Friday, June 24, 2005


Itu apa yaaa ? Posted by Hello

Abrar dan Nabilla Posted by Hello

Mo pegi jayan jayan cama umi abi Posted by Hello

Sholat di masjid yukkkk ! Posted by Hello

bila Abrar bercerita

Abrar semakin lama semakin pintar dan lucu, tentu saja tho ya Abrar kan makin besar.....
Kosakatanya semakin banyak dan membuat dia jadi sosok anak yang gemar bercerita, kata lain yang lebih indah untuk menggambarkan kecerewetannya :D

Saat membuka sebuah halaman buku yang menggambarkan sekelompok anak sedang bermain, ia akan langsung berkisah dengan ceria, "ini mbak dea, ini mbak dipa, ini mas koki, ini abow....eh ada kucin juga, bawa baying baying, baling baling utey utey....ada anjin, anjin nggak bawa baying baying" ( ini mbak dea, ini mbak diva, ini mas rofi, ini abrar....eh ada kucing juga, bawa baling baling, baling baling muter muter....ada anjing, anjing enggak bawa baling baling )

Atau ketika pulang jalan jalan naek motor sama abi, dia pun akan bercerita " tung tung tung, tuyun, keta lewat, tut tut tut, tyus tung tung tung naek lagiiiiiiiii " ( tung tung tung turun, kereta lewat, tut tut tut, trus tung tung tung naek lagi, yang dimaksud tung tung tung sama Abrar itu adalah palang pintu di persimpangan jalan dan rel kereta api )

Sebelum bobok tadi malam pun, Abrar cerita tentang mas rofi yang biasa dia panggil mas koki, "tadi maen cama mas koki, maen kupo, maen peda, mas koki njem peda gituuuu" (tadi maen sama mas rofi, main pukul/palu ( susah banget dibenerin jadi pukul ), maen sepeda, mas rofi pinjem sepeda gitu )

Lalu setelah mendengar rentetan cerita Abrar, ummi dan abi pun tertawa terbahak bahak, raut wajahnya yang lucu membuat semua semakin geli. Ada saatnya Abrar pun menunggu komentar ummi tentang apa yang Abrar ceritakan, dan ummi pun tak dapat berkata kata, hanya tepuk tangan yang ummi hadiahkan.......

~Teruslah bercerita Nak, kapanpun ummi akan selalu bangga mendengarkan, bahkan hingga kau besar nanti. Dan betapa bangganya hati ummi nanti, bila kau menjadikan ummi orang yang pertama kali mendengerkan semua hal yang kelak akan kau alami. ~

Thursday, June 23, 2005

terlalukah ?

nak
ummi sudah kangen kamu
meskipun baru satu jam yang lalu ummi meninggalkanmu

ummi sudah merindukan harum tubuh dan rambutmu
meskipun baru beberapa saat lalu ummi memandikan dan mengeramasimu
lalu memakaikan bajumu
masih ingatkah kamu saat meminta ummi berkumur kumur dengan gayung kecilmu ?
lalu kamu tertawa gembira...........

ummi sudah sangat ingin berjalan di sampingmu
sambil menggandeng tangan mungilmu
lalu kita berlomba lari menyusuri jalan jalan yang sepi
seperti pagi ini.......
lalu kamu merajuk, saat merasa sudah tertinggal jauh dari ummi
lalu kita bersama sama mencari abi yang sengaja bersembunyi
padahal baru beberapa saat yang lalu peristiwa indah itu umi alami

ummi ingin mendengar lagi engkau bertanya, "mana ummi ?"
seperti saat matamu pertama kali terbuka pagi ini
ummi merasa sangat berharga nak
ummi lah orang yang pertama kau cari saat kau terjaga
dari mimpi mimpi indahmu

terlalu berlebihankah keinginan ummi untuk bersamamu setiap waktu permataku ?

Episode Cinta Untuk Rahmat Abdullah

20 June 2005 - 12:34

Merendahlah,
engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina
(Rahmat Abdullah)

Seperti tak percaya aku mendengar kabar itu: kau sudah
pergi untuk selamanya. Dan kenangan demi kenangan
berkelebat cepat di benakku, menyisakan satu nama: Rahmat
Abdullah.
Kita memang tak banyak bertemu, tak banyak bercakap. Tapi
percayakah kau, aku menjadikanmu salah satu teladan diri.
Kau menjelma salah satu sosok yang kucinta. Tahukah kau,
hampir tak ada tulisanmu yang tak kubaca? Dan setelah
membacanya selalu ada sinar yang menyelusup menerangi
kalbu dan pikiranku. Tidak sampai di situ, buku-bukumu
selalu membuatku bergerak. Ya, bergerak!
Kau mungkin tak ingat tentang senja itu. Tapi aku tak akan
pernah melupakannya. Saat itu kau baru saja pulang dari
rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanmu. Aku dan
seorang teman menunggumu. Kami membutuhkanmu untuk memberi
masukan terhadap apa yang tengah kami kerjakan. Tanpa
istirahat terlebih dahulu, dengan senyuman dan
kebersahajaan yang khas, kau menemui kami. Tak kau
perlihatkan bahwa kau sedang tak sehat. Bahkan kau bawa
sendiri makanan dan minuman untuk kami. Dengan riang kau
menyemangati kami.
"Ini kebaikan yang luar biasa," katamu. "Bismillah.
Berjuanglah dengan pena-pena itu!"
Lalu kami mengundangmu untuk hadir pada acara milad
organisasi kecil kami. Sekadar menyampaikan undangan, dan
tak terlalu berharap kau datang, karena kami tahu kau
sangat sibuk dengan begitu banyak persoalan ummat.
Hari itu, bulan Juli 2002, milad ke 5 organisasi kami:
Forum Lingkar Pena. Semua panitia direpotkan oleh banyak
hal yang harus dikerjakan. Aku masih sempat bertanya pada
panitia: "Adakah yang menjemput Pak Taufiq Ismail dan Pak
Rahmat Abdullah?"
Panitia menggeleng. Banyak yang harus dikerjakan. Tak ada
mobil atau tenaga untuk menjemput.
Sudahlah, pikirku. Pak Taufiq dan Pak Rahmat terlalu besar
untuk hadir di acara seperti ini.
Aku hampir melompat ketika melihat Pak Taufiq Ismail
datang sendirian dengan taksi dan menyapa kami riang. Dan
aku tak percaya ketika tak lama kemudian kau muncul!
"Ustadz, terimakasih sudah datang. Kami tidak menyangka...,"
sambutku.
Kau tersenyum. "Saya sudah agendakan untuk datang,"
katamu. "Ini acara FLP. Istimewa."
Mataku berkaca. Ini ustadz Rahmat Abdullah, ia terbiasa
diundang sebagai pembicara dalam berbagai acara nasional
sampai internasional. Dan kini ia sudi hadir sebagai
undangan biasa!
"Maaf ustadz tidak dijemput. Ustadz naik apa tadi?"
Naik bis. Tempatnya mudah dicari," katamu biasa.
Kau sempat turut memberikan award dalam acara tersebut dan
memimpin doa penutup. Aku menangis mendengar doa yang kau
lantunkan, Ustadz. Kau berulangkali mendoakan agar
organisasi kami: FLP selalu bisa melahirkan para pemuda
yang tak akan berhenti berjuang dengan pena....
Pada akhir acara, kau turut berjongkok bersama para pemuda
lainnya dan menandatangani spanduk yang kami gelar
bertuliskan "Sastra untuk Kemanusiaan."
"Saya mencintai sastra dan suka membuat puisi," ceritamu.
Hari itu kehadiranmu benar-benar memberi semangat baru
bagi kami.
Ustadz, aku selalu mengenangmu sebagai suami dan ayah yang
baik dalam keluarga. Sebagai guru sejati bagi ribuan da'i.
Dan ketika kau terpilih menjadi anggota DPR RI tahun 2004
lalu, tak ada yang berubah darimu, kecuali usaha yang
lebih keras untuk membuat rakyat tersenyum. Dalam
keadaanmu yang sederhana, kau tak berhenti memberi zakat
dan infaq dari gajimu. Kau satu dari sedikit orang yang
pernah kutemui, yang sangat berhati-hati dengan amanah dan
berjuang untuk menunaikannya tanpa cacat.
Ah, pernahkah kau meminta tarif untuk mengisi ceramah? Tak
ada. Kau bahkan pernah berkata: "Alhamdulillah ada lagi
orang yang mau mendengarkan taushiyah dari hamba Allah
yang lemah ini."
Terakhir kali kita bertemu, Ustadz, di sebuah jalan raya,
sekitar akhir tahun lalu. Dan aku tak percaya, kau-anggota
dewan yang terhormat--- masih saja menyetop kopaja.
Kini dalam usia 53 tahun, kau pun kembali untuk selamanya.
Ribuan orang, tak terhingga orang, datang mengiringi untuk
terakhir kali, sambil tak henti bersaksi tentang
keindahanmu.
Selamat jalan, Ustadz. Jalan kebaikan dan cinta yang
selalu kau tempuh di dunia, semoga mengantarkanmu ke
gerbang yang paling indah di sisiNya. Amiin.

(Helvy Tiana Rosa)

tulisan mbak Helvy ini diforward oleh seorang teman
sungguh, hati ini pun turut merasa kehilangan
meskipun tidak pernah mengenal beliau dengan dekat
hanya mendengar sebuah nama dari ribuan dengung kebaikannya
masihkah ada kesempatan, menimba ilmu dari seorang sholeh seperti dirinya ?

Monday, June 20, 2005

Perhatikanlah Aku!

taken from www.eramuslim.com

Perhatikanlah Aku!
Publikasi: 26/05/2005 09:36 WIB

eramuslim - Pernahkah mendapati tiba-tiba saja anak anda menjadi begitu rewel? Ia menangis, merengek, merajuk tak bisa dihentikan sampai membuat anda begitu lelah menghadapinya. Di tengah kesibukan si ibu yang tak kalah repotnya mengurusi pekerjaan rumah, tangisan serta tingkah anak yang demikian tentunya akan menambah berat tugasnya.
Kadang di tengah kelelahan itu, kita tak lagi sempat mengontrol emosi dan meningkatkan volume kesabaran untuk menghadapi si buah hati. Belum lagi pikiran yang suntuk harus menyelesaikan permasalahan yang tengah dihadapi; masalah uang belanja, tagihan listrik, tagihan telepon, iuran bulanan lingkungan rumah, dan sebagainya, tentunya akan menambah penat yang teramat sangat. Apakah yang akan dilakukan ibu bila berada dalam kondisi demikian? Tak mengacuhkan si anak, tentunya tak juga akan menghentikan rengekannya. Menghardik serta memarahinya, akan membuat tangisannya bertambah keras. Membungkam mulutnya dengan cubitan dan pukulan? Na'udzubillahi min dzaalik…semoga itu tidak termasuk ke dalam 'pilihan tindakan' yang akan kita lakukan.
Kenyataannya, tak sedikit anak-anak harus menjadi 'korban' dari kekerasan yang dilakukan oleh orang tua, baik disengaja maupun tidak. Awalnya memang hanya cubitan kecil dan pukulan ringan, gemas karena si kecil tak mau menurut. Namun ketika emosi sedang tak terkendali, dan tindakan tersebut telah menjadi kebiasaan, bisa-bisa tak sekadar cubitan dan pukulan ringan yang dilakukan. Entah apapun alasannya, melakukan kekerasan dalam bentuk apapun terhadap anak bukanlah pola mendidik yang patut dilakukan.
Seorang anak akan mempelajari dan merekam dengan cepat apapun peristiwa yang ia alami. Bila kekerasan yang selalu ditampilkan oleh orang tua di rumah, maka itu pula yang akan paling diingat olehnya, dan bisa jadi itu pula yang akan ia lakukan terhadap orang lain kelak. Masa kecil adalah masa emas yang akan menjadi memori sepanjang masa bagi seorang anak. Tak jarang tingkah polah seseorang ketika dewasa adalah akibat apa yang ia alami sepanjang masa kecilnya.
Seringkali kita tak menyadari, bahwa 'tingkah' yang anak perbuat di depan orang tua maupun di depan orang banyak, biasanya adalah usahanya untuk menarik perhatian si ibu atau ayah. Mungkin saja ia merasa bahwa kedua orang tuanya begitu sibuk seharian, sehingga perhatian dan belai sayang yang ia butuhkan tak terpenuhi. Bagi anak, belaian sayang, waktu untuk bercakap-cakap, bercanda dan bermain, adalah jauh lebih berharga dibandingkan dengan berapapun uang yang disisihkan untuknya. Menyalurkan emosi dan cinta pada anak, tak akan pernah bisa dibandingkan dengan berapapun jumlah materi yang dilimpahkan untuknya. Disamping memanjakan anak dengan materi tak selalu baik dan bukanlah pola pendidikan yang tepat baginya.
Sebagai contoh, saya memiliki seorang sepupu yang masih berumur empat tahun. Belakangan ini, ia menjadi begitu 'nakal' dan bertingkah yang merepotkan ibunya, terutama ketika ada orang yang berkunjung ke rumahnya. Padahal, ketika ia menginap atau bermain siang sampai sore hari di rumah saya, ia tak pernah sekalipun merepotkan kami. Malah ia menjadi sangat penurut dan tak pernah bertingkah macam-macam. Namun ketika ibu atau ayahnya datang menjemput, atau kami sedang bersama-sama orang tuanya di suatu tempat, perilakunya berubah. Hal ini terus terjadi berulang-ulang.
Suatu ketika, si kecil ini mendatangi ibunya yang sedang asyik mengobrol dengan ibu saya di meja makan. Ia menarik-narik tangan ibunya untuk ikut dengannya melihat sebuah tayangan yang sedang ia saksikan di televisi. Ibunya tak mau beranjak dan terus asyik mengobrol. Tak berapa lama, ia pun berteriak-teriak, melempar barang yang sedang ia genggam, dan memukuli ibunya. Bisa ditebak, si ibu pun menjadi marah dan menghardiknya. Hal ini sudah sangat biasa saya saksikan. Kejadian yang berulang, dan selalu bisa ditebak akhirnya. Padahal permintaan si anak begitu sederhana, ia hanya ingin ibunya ikut menyaksikan apa yang sedang ia tonton dan sedikit mengomentari. Hal kecil, namun ternyata begitu sulit dilakukan.
Kadang kita tak menyadari, bahwa ketika kita tidak menaruh perhatian pada apa yang dilakukan anak, ia mungkin akan menganggapnya sebagai hal yang besar. Walaupun bentuk perhatian itu sepele dan sangat mudah dilakukan, ternyata cukup banyak yang merasa kesulitan menjalankannya. Berbagai alasan mendasari perilaku orang tua yang 'tidak memedulikan' anak, di antaranya adalah kesibukan. Orang tua yang bijak tentu dapat memberikan pengertian pada anak, bahwa saat itu ayah atau ibu sedang mengerjakan sesuatu, sehingga anak pun akan belajar 'berempati' pada orang tua. Ini adalah salah satu strategi untuk mendidik anak agar tidak manja dan dapat belajar memahami kondisi orang lain. Seperti halnya menghadapi anak yang gemar meminta dibelikan mainan. Mungkin bila tak mau repot, kita bisa saja mengeluarkan uang dan langsung membelikannya. Namun hal tersebut tentu tak baik bagi perkembangan anak.
Dalam psikologi perkembangan anak, dikenal sebuah kondisi yang dinamakan Temper Tantrum atau luapan emosi yang meledak-ledak atau tidak terkontrol. Berbagai macam faktor yang menyebabkannya, di antaranya adalah karena tidak terpenuhinya kebutuhan anak, terhalangnya keinginan anak dalam mendapatkan sesuatu, pola asuh orang tua, ketidakmampuan anak untuk mengungkapkan sesuatu, dan sebagainya. Orang tua seringkali 'terjebak' dalam beberapa kondisi, dan kemudian mengikuti dan 'memenangkan' tantrum anak. Sehingga kemudian anak bisa tumbuh menjadi anak yang manja dan selalu menuntut agar semua keinginannya dipenuhi. Atau orang tua menyikapi perilaku tantrum tersebut dengan 'berlebihan' hingga berakibat tindakan kekerasan yang dilakukan demi menenangkan atau membungkam rengekan anak. Padahal, tantrum itu sendiri adalah kondisi yang normal terjadi, dan bisa dicegah atau diatasi. Masalahnya sekarang adalah minimnya pengetahuan dan kepedulian dari orang tua dalam hal pola asuh dan pendidikan bagi perkembangan anak.
Bisa jadi, perilaku tantrum tersebut pun tercipta oleh sebab kebiasaan orang tua yang sering tak mengacuhkan si anak, sehingga ia menjadi rewel sebab kebutuhannya tak dipenuhi. Bukan hanya si anak yang kemudian menjadi rewel, orang tua pun akan ikut 'stres' bila tantrum sedang terjadi. Hal ini akan menjadi kebiasaan yang akan terjadi berulang kali, sebab 'lalainya' kita dalam memperhatikan perkembangan anak, serta tak jeli memilah penyikapan yang tepat atas segala tingkah polahnya.
Maka, sediakanlah waktu kapan saja bila anak membutuhkan. Hingga tak lagi ia capai merengek hingga menangis meraung-raung demi meminta perhatian dari kedua orang tuanya.

DH Devita

Rencana Bahagia

taken from www.eramuslim.com

Rencana Bahagia
Publikasi: 16/06/2005 10:02 WIB

eramuslim - Sudah menjadi kelaziman setiap orang tua akan mencurahkan semua perasaan cinta kepada anaknya, apa pun akan dilakukannya untuk membahagiakan anak, semua demi satu kata: cinta. Seorang ibu bisa menahan kantuknya berjam-jam untuk berjaga sepanjang malam demi anaknya yang sedang sakit. Seorang Ayah bahkan rela merangkak di aspal yang panas di tengah hari yang terik asalkan itu bisa menghasilkan sesuap nasi demi perut anak-anaknya terisi.
Sebegitu cintanya orang tua kepada anak-anak walau mereka pun tak pernah tahu apakah kelak anak yang dikasihi sepenuh hati itu akan membalas mereka dengan kebaikan atau sebaliknya. Karena orang tua memang tidak pernah meminta sedikit pun balasan. Dan sudah barang tentu tak ada anak yang mampu membayar kasih orang tua, bahkan sekadar pengganti air susu.
Memang mereka tak pernah meminta apa pun dari anak-anak. Namun betapa tak terlukiskan kebahagiaan orang tua jika mendapati anaknya tetap memperhatikannya, tetap mencintai dan menyayanginya di saat usianya semakin senja, di saat tak ada lagi yang mendampinginya seperti saat dulu ia masih menimang-nimang si kecil, di saat tak ada lagi tempatnya bercurah, berkesah, di saat tak ada lagi kekasih yang memberikannya kecupan mesra setiap pagi dan sore.
Betapa tak terbandingkan haru yang dirasai orang tua yang mendapati anaknya yang sudah besar dan bahkan sudah berkeluarga tapi tetap mengecup tangan keriputnya dan menjadikan kakinya tempat bersimpuh.
Tahukah Anda yang diharap sang anak ketika ia tetap melakukan itu semua? Hanya doa agar ia tetap menjadi orang saleh. Dan satu doa yang dipinta, sejuta yang didapat. Ia meminta didoakan menjadi anak saleh, ibu mendoakannya, "Jadi anak yang saleh, sayang isteri, cinta anak-anak, jadi keluarga sakinah, hidup tentram, jauh dari bala dan bahaya, rezekinya lancar..." dan seterusnya. Si anak memintanya satu kali, ibu memberikan doa itu tak pernah putusnya. Bisa jadi, selama masih ada nafas yang melewati kerongkongannya doa itu akan terus mengalir.
Saya mencoba memutar waktu dua puluh lima tahun yang akan datang, saat itu mungkin anak-anak sudah besar dan menikah. Mungkin, di saat itu saya hidup sendiri, tidak ada pasangan di sisi dan hanya anak-anak yang saya miliki. Saya yakin dan teramat yakin, bahwa kebahagiaan sebagai orang tua adalah ketika melihat anak-anak bahagia hidup berumah tangga bersama keluarga tercintanya. Saya tidak berharap apa pun, juga tidak akan pernah meminta anak-anak membalas semua cinta yang pernah saya berikan, karena saya tahu sudah pasti mereka tidak akan pernah bisa membalasnya dengan apa pun.
Namun, teramat sulit saya melukiskan kebahagiaan yang saya rasakan tatkala anak-anak tetap memperhatikan, mencintai, menyayangi saya di usia renta nanti. Mungkinkah tak ada tetes air mata haru jika saya mendapati anak-anak saya berbakti untuk sedikit membalas apa yang pernah ia dapatkan dari saya selaku orang tuanya, meski takkan pernah sebanding?
Kebahagiaan yang selalu menjadi dambaan setiap orang tua itu entah kan dirasakan atau tidak di masa yang akan datang. Mungkinkah anak-anak saya akan tetap cinta dan berbakti di usia senja saya? Saya tak tahu. Hanya saja, saya telah mempersiapkannya sejak detik pertama ketika anak-anak menghembuskan nafas pertamanya, sejak isteri saya mengalirkan cintanya lewat air susunya, sejak saya memberinya nama-nama indah sebagai doa untuknya, sejak pertama kali saya mengenalkannya nama Allah yang kan menjadi sesembahannya dan nama Muhammad yang kan diteladaninya.
Lalu akan selalu ada doa yang tak akan pernah henti mengiringi setiap langkah kecil mereka. Ini yang saya sebut rencana bahagia.

Bayu Gautama

Friday, June 17, 2005

"nanti bica pecah, jangan naek gituuuu"

Abrar sekarang seneng menirukan perkataan orang orang di sekitarnya.
Saat ada yang bilang "mbak" saat manggil ummi, dia akan manggil ummi dengan sebutan mbak pula.
Kalau dilarang melakukan sesuatu, misalnya, "jangan sayang" dia pun akan menirukan "jangan cayang...."
Bahkan sekarang Abrar mulai mengembel-embeli setiap perkataannya dengan kata "gitu" dan "amat", misalnya "kotoy amatt" ( kotor amat ) atau "abi makan kacang gitu"
Abrar pun mulai memperlihatkan emosi yang nyata, saat dia kecewa, sedih, takut, dan senang.
Tak jarang dia mulai bisa mengungkapkan dengan kata-kata, "abow kaget..." ( Abrar kaget ), atau "abow mau nais" ( Abrar mau nangis )
Yang lucu lagi, di saat ummi atau abi berusaha bersikap tegas untuk melarang Abrar melakukan sesuatu, justru ummi dan abi jadi tertawa terbahak bahak karena reaksi Abrar sangat diluar dugaan.
Suatu malam, pernah Abrar berusaha naik ke atas meja makan setelah memanjat kursi, ummi lalu melarangnya..."jangan sayang, nanti kacanya bisa pecah...." ehhh Abrar dengan santai turun dari meja sambil bilang "nanti bica pecah, jangan naek gituuuu", hahahaha

Thursday, June 16, 2005


Abrar, Mbah Ti, dan Mbah Kung Posted by Hello

Abrar dan Oom Febri, lebaran taun lalu Posted by Hello

Mengapa baling-baling berputar ?

"Mengapa baling-baling berputar ? " adalah salah satu judul di sebuah buku Abrar tentang cara kerja benda-benda yang sering ditemui di keseharian anak-anak.
Sebenernya enggak terlalu istimewa ya, bagi kita, orang dewasa.
Tapi bagi Abrar, judul itu bagaikan mantra ajaib yang mampu membiusnya.
Abrar memang sering menjumpai dan sering bermain dengan baling-baling.
Entah baling-baling kertas yang dibeli dari tukang jualan mainan keliling seharga 1000 rupiah, atau baling-baling kayu yang berjajar rapi di pinggir lapangan yang selalu berputar kencang saat Abrar melihatnya di sore hari, sampai kincir angin dengan kerlap kerlip lampu yang selalu ditemui di tiap gedung Holland Bakery, hehehe.
Pertama kali ummi membacakan buku itu, "Mengapa baling-baling berputar.........? " Abrar langsung surprised, dengan penuh perhatian ia menyimak kata demi kata yang ummi bacakan, dia minta dijelaskan dengan detail tentang seluruh gambar yang ada di halaman itu, dan setiap selesai dibacakan pada titik terakhir, dia akan mengatakan, "lagi ummi"
Bisa jadi saat itu dia mulai memahami, bagaimana sebuah baling-baling bisa berputar kencang, tanpa bisa melihat siapa dan apa yang memutarnya.....sungguh ajaib, mungkin begitu pikirnya.
Begitu banyak hal yang ingin dia pelajari dan masih begitu luas ruang memori yang bisa ia gunakan untuk menampung semua informasi yang dia terima......
Baginya, dunia ini penuh dengan keajaiban yang sangat menakjubkan, yang menunggu untuk di"takhluk"kan.....

~Maafkan ummi malam ini ya Nak, ummi terlalu lelah untuk membacakan "Mengapa baling-baling berputar?" walaupun hanya sekali lagi. Sampai akhirnya ummi harus mengatakan, "baling-baling bambunya sudah tidak bisa berputar Sayang, karena angin sudah terlalu lelah memutar seluruh baling-baling di dunia ini, hari sudah malam, dan angin ingin beristirahat sebentar........."~

Wednesday, June 15, 2005

Lho kok enggak nangis ????

Sebulan terakhir ini Abrar mendapat 2 kali imunisasi berupa suntikan, yang pertama MMR dan kedua DTP IV.
Dua kali disuntik Abrar sama sekali enggak nangis.
Sampai DSA dan susternya heran, lho kok enggak nangis ??
Sebelum di-imunisasi MMR ummi bilang sama Abrar, "Nak, sebentar lagi disuntik sama pak dokter ya, sakit sebentar, tapi enggak apa-apa. Kalau sakit banget boleh nangis kok. Eh, tapi biasanya kalo disuntik sama pak dokter enggak pernah nangis kan ya ?".
Pak Dokter nya cuman senyum, beliau bilang, "Kalo masih bayi sih bisa diakalin dikit Bu, tapi sekarang kan udah besar, pasti nangis deh", ya ummi bilang aja "kita lihat aja Dok hehe".
Ehh benerann, Abrar enggak nangis sama sekali, cuman agak kaget dikit, kagetlah pak dokter dan susternya.
Waktu DTP IV pun pak dokter masih heran, kok tahan sakit banget ya.......
Ehh tapi jangan salah, begitu sampe rumah Abrar bilang kalo waktu disuntik sama pak dokter rasanya sakit, hehehe
Abrar memang jarang sekali nangis kalau diimunisasi ( tapi kalau diambil darahnya sama diinfus, sama pernah tes mantoux, ya pasti nangis lah, itu kan sakit banget )
Nangisnya hanya satu dua kali, itupun kalau yang nyuntik bukan DSA yang biasa nanganin Abrar.
Ada dua kemungkinan, pertama suntikan pak dokter emang enggak terlalu terasa sakit, atau memang Abrar nya yang tahan sakit.
Tapi herannya kalo di rumah, dia suka nangis kejer kalo lagi marah, hahaha.
Di rumah juga kalo jatuh suka nangis tuh, meskipun cuma sebentar, dan itu menurut ummi bukan karena sakitnya tapi lebih karena kaget.
Ummi bersyukur banget, Abrar jadi enggak pernah bermasalah dengan kunjungan ke dokter. Dia akan senang sekali kalau diajak pergi ke dokter, enggak perlu dibujuk-bujuk dulu.
Meskipun habis disuntik dia selalu bilang "mau" kalau ditanya mau enggak ketemu pak dokter lagi.
Dan satu lagi yang lucu, kalau ditanya kalau sudah besar Abrar mau jadi apa, dia akan menjawab dengan lantang , "dokteyyyyyyy !!!!"

~Semoga ummi dan abi kelak mampu mengantarmu jadi dokter yang sholeh dan bermanfaat bagi ummat ya Nak, amin~

Thursday, June 09, 2005


A happy family........:) Posted by Hello

Baca buku b'dua sama abi, asyik ya..... Posted by Hello

Gendong "adek" Posted by Hello

Wednesday, June 08, 2005


PERMATA nya Ummi dan Abi :) Posted by Hello

Balok kayu......

taken from a milis

Balok kayu......
Tuhan,
Tumpukan mainan balok kayu kecil,
kutemukan dalam sebuah kotak tua,
yang pernah menjadi kesukaan anakku. . .terlihat sudah lama tak disentuh . . .

dulu anakku sering mengajakku
bermain balok-balok itu . .

Jawabku, mainlah sendiri dulu, sebentar lagi . . . .
Saat kutengok dia,
Tertidur dengan balok kayu digenggamnya. . .

Sebuah buku tentang mewarna. . .
kutemukan tidak jauh dari kotak tua,
Sebagian sudah diberi warna,
lucu dengan daun berwarna biru. .
dan gunung berwarna kuning. . .

dulu anakku sering mengajakkubersama,
mewarnai bukunya. . .

Jawabku, warnailah dulu sendiri, sebentar lagi . . .
Saat kutengok dia,
Tertidur dengan crayon dalam genggamannya. . .

Waktu sangat cepat berlalu,
Anakku kini menjelang dewasa. . .
Tak pernah lagi mengajakku bermain balok. . .
ataupun mewarna bukunya. . . .

Kini kubermain balok . . .
dan kuteruskan mewarna buku. . .
sendiri . . .

Hal kecil yang pernah aku abaikan dulu . . .
Ternyata terasa sangat indah sekarang. . .
Kalau bisa ingin kuputar balik waktu ini. .
Ada penyesalan dalam hati . .

Keindahan dariMu melalui anakku
telah aku sia-siakan

Ampuni aku Tuhan,
Ajari aku Tuhan,
agar esok tidak menyesali
apa yang kulakukan hari ini
Amin . . .

Monday, June 06, 2005

VACCINATION is an act of LOVE

Kasus polio belum lagi usai, hari ini ummi baca berita lagi tentang meluasnya penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi, yaitu rubella atau campak jerman : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=200017&kat_id=13 . Banyak orang tua yang belum menyadari pentingnya imunisasi bagi anak mereka. Ada yang sekedar menggugurkan kewajiban, setelah imunisasi yang diwajibkan selama setahun pertama usia anak selesai dilakukan, mereka tak lagi care dengan urusan imunisasi. Ada yang berpendapat, tak perlu imunisasi yang penting asupan gizi yang cukup. Ada juga yang bilang, buat apa sih imunisasi, jaman dulu enggak ada imunisasi, manusia juga bisa survive kok.

Ummi dulu juga termasuk yang enggak begitu care sama kata imunisasi, yang penting yang wajib-wajib udah, ya udah ( padahal DSA nya Abrar pernah bilang, imunisasi itu pada dasarnya enggak ada yang wajib, mau enggak diimunisasi juga enggak apa apa, tapi seyogyanya orang tua tau apa pentingnya imunisasi bagi anak mereka ). Bahkan imunisasi MMR yang harusnya diberikan saat Abrar umur 15 bulan pun terlambat, gara-gara kekurangpahaman ummi tentang pentingnya imunisasi. Ummi bersyukur, keterlambatan imunisasi MMR itu "hanya" 3 bulan ( daripada tidak sama sekali hayoooo ), saat ini pun ummi harus mengejar beberapa jadwal booster yang tertinggal.

Soal MMR, bukan berarti ummi tidak tau apa bahaya penyakit rubella, gondongan, dan campak. Juga bukan karena ummi tidak percaya akan manfaat vaksin MMR untuk mencegah ketiga penyakit itu. Tapi karena ummi terpengaruh isu MMR menyebabkan autisme !!!!!!!! Sampai akhirnya mata dan pikiran ummi terbuka lebar tentang kesalahpahaman yang hampir saja membuat ummi mengorbankan kesehatan Abrar. Bukan satu dua hari ummi berkutat dengan artikel seputar MMR dan autis, tapi hampir 2 minggu. Saat itu ummi ingin keputusan membawa Abrar ke DSA untuk imunisasi MMR bukan karena "ikut-ikutan", "tuntutan teman", atau "pemenuhan kewajiban semata". Tapi ummi ingin ummi benar benar paham tentang keputusan yang ummi ambil.

Orang lain mungkin bilang "gitu amat seh", tapi ummi puas, ummi tidak menjadikan Abrar objek coba-coba, tapi dengan tahu pasti manfaatnya ummi akan memberikannya pada Abrar dengan penuh cinta.

Mulai saat ini, jika ada kabar miring tentang imunisasi, ummi akan menanggapinya dengan jawaban ini : sebuah vaksin tidak akan dipasarkan tanpa melalui serangkaian ujicoba yang ketat, dan kalaupun ada efek sampingnya, pasti hanya sangat kecil dibandingkan dengan betapa besar manfaat yang ditimbulkannya.

Beberapa saat yang lalu ummi pernah menulis di blog ini ttg kesedihan dan keraguan ummi terhadap vaksin setelah membaca sebuah buku yang menguraikan hal hal buruk tentang vaksin, saat ini kesedihan dan keraguan itu telah berlalu, justru rasa syukur yang amat besar pada Allah swt dan terimakasih kepada mereka yang menemukan vaksin, karena dengan adanya vaksin saat ini kita bisa menunjukkan pada anak anak kita, how we really love them........tak heran kalau dr Purnamawati bilang VACCINATION is an act of LOVE..........

Itu hanya sekedar cerita, ummi hanya ingin menyampaikan pada para orangtua. Apabila Anda menerima informasi negatif yang berkaitan dengan imunisasi, dsb, telaahlah dengan bijak. Carilah informasi penunjang dari berbagai sumber yang bisa dipercaya. Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban karenanya......

~to all the children in the world~

Base Camp

Udah kurang lebih 2 minggu ini, rumah selalu dijadiin base camp anak anak kecil temennya Abrar. Ada Rofi, Fikri, Diva, Angga, Virda, Dea, Vino, Eka, Via....
Ummi seneng sekali, walaupun suka kasihan juga sama Bude yang suka mengeluh kerepotan, ya rumah pasti jadi berantakan lah dengan anak sebanyak itu, hehehe
Banyak sekali keuntungan dengan hadirnya temen-temen Abrar di rumah. Abrar jadi enggak tertarik main di luar panas-panasan, Abrar jadi belajar berbagi mainan, dst dst.
Rencana ummi dan abi masukin Abrar ke play group dalam waktu dekat pun dengan senang hati ditunda. Salah satu pertimbangan ummi dan abi masukin Abrar ke play group biar Abrar mudah bersosialisasi, enggak minder, dan enggak takut ketemu orang lain. Tapi dengan ngumpulnya teman-teman Abrar di rumah, insya Allah itu bukan lagi jadi suatu hal yang perlu dikhawatirkan. Selain enggak ragu berinteraksi dengan teman teman sebaya, Abrar pun jadi berani berdekatan dengan orang dewasa. Teman teman Abrar itu kan nggak mungkin main di rumah begitu aja tanpa orang tua atau pengasuhnya. Malah suatu hari bude dengan gembira cerita, kalau Abrar berani unjuk gigi menyanyi di depan Tante Aci, mamanya Rofi, dia nyanyi lagu tidur anakku dengan akhir begini..."tiduy pemata aapan tantey"...........

Biodata Abrar

Udah lama enggak posting ya, lagi males, hehe
Minggu lalu ummi terserang flu berattt, sampe nggak masuk kantor 2 hari, alhamdulillah sekarang dah baikan. Abrar juga sempet ketularan ummi, malem sabtu, Abrar muntah-muntah karena hidung Abrar tersumbat. Hari sabtu, seharian hidung Abrar meler. Malem minggu agak rewel tapi udah enggak muntah-muntah, alhamdulillah sekarang udah jauh membaik.

Rasanya lama banget ummi enggak berkisah ttg Abrar, Abrar makin lucu dan pinter dari hari ke hari.
Tadi pagi, di jalan ummi sempet kepikiran, gimana kalo ummi bikin biodata Abrar ya....tentang kira-kira bagaimana jawaban Abrar kalau ditanya seputar kesukaannya, hehe

Nama : Upi Abow Oni -- Luthfi Abrar Fathoni
Nama Abi : Ugik
Nama Ummi : Ninid
Cita-cita : Doktey
Hobi : jayan-jayan cama baca buku
Boneka favorit : numba-numba !!!! -- lumba-lumba
Buku favorit : mimi cefis kitten -- Mimi the Selfish Kitten
Mainan favorit : pukul -- alias palu, hehe
Perabotan rumah yang paling suka diotak-atik : jam dinding
Makanan favorit : kupuk -- kerupuk
Lagu favorit : tidu anakku tidu pemata hayi teyah nja penjamkan mata mayam tah unyi buyung tak nyanyi tidu pemata aapan ummiiiiiii..........
VCD favorit : nombeeeeee -- el nombre

Hmm, itu dulu kayaknya biodata Abrar sampe saat ini, hehehe