan wangi", "iya" kata Abrar.
Akhirnya setelah melalui proses negoisasi yang alot, hehe, pagi ini Abrar memberikan "ijin resmi" pada bude untuk mencuci si lumba-lumba, itupun Abrar harus diyakinkan lebih dulu bahwa dia akan bermain dan tidur siang tanpa si lumba-lumba sampai si lumba-lumba kering sore nanti.
Dan lucunya, sebelum si lumba-lumba masuk ke mesin cuci, Abrar menciumi dan memeluk dia dulu seolah olah enggak tega berpisah, wah wah....
Ummi jadi agak khawatir, takut Abrar jadi ketergantungan dan kecanduan sama si lumba-lumba.
Gimana kalo ternyata suatu saat kami harus pergi ke suatu tempat dan tidak bisa mebawa si lumba-lumba turut serta ?
Thursday, July 14, 2005
Rumahku Syurgaku
Akhir-akhir ini entah kenapa banyak sekali temen temen ummi yang membicarakan masalah rumah. Ada yang rumahnya mau direnovasi dan sedang sibuk mencari referensi kesana kemari, ada yang rumahnya selesai direnovasi lengkap dengan foto foto yang menunjukkan rumah yang betul betul indah, ada yang akan segera pindah ke rumah barunya. Mereka semua tentu sedang bergembira dan bersemangat, akan segera menempati rumah baru yang dibeli dan dibangun dengan jerih payah selama bertahun tahun, bahkan mungkin ada yang menyisakan cicilan yang harus dibayarkan sampai beberapa tahun ke depan. Dan dulu, ummi pun pernah merasakan kegembiraan dan semangat itu.
Lalu entah kenapa seiring dengan cerita teman teman itu, rasa syukur perlahan meluntur. Karena satu hal, mereka semua akan segera menempati sebuah rumah indah dan asri di lingkungan perumahan yang biasanya selalu tertata rapi, lengkap dengan jalan-jalan yang lebar dan mulus, taman-taman yang hijau dan segar, atau mungkin juga sportcenter yang bisa diakses kapanpun dengan mudah, karena memang dekat dengan rumah. Selama ini ummi belum pernah merasakan hal-hal itu, karena kami selalu memutuskan membeli rumah di daerah perkampungan, karena alasan-alasan tertentu yang saat itu kami pikir sangat logis dan rasional. Kami seringkali bersilaturahim ke rumah teman-teman kami yang tinggal di daerah perumahan, dan seringkali iri dengan lingkungan yang mereka tempati. Lingkungan yang bersih, tenang, jauh dari polusi, bahkan yang tinggal jauh di pinggiran, udaranya betul betul masih sejuk sekali. Mana ada hal hal seperti itu yang bisa kami rasakan di rumah kami sekarang ?Memang rumah kami sekarang ada di pertengahan kota, di tepi sebuah jalan yang sangat ramai di sore hari, bahkan pada hari Sabtu, Minggu, atau hari hari libur sekolah, keramaian itu bisa berlanjut sampai dini hari. Belum lagi debu yang luar biasa yang membuat kami tak betah membuka pintu rumah berlama-lama, kecuali sebelum jalanan di depan rumah kami guyur dengan air sampai benar benar basah, itupun tak menutup kemungkinan asap knalpot bajaj, motor, dan mobil yang lalu lalang tetap memaksa memasuki setiap lubang yang terbuka. Masalah lain muncul ketika ada tetangga sebelah rumah kami yang menyetel kaset keras-keras atau sedang bergurau dengan anggota keluarganya. Karena memang jarak antar rumah yang tak sampai satu meter. Atau ketika ummi ingin sekedar menanam bunga atau tanaman lain, keinginan begitu besar tapi tidak ada tempat yang memungkinkan, untunglah abi memutuskan membuatkan sebuah rak kayu di teras untuk meletakkan bunga bunga itu, itupun dengan konsekuensi tanamannya lebih cepat mati karena jarang terkena sinar matahari.
Semua alasan itulah yang menyebabkan ummi akhir akhir ini sangat memimpikan mempunyai sebuah rumah di perumahan, lengkap dengan taman yang hijau, halaman belakang tempat bercocok tanam atau memelihara ayam dan kelinci, dan taman bermain dekat rumah yang memungkinkan Abrar berlari-lari disana dengan teman temannya tanpa ummi khawatir dia akan ada ojek atau bajaj yang lewat, dari titik inilah rasa syukur itu melayang entah kemana. Bahkan jika suatu saat abi menawarkan ingin membeli rumah di perumahan, ummi pun sudah tahu perumahan mana yang sangat ummi inginkan.
Lalu akhirnya, di sebuah malam dengan penat yang luar biasa, ummi mencoba menguraikan semuanya. Jarak rumah kami hanya 15-20 menit perjalanan ke kampus maupun ke kantor. Dengan jarak sedekat itu saja, kadang ummi masih merasakan kecapekan yang sangat setelah pulang ke rumah, bagaimana bila ummi harus pulang ke Bekasi, Cibubur, Cibinong, atau mungkin Bogor ? Tentu rasa capeknya berlipat ganda. Memang salah satu pertimbangan kami membeli rumah di daerah kota adalah karena ummi masih kuliah, satu atau dua jam waktu yang habis di perjalanan sangat berarti bagi kebersamaan Abrar dan kami. Lalu lokasi rumah kami sangat dekat dengan rumah sakit besar dan dokter spesialis anak yang menangani Abrar dari bayi. Jadwal kontrol dan imunisasi jadi tidak memberatkan, apalagi jika Abrar sakit dan harus segera berkunjung ke dokter. Lokasi yang dekat dengan kota pun memudahkan ummi jika ingin mengikuti seminar seminar tentang anak dan kesehatan yang seringkali diadakan di daerah kota, seringkali ummi mendengar alasan teman-teman ummi melewatkan seminar bagus karena jarak rumah yang terlalu jauh. Lalu ikatan kekeluargaan dari para tetangga ~yang sebagian besar udah sepuh dan kebanyakan dipanggil "mbah" oleh Abrar~ sangat akrab satu sama lain, mungkin tidak akan kami dapatkan di lingkungan perumahan yang notabene warganya adalah keluarga keluarga muda yang sangat sibuk. Dan satu hal lagi yang sangat sangat harus diingat, di rumah ini ummi merasa sangat nyaman, jauh lebih nyaman dibandingkan dengan beberapa rumah terdahulu yang pernah kami tempati ( mudah mudahan ini merupakan satu bukti bahwa Allah memberkahi rumah kami, amiiinn ). Betapa naifnya, jika ummi tak mampu mensyukuri semua itu. Bahkan lebih ironis lagi melihat saudara saudara kita yang tinggal di kolong kolong jembatan, atau mengingat betapa banyak teman teman yang masih tinggal di rumah kontrakan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?
Jadi, bagaimanapun bagusnya kondisi rumah teman-teman kami, di perumahan manapun yang asri dan tertata rapi, tak akan menggoyahkan cinta pada rumah kami dan limpahan rasa syukur pada-Nya yang telah memberikan rizki tak terhingga berupa kesempatan tinggal bersama-sama di rumah kami tercinta.
~Yaa Allah, bimbing kami untuk selalu menjadi hamba Mu yang pandai bersyukur ~
Lalu entah kenapa seiring dengan cerita teman teman itu, rasa syukur perlahan meluntur. Karena satu hal, mereka semua akan segera menempati sebuah rumah indah dan asri di lingkungan perumahan yang biasanya selalu tertata rapi, lengkap dengan jalan-jalan yang lebar dan mulus, taman-taman yang hijau dan segar, atau mungkin juga sportcenter yang bisa diakses kapanpun dengan mudah, karena memang dekat dengan rumah. Selama ini ummi belum pernah merasakan hal-hal itu, karena kami selalu memutuskan membeli rumah di daerah perkampungan, karena alasan-alasan tertentu yang saat itu kami pikir sangat logis dan rasional. Kami seringkali bersilaturahim ke rumah teman-teman kami yang tinggal di daerah perumahan, dan seringkali iri dengan lingkungan yang mereka tempati. Lingkungan yang bersih, tenang, jauh dari polusi, bahkan yang tinggal jauh di pinggiran, udaranya betul betul masih sejuk sekali. Mana ada hal hal seperti itu yang bisa kami rasakan di rumah kami sekarang ?Memang rumah kami sekarang ada di pertengahan kota, di tepi sebuah jalan yang sangat ramai di sore hari, bahkan pada hari Sabtu, Minggu, atau hari hari libur sekolah, keramaian itu bisa berlanjut sampai dini hari. Belum lagi debu yang luar biasa yang membuat kami tak betah membuka pintu rumah berlama-lama, kecuali sebelum jalanan di depan rumah kami guyur dengan air sampai benar benar basah, itupun tak menutup kemungkinan asap knalpot bajaj, motor, dan mobil yang lalu lalang tetap memaksa memasuki setiap lubang yang terbuka. Masalah lain muncul ketika ada tetangga sebelah rumah kami yang menyetel kaset keras-keras atau sedang bergurau dengan anggota keluarganya. Karena memang jarak antar rumah yang tak sampai satu meter. Atau ketika ummi ingin sekedar menanam bunga atau tanaman lain, keinginan begitu besar tapi tidak ada tempat yang memungkinkan, untunglah abi memutuskan membuatkan sebuah rak kayu di teras untuk meletakkan bunga bunga itu, itupun dengan konsekuensi tanamannya lebih cepat mati karena jarang terkena sinar matahari.
Semua alasan itulah yang menyebabkan ummi akhir akhir ini sangat memimpikan mempunyai sebuah rumah di perumahan, lengkap dengan taman yang hijau, halaman belakang tempat bercocok tanam atau memelihara ayam dan kelinci, dan taman bermain dekat rumah yang memungkinkan Abrar berlari-lari disana dengan teman temannya tanpa ummi khawatir dia akan ada ojek atau bajaj yang lewat, dari titik inilah rasa syukur itu melayang entah kemana. Bahkan jika suatu saat abi menawarkan ingin membeli rumah di perumahan, ummi pun sudah tahu perumahan mana yang sangat ummi inginkan.
Lalu akhirnya, di sebuah malam dengan penat yang luar biasa, ummi mencoba menguraikan semuanya. Jarak rumah kami hanya 15-20 menit perjalanan ke kampus maupun ke kantor. Dengan jarak sedekat itu saja, kadang ummi masih merasakan kecapekan yang sangat setelah pulang ke rumah, bagaimana bila ummi harus pulang ke Bekasi, Cibubur, Cibinong, atau mungkin Bogor ? Tentu rasa capeknya berlipat ganda. Memang salah satu pertimbangan kami membeli rumah di daerah kota adalah karena ummi masih kuliah, satu atau dua jam waktu yang habis di perjalanan sangat berarti bagi kebersamaan Abrar dan kami. Lalu lokasi rumah kami sangat dekat dengan rumah sakit besar dan dokter spesialis anak yang menangani Abrar dari bayi. Jadwal kontrol dan imunisasi jadi tidak memberatkan, apalagi jika Abrar sakit dan harus segera berkunjung ke dokter. Lokasi yang dekat dengan kota pun memudahkan ummi jika ingin mengikuti seminar seminar tentang anak dan kesehatan yang seringkali diadakan di daerah kota, seringkali ummi mendengar alasan teman-teman ummi melewatkan seminar bagus karena jarak rumah yang terlalu jauh. Lalu ikatan kekeluargaan dari para tetangga ~yang sebagian besar udah sepuh dan kebanyakan dipanggil "mbah" oleh Abrar~ sangat akrab satu sama lain, mungkin tidak akan kami dapatkan di lingkungan perumahan yang notabene warganya adalah keluarga keluarga muda yang sangat sibuk. Dan satu hal lagi yang sangat sangat harus diingat, di rumah ini ummi merasa sangat nyaman, jauh lebih nyaman dibandingkan dengan beberapa rumah terdahulu yang pernah kami tempati ( mudah mudahan ini merupakan satu bukti bahwa Allah memberkahi rumah kami, amiiinn ). Betapa naifnya, jika ummi tak mampu mensyukuri semua itu. Bahkan lebih ironis lagi melihat saudara saudara kita yang tinggal di kolong kolong jembatan, atau mengingat betapa banyak teman teman yang masih tinggal di rumah kontrakan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?
Jadi, bagaimanapun bagusnya kondisi rumah teman-teman kami, di perumahan manapun yang asri dan tertata rapi, tak akan menggoyahkan cinta pada rumah kami dan limpahan rasa syukur pada-Nya yang telah memberikan rizki tak terhingga berupa kesempatan tinggal bersama-sama di rumah kami tercinta.
~Yaa Allah, bimbing kami untuk selalu menjadi hamba Mu yang pandai bersyukur ~
Thursday, July 07, 2005
Pesawatku....terbang ke Jogja...
Cerita lucu minggu lalu, saat ummi, Abrar, dan Mbah Kung mau berangkat ke Jogja. Harusnya kami berangkat pake Wings Air flight pukul 19.15
Tapi karena hujan deras yang bikin jalanan jadi makin macet, kami terlambat sampai bandara.
Lucunya waktu Abrar tanya, "ummi mana pesawatnya" dan ummi bilang kalau pesawatnya udah terbang, Abrar dengan sedih berkata, "yahhh, pesawatnya jalan...."
Wah, ternyata Abrar udah pinter menyampaikan emosi lewat kata-kata, bukan hanya lewat tangisan atau kemarahan.
Tapi karena hujan deras yang bikin jalanan jadi makin macet, kami terlambat sampai bandara.
Lucunya waktu Abrar tanya, "ummi mana pesawatnya" dan ummi bilang kalau pesawatnya udah terbang, Abrar dengan sedih berkata, "yahhh, pesawatnya jalan...."
Wah, ternyata Abrar udah pinter menyampaikan emosi lewat kata-kata, bukan hanya lewat tangisan atau kemarahan.
Subscribe to:
Posts (Atom)