Thursday, June 23, 2005

Episode Cinta Untuk Rahmat Abdullah

20 June 2005 - 12:34

Merendahlah,
engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina
(Rahmat Abdullah)

Seperti tak percaya aku mendengar kabar itu: kau sudah
pergi untuk selamanya. Dan kenangan demi kenangan
berkelebat cepat di benakku, menyisakan satu nama: Rahmat
Abdullah.
Kita memang tak banyak bertemu, tak banyak bercakap. Tapi
percayakah kau, aku menjadikanmu salah satu teladan diri.
Kau menjelma salah satu sosok yang kucinta. Tahukah kau,
hampir tak ada tulisanmu yang tak kubaca? Dan setelah
membacanya selalu ada sinar yang menyelusup menerangi
kalbu dan pikiranku. Tidak sampai di situ, buku-bukumu
selalu membuatku bergerak. Ya, bergerak!
Kau mungkin tak ingat tentang senja itu. Tapi aku tak akan
pernah melupakannya. Saat itu kau baru saja pulang dari
rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanmu. Aku dan
seorang teman menunggumu. Kami membutuhkanmu untuk memberi
masukan terhadap apa yang tengah kami kerjakan. Tanpa
istirahat terlebih dahulu, dengan senyuman dan
kebersahajaan yang khas, kau menemui kami. Tak kau
perlihatkan bahwa kau sedang tak sehat. Bahkan kau bawa
sendiri makanan dan minuman untuk kami. Dengan riang kau
menyemangati kami.
"Ini kebaikan yang luar biasa," katamu. "Bismillah.
Berjuanglah dengan pena-pena itu!"
Lalu kami mengundangmu untuk hadir pada acara milad
organisasi kecil kami. Sekadar menyampaikan undangan, dan
tak terlalu berharap kau datang, karena kami tahu kau
sangat sibuk dengan begitu banyak persoalan ummat.
Hari itu, bulan Juli 2002, milad ke 5 organisasi kami:
Forum Lingkar Pena. Semua panitia direpotkan oleh banyak
hal yang harus dikerjakan. Aku masih sempat bertanya pada
panitia: "Adakah yang menjemput Pak Taufiq Ismail dan Pak
Rahmat Abdullah?"
Panitia menggeleng. Banyak yang harus dikerjakan. Tak ada
mobil atau tenaga untuk menjemput.
Sudahlah, pikirku. Pak Taufiq dan Pak Rahmat terlalu besar
untuk hadir di acara seperti ini.
Aku hampir melompat ketika melihat Pak Taufiq Ismail
datang sendirian dengan taksi dan menyapa kami riang. Dan
aku tak percaya ketika tak lama kemudian kau muncul!
"Ustadz, terimakasih sudah datang. Kami tidak menyangka...,"
sambutku.
Kau tersenyum. "Saya sudah agendakan untuk datang,"
katamu. "Ini acara FLP. Istimewa."
Mataku berkaca. Ini ustadz Rahmat Abdullah, ia terbiasa
diundang sebagai pembicara dalam berbagai acara nasional
sampai internasional. Dan kini ia sudi hadir sebagai
undangan biasa!
"Maaf ustadz tidak dijemput. Ustadz naik apa tadi?"
Naik bis. Tempatnya mudah dicari," katamu biasa.
Kau sempat turut memberikan award dalam acara tersebut dan
memimpin doa penutup. Aku menangis mendengar doa yang kau
lantunkan, Ustadz. Kau berulangkali mendoakan agar
organisasi kami: FLP selalu bisa melahirkan para pemuda
yang tak akan berhenti berjuang dengan pena....
Pada akhir acara, kau turut berjongkok bersama para pemuda
lainnya dan menandatangani spanduk yang kami gelar
bertuliskan "Sastra untuk Kemanusiaan."
"Saya mencintai sastra dan suka membuat puisi," ceritamu.
Hari itu kehadiranmu benar-benar memberi semangat baru
bagi kami.
Ustadz, aku selalu mengenangmu sebagai suami dan ayah yang
baik dalam keluarga. Sebagai guru sejati bagi ribuan da'i.
Dan ketika kau terpilih menjadi anggota DPR RI tahun 2004
lalu, tak ada yang berubah darimu, kecuali usaha yang
lebih keras untuk membuat rakyat tersenyum. Dalam
keadaanmu yang sederhana, kau tak berhenti memberi zakat
dan infaq dari gajimu. Kau satu dari sedikit orang yang
pernah kutemui, yang sangat berhati-hati dengan amanah dan
berjuang untuk menunaikannya tanpa cacat.
Ah, pernahkah kau meminta tarif untuk mengisi ceramah? Tak
ada. Kau bahkan pernah berkata: "Alhamdulillah ada lagi
orang yang mau mendengarkan taushiyah dari hamba Allah
yang lemah ini."
Terakhir kali kita bertemu, Ustadz, di sebuah jalan raya,
sekitar akhir tahun lalu. Dan aku tak percaya, kau-anggota
dewan yang terhormat--- masih saja menyetop kopaja.
Kini dalam usia 53 tahun, kau pun kembali untuk selamanya.
Ribuan orang, tak terhingga orang, datang mengiringi untuk
terakhir kali, sambil tak henti bersaksi tentang
keindahanmu.
Selamat jalan, Ustadz. Jalan kebaikan dan cinta yang
selalu kau tempuh di dunia, semoga mengantarkanmu ke
gerbang yang paling indah di sisiNya. Amiin.

(Helvy Tiana Rosa)

tulisan mbak Helvy ini diforward oleh seorang teman
sungguh, hati ini pun turut merasa kehilangan
meskipun tidak pernah mengenal beliau dengan dekat
hanya mendengar sebuah nama dari ribuan dengung kebaikannya
masihkah ada kesempatan, menimba ilmu dari seorang sholeh seperti dirinya ?