Wednesday, December 28, 2005

Dokter Fathoni dan Obat Hati

Mas Abrar pengen jadi dokter nanti, itu cita-citanya.
Tadinya sih itu hanya berupa "doktrin" dari ummi, "Kalo sudah besar jadi dokter aja ya, dokter yang baik, dokter yang sholeh, dokter yang ikhlas membantu orangyang sakit", "Kalo Mas jadi dokter, nanti bisa ngobatin ummi kalo ummi sakit", atau "Mas jadi dokter aja ya, kaya' Dokter Firman( dsanya Abrar ), nanti pasti banyak anak-anak kecil yang bisa Mas bantu"
Dan perlahan tapi pasti jadilah dokter sebagai cita-citanya ( at least sampai saat ini, di umurnya yang baru 2 tahun 4 bulan, nanti pasti akan berubah lagi sesuai keinginannya yang sebenernya ).
Lucunya, dia nggak mau menyebut dirinya Dokter Abrar, melainkan Dokter Fathoni, nama belakangnya.
"Nanti, kalo sudah besar Mas mau jadi apa ?"
"Doktey, mi"
"Oya ? Subhanallah, dokter siapa dong nanti namanya ?"
"Doktey Fathoni"
"Bukan dokter Abrar ?"
"Bukan, doktey Fathoni aja"
Hahahaha........
Kalau ada orang di rumah yang mengeluh sakit, Abrar pasti langsung nyari stestoskop nya, lalu dikalungin di leher layaknya dokter meriksa "pasien". Kadang Abrar bahkan nyari lampu senter buat memeriksa mulut "pasien".
Lalu, setelah memeriksa, ada satu obat serbaguna yang selalu diberikan pada pasien, apapun jenis penyakitnya.
Mau tau ???

Ummi : "Pak Dokter, ummi sakit nih, tolong diperiksa ya, perut ummi kok mules"
Abrar: "Iya, ntay duyu ya, ambil ntoskop duyu"
Ummi : "Iya"
Abrar: meriksa perut ummi pake stetoskop, terus perut ummi disorot pake lampu
senter, "udah mi"
Ummi : "Ummi sakit apa ya Dokter Fathoni ?"
Abrar: "Sakit peyut"
Ummi : "Ummi dikasih obat nggak ?"
Abrar: "Iya"
Ummi : "Mana obatnya ? Obat apa namanya ?"
Abrar: "Ini, obat hati"
Ummi : ?????%&*^&^&*), hahahahahaha

Thursday, December 22, 2005

Happy Mother's Day

Puisi untuk Bunda

Dalam setiap irama tubuhmu kau selalu menyapa
Dalam kepenatan yang tak pernah terbisikkan kau selalu mendekap
Dalam kerinduan yang sangat kau tak pernah ingin lepas dariku

Usiaku kini telah berubah
Aku bukan lagi gadis kecil
Kaulah yang telah membentuk jiwa mentah ini
Kaulah yang telah mengelola emosi labil ini
menjadi lokomotif kemajuan
Kaulah yang selalu memberiku keberuntungan
dengan nasihatmu kala malam telah larut
dan gerbang mimpi siap menghampiriku

Kala yang lain terlelap
Kutahu kau tak pernah terlena
Pikiran, hati, jiwa, dan emosiku selalu bekerja demi masa depanku
Kau selalu berpacu dengan waktu
Karena kau yakin, tanpa itu bisa jadi
aku terlindas oleh jaman yang semakin keras

Kaulah pengantar luasnya pengetahuanku
Kala wadah kosa kataku hanya bagai tetesan air
Kaulah yang memenuhinya hingga menjadi sebuah lautan
Kaulah bintang berkilauku
Yang tak akan pernah terlupakan
oleh rangkaian huruf cahaya sejarah peradaban manusia

Andai aku bisa, bunda
Kan kubalas segenap cinta dan kasihmu
Andai aku mampu, bunda
Kan kupersembahkan seterang kilauanmu,
sehangat dekapanmu, setulus kasihmu,
dan sebijak nasihatmu


Kutahu, bunda
Tanganmu tak pernah lepas berharap untukku
dalam setiap do’a yang kau panjatkan
Kutahu bunda
Senyummu selalu menyapa dalam setiap kata cinta
yang keluar dari lisanmu
Kutahu bunda
Mata hatimu selalu terjaga dalam setiap derapku

Ya Allah
Kutengadahkan tanganku berharap
kau membahagiakannya sepertiku kini
Ya Rabbi
Kumemohon berilah bunda mimpi yang selalu indah
Ya Rabbul Izzati
Kuberharap padaMu anugerahkan bunda kecupan hangat
Seperti yang selalu ia berikan padaku saat aku terbangun di pagi hari
Ya Illahi
Sejahterakanlah bunda

Bunda, pelangi dan matahariku
Hari ini kuhaturkan dengan tulus padamu


SELAMAT HARI IBU!

Diambil dari pk-sejahtera.org

Kata-kata yang ummi bold itu, sebenernya pengen ummi sms-in ke Mbah Ti.
Tapi sayang seribu sayang, hp ummi ketinggalan di rumah tadi pagi.
Jadinya ummi nelpon langsung aja ke Mbah Ti.
SMS nya nyusul nanti malem ya Mbah Ti........

Tuesday, December 13, 2005

banjirrrrrrrrr !!!!!!!!

Rumah Mbah Kung kebanjiran, Minggu jam 3 dini hari.
Nggak tanggung-tanggung, air yang masuk ke rumah sampai semeter tingginya.
Padahal selama tinggal disana, belum pernah terjadi banjir sekalipun. Mungkin banjir terjadi karena intensitas hujan yang amat sangat tinggi.
Semua barang di rumah kena, kecuali barang-barang tante Endras dan oom Febri yang ada di lantai 2.
Buku-buku hancur, termasuk ijazah dan piagam-piagam ummi di SD dan SMP ( memang disimpan di lemari yang agak rendah, dan nggak sempat diselamatkan ), tanpa terkecuali bahan-bahan presentasi Mbah Ti buat pelatihan bidan beberapa saat lagi ( sabar ya Mbah Ti, Mbah Ti harus menyusun semuanya dari awal lagi ya ).
Foto-foto masa kecil ummi dan oom Febri juga ikut hancur, juga baju-baju, kasur, kursi, sofa, obat-obatan Mbah Ti.
Alhamdulillah, airnya segera surut, jadi kepanikan tidak bertahan lama.
Setelah air surut, semakin banyak kerugian yang tampak : mesin cuci dan kulkas tidak bisa dipakai, mobil dan motor tidak bisa distarter, CPU komputer terendam air, dll, dll.
Ikan di kolam hanya tersisa 4 ekor, sekian banyak ayam tinggal belasan ekor ( yang lucu, anak-anak ayam yg baru berusia 3-5 hari yang diletakkan di kardus di lantai kandang, ditemukan ngumpul di loteng jemuran, naik tanggakah ? wallahualam ).
Tapi alhamdulillah, si Jlitheng, kucing peliharaan Mbah Kung pulang ke rumah dengan selamat.
Dan alhamdulillah lagi, meskipun ketinggian air lumayan, tapi tidak ada korban jiwa, seluruh keluarga dan tetangga sekitar rumah Mbah Kung Mbah Ti tidak ada yang luka.
Yang menyedihkan, sebagian bangunan rumah Pak Marno dan Pak Mino di sebelah rumah Mbah Kung roboh kena air banjir. Mudah-mudahan Allah memberikan mereka kesabaran dan menggantikannya dengan yang lebih baik, amiin.
Hari-hari ini, hari-hari bersih-bersih yang melelahkan buat seluruh keluarga.
Maafkan kami ya Mbah, nggak bisa ikut datang membantu.
Mbah Kung dan Mbah Ti dibantu sama tetangga sekitar / keluarga yang nggak kebanjiran, keluarga dari Pucangsewu, bahkan adek Mbah Kung dari Trenggalek ikut datang dan bantuin beres-beres ( makasih ya Mbah To dan Mbah Tik, meskipun sibuk nyempetin dateng dan bantuin Mbah Kung ).
Semoga banjirnya cukup sekali ini saja, jangan terulang lagi.
Bagi saudara-saudara yang saat ini mengalami musibah banjir juga, semoga Allah memberikan kesabaran dan pengganti yang lebih baik.

Sunday, December 11, 2005

i'm twenty four now

Hari ini ummi ulang tahun, ke 24
Sebenernya ummi enggan mengganti angka 23 menjadi 24, tapi inilah ketentuan dan peringatan dari Allah, bahwa jatah waktu ummi di dunia ini semakin menipis.
Semoga ummi bisa memperbaiki diri dan ibadah ummi.
Semoga ummi bisa menjadi istri dan ibu yang lebih baik.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa ummi selama ini dan berkenan menerima amal ibadah ummi.
Semoga Allah pun selalu memberikan bimbingan dan kekuatannya buat ummi.

Ssttt, hadiah ultah ummi dari abi kali ini istimewa lho, sebuah cincin emas mungil yang cantik.
Makasih ya bi, semoga cincin ini bisa jadi pemacu semangat ummi untuk selalu berbenah diri.

Thursday, December 08, 2005

Percobaan Penipuan

Hari ini, jam 11 siang abi ijin keluar kantor, mau nganterin oom Win ke Slipi, ada bursa kerja disana.
Baru sekitar 15 menit ninggalin kantor, hp ummi berdering, dari rumah, oom Win ternyata. Oom Win ngomongnya hati-hatiiiiii banget, katanya abi kecelakaan dan saat itu ada di Ruang UGD RSCM. Oom Win bilang, udah ada dokter yang menangani abi, ummi disuruh segera menghubungi dokter itu, oom Win menyebutkan sederet angka 68010839 dengan dr Mulyawan katanya. Ummi segera memberitahu Bu Uke ( teman sebelah ummi ) dan menghubungi nomor itu ( tanpa terpikir menghubungi hp abi lebih dulu ), dan segera tersambung dengan dr Mulyawan, dia bilang abi mengalami luka di kepala yang mengakibatkan pendarahan eksternal dan patah tulang di kaki kanannya. Dia juga mengatakan abi dalam kondisi tidak sadar tapi sudah ditangani dengan baik. Begitu Bu Uke berteriak kalo abi kecelakaan, seisi ruangan langsung heboh. Dr Mulyawan bilang, ada obat dan alat yang harus segera ditebus untuk dipasangkan pada kepala dan kaki abi ( melalui operasi ), dalam jangka waktu maksimal 10 menit katanya. Resepnya sudah dikirim ke apotik, tapi harus ada yang menebusnya lebih dahulu. Ummi lalu disuruh menghubungi apotik di nomor 92982347, dengan menyebutkan no resepnya, 202 katanya. Tanpa pikir panjang ( saking paniknya ), ummi langsung menelpon nomor itu, orang disana mengatakan hal-hal yang hampir sama dengan yang dikatakan dr Mulyawan, bahwa obat dan alat itu harus segera digunakan oleh abi dalam waktu tidak boleh lebih dari 20 menit, tapi satu hal yang bikin ummi sadar, ummi disuruh membayar dulu 21.800.000 rupiah !!!!
Ummi baru sadar kalo ini mustahil, ada beberapa hal yang bikin ummi curiga :
1. Mana mungkin seorang dokter / rumah sakit akan melakukan suatu tindakan oparasi kepada pasien di UGD tanpa persetujuan tertulis anggota keluarga ?
2. Sebelumnya dr Mulyawan mengatakan, apotiknya ada di lingkungan RSCM, tapi ternyata orang yang menerima telepon ummi mengatakan apotiknya berada di daerah lain yang sangat jauh dari RSCM.
3. Meminta transfer uang 21.800.000. Jumlah yang amat besar dan cara yang tidak lazim untuk menebus obat dan peralatan medis di apotik.
Orang yang mengaku petugas apotik itu terus mendesak ummi untuk melakukan transfer uang segera, ia terus menanyakan apa ummi punya dana yang cukup atau tidak. Ummi bilang, ummi akan hubungi dia beberapa saat lagi.
Setelah telepon ditutup, ummi minta tolong Pak Nol nelpon ke hp abi, saking gemeterannya ummi sampe nggak bisa mencet hp, hehe.
Alhamdulillah diangkat sama abi, ternyata abi lagi di jalan, belum sampe rumah, kondisi abi baik-baik aja, dan sama sekali tidak mengalami kecelakaan !!!
Alhamdulillah........ummi langsung nangis lega ( tadinya malah nggak bisa nangis lho :D )
Alhamdulillah, Allah menghindarkan ummi dan abi dari musibah.
Alhamdulillah, Allah menyadarkan ummi sebelum ummi benar-benar mengikuti kemauan para penipu itu.
Dan alhamdulillah, ummi semakin menyadari betapa berartinya abi bagi ummi :)

Saking senengnya, ummi sampe lupa ngasih kabar ke orang-orang di rumah, mereka pasti masih heboh.
Ternyata bener, oom Win udah naek ojek ke RSCM, hehe, untung baru nyampe jalan Tambak.

Hehe, ini pelajaran buat kita semua ya.
Jangan gampang panik menghadapi suatu musibah, pikiran harus bener-bener jernih, nggak boleh grusa-grusu dalam bertindak.
Semoga Allah menghindarkan kita dari penipuan-penipuan semacam ini.

Wednesday, November 30, 2005

Biar kupendam rindu ini......

Beberapa bulan lalu, kudengar kabar gembira itu, dengan penuh harap dan suka cita
Aku bertekad dalam hati, harus kubenahi diri, semaksimal mungkin
Membulatkan niat, perjalananku nanti karena-Mu semata, tanpa satupun embel-embel keduniaan

Lalu, hari-hariku berlalu sangat cepat
Tekad itupun meluntur
Aku masih menjalani waktu seperti biasa
Sholat di akhir waktu, tilawah yang makin jarang dan tak berkualitas
Sholat malam yang bisa dihitung dengan jari
Puasa sunah yang makin kutinggalkan
Bahkan, aku mengabaikan meminta satu hal itu pada-Mu
Aku merasa kesempatan ini kesempatan biasa, siapapun pasti bisa mendapatkannya
Dan kali ini kesempatan itu jatuh padaku

Lalu, semakin dekat dengan jadwal keberangkatan
Kami harus menunggu keputusan dalam ketidakpastian
Saat itu aku baru sadar, ingat kata-kata orang
Bahwa panggilan itu, murni hak-Mu
Siapapun yang "merasa" sudah mendapat kesempatan, belum tentu bisa berangkat bila belum mendapat "undangan resmi" dari-Mu
Banyak alasannya, tak tersedianya kursi, sakit, hamil, halangan lain, bahkan mungkin meninggal !!
Lalu aku pun merasa menjadi orang paling malang sedunia
Merasa malang, karena aku melalaikan kesempatan ini
Melalaikan kesempatan memperbaiki diri dan memohon dengan sepenuh hati kepada-Mu agar berkenan memberikan undangan itu
Namun di sisi lain, akupun tak berani memohon kepada-Mu
Aku merasa tak pantas mendapatkan "undangan" itu dengan kualitas ibadahku yang pas-pasan selama ini

Akhirnya, surat pemberitahuan itupun tiba
Bahwa kami tidak bisa berangkat kali ini karena keterbatasan kuota
Saat itu aku merasa sedih luar biasa, sedihhh
Akankah Allah memberikan undangan itu pada kesempatan berikutnya ?
Ataukah menundanya lagi ?
Atau mungkin tidak memberikannya sama sekali ?

Tapi beberapa waktu kemudian, aku bahagia
Karena menyadari betapa aku sebenarnya menginginkannya
Mengharapkannya
Dan merindukannya

Aku pun kembali bertekad
Aku harus bangkit berbenah diri
Dan akan selalu memintanya dalam doa-doaku, sepenuh jiwa
Mohon Ia berkenan memberikan kesempatan itu

Ya Allah,
Berikanlah kami kekuatan untuk memperbaiki diri dan ibadah kami
Berikanlah kami umur yang panjang dan kesehatan
Sampai saat itu tiba
Amin

Monday, November 28, 2005


Mas Abrar....... Posted by Picasa

Lumba-lumba lagi..... Posted by Picasa

Lumba-lumba...... Posted by Picasa

Singa laut...... Posted by Picasa

Thursday, November 24, 2005

'till the dream comes true

Akhir-akhir ini keinginan berhenti bekerja makin menguat, mengikat, mengakar, dan menghujam jauh ke dalam relung hati.
Tapi apa daya, semua itu baru sebatas keinginan tanpa daya kekuatan, hanya harapan tanpa kuasa tuk membuatnya tercipta, dan sekedar impian yang tak pernah kutahu kapan menjelma nyata.
Hanya satu yang bisa mewujudkan itu semua, keberanian. Bukan pesangon sekian puluh juta, atau jaminan akan kelangsungan hidup di masa yang akan datang, hanya keberanian !!!
Aku harus berani menghadapi semua tudingan miring orang-orang.
Aku harus berani mengatakan pada orang tua dan keluarga besarku bahwa ini pilihan terbaik untuk hidupku.
Dan aku harus berani meyakinkan diri bahwa Allah semata sumber rejekiku, bukan perusahaan tempatku bekerja selama ini.
Tapi sampai detik ini, aku belum punya keberanian itu.
Terseok-seok aku mengumpulkannya sedikit demi sedikit, satu demi satu, sampai kapan ?

Beri aku kekuatan Ya Allah, kekuatan dan keberanian......
Apalah artinya isak tangis penuh air mata, tanpa dayaku mewujudkan ini semua ?

Dia anakku, kulahirkan dari rahimku
Amanah terbesar dari Mu
Bagaimana sifatnya kelak
Seperti apa budi pekertinya
Sebaik apa ibadahnya
Doa-doa apa yang akan dia lantunkan
Dan sebesar apa cinta dan rindunya pada Mu dan Rasul Mu
Akulah yang akan Kau minta pertanggungjawaban
Bukan pengasuhnya
Lalu bagaimana mungkin aku bisa membimbingnya dan mengajarkan itu semua hanya dalam 4 jam dari 24 jam yang dia miliki dalam sehari ?
Aku berharap dia mencintaiku, menyayangiku, dan selalu menyebutku dalam doa-doanya.
Tapi mungkinkah dia melakukan itu ketika dia merasa betapa sedikitnya waktuku untuknya ?

Ampuni aku Robb, berilah aku kekuatan dan keberanian mewujudkan ini semua.

Wednesday, November 23, 2005


Senja hari, ngangeni....... Posted by Picasa

Ning awang-awang........... Posted by Picasa

1 banding 2, tetep gak imbang juga, hahahaha........... Posted by Picasa

Pantai Teleng Ria, gambar'e gak bagus, asal jepret sekedarnya dari bawah pohon kelapa, soalnya panas ruar biasa...... Posted by Picasa

Abrar dan Mbah Kung, lagi lengket-lengketnya..... Posted by Picasa

Lihat....gaya Abrar kalo lagi cerita, lucu yaa, sambil mikir tuh........... Posted by Picasa

Saturday, November 19, 2005

Ketabahanmu.....

Akhir bulan lalu, hari Kamis 27 Okt 2005, Mbak Wiji melahirkan putri pertamanya, Nasyamah Hasna Sabila, dalam usia kandungan 30 minggu, dengan berat lahir hanya 700 gram.
Waktu melihatnya dari balik kaca NICU, hati ini berdegup kencang, Nasya terlihat begitu mungil dan lemah, tapi dia tampak aktif bergerak.
Saat itu aku yakin, Nasya akan bertahan, tumbuh besar seperti anak-anak lain, dan akan saudara perempuan buat Abrar.
Tapi Allah berkehendak lain, Minggu tanggal 30 Nov 2005, pukul 19.20 Allah memanggilnya lagi.
Hanya 4 hari ia merasakan kehidupan dunia ini, lalu kembali pada Dzat yeng menciptakannya.
Satu hal yang membuatku terpana, ketabahan kedua orangtuanya.
Mereka begitu sabar menerima, dengan penuh keimanan.
Ya Allah, jika cobaan ini menimpa hamba, akankah hamba setabah mereka ?
Pasti Allah akan memberikan pengganti yang lebih baik atas ketabahan mereka menghadapi ujian ini.

Friday, October 07, 2005

New Family

Alhamdulillah, acara akad nikah dan resepsi pernikahan Oom Febri hari Minggu, 2 Oktober lalu berjalan lancar dan meriah.
Pas akad nikah, ummi nggak bisa nahan air mata, whuaaaaa rasanya ga percaya si oom yang masih suka kolokan itu sekarang sudah jadi seorang suami :D
Doa dari hati ummi tak henti mengalir, semoga mereka berdua mampu menjadikan keluarga mereka keluarga yang tentram dan penuh rahmah dari Allah, semoga Allah melimpahkan rejeki yang pernuh berkah, semoga Allah melimpahkan kebaikan tak terkira, dan semoga mereka dikarunia putra putri yang sholeh dan sholehah, amiinnnn.
Ummi juga bahagia lhoo, sekarang punya seorang adek perempuan, 4 orang kakak perempuan, dan seorang kakak laki-laki ( kakak-kakaknya tante Endras ), hehe mimpi jadi kenyataan, punya sodara tua buanyaaakkkk :)
Mudah-mudahan jalinan silaturahim dengan beliau-beliau ini kelak kan erat terjaga, amiin.

This is my big family....... Posted by Picasa

Saat akad nikah, Minggu 02 Oktober 2005. Semoga jadi keluarga sakinah ya Oom dan Tante....... Posted by Picasa

Oom Febri dan Tante Endras Posted by Picasa

Wednesday, September 28, 2005

WiSUdA

Hari ini, Rabu 28 September 2005 Mbah Ti diwisuda, acaranya di Surabaya.
Alhamdulillah, setelah perjuangan berat 3 tahun lamanya, saat itupun datang juga.
Selamat ya Mbah Ti, mulai sekarang kan setiap Jumat-Sabtu Mbah Ti gak perlu ke kampus lagi, jadi bisa sering nengokin Abrar di Jakarta kann ?

Sabtu yang lalu, tanggal 24 September, oom Febri juga wisuda di Solo, D3 Manajemen Pemasarannya sudah selesai, tapi oom Febri langsung transfer ke S1 sambil mau berusaha cari kerja.

Hari Kamis besok, tanggal 29 September 2005, gantian tante Endras yang wisuda di Malang, AkPer nya juga sudah lulus.

Wah, lagi heboh wisuda semua nih, tinggal ummi dan abi yang belum :D
Doain cepetan nyusul yaaahhhh :)

Tuesday, September 27, 2005

Nasihat Abrar

Makin besar, makin banyak kosakata yang Abrar punya.
Tanpa ditanya, sering meluncur kalimat-kalimatnya tentang banyak hal yang lugu, polos, dan kadang menggelikan :))
Misalnya saat kami sekeluarga berkunjung ke rumah teman minggu lalu.
Abi sengaja muter-muter dulu keliling kompleks, kebetulan ada kavling kosong yang konon belum laku karena lokasinya tusuk sate, ummi bilang sebenernya ini enggak tusuk sate lho menurut ummi, kok belum laku juga, padahal kan lokasinya bagus, harganya pun diturunin jadi sangat murah lagi.
Ehh, dengan lugunya Abrar berkomentar, "iya ummi, itu memang bukan sate........" :))
Atau saat abi sedang santai sambil nonton bola, Abrar yang ikut nonton tiba-tiba ikut berteriak, "oom-oom, jangan lari-lari dong oom nanti jatuh, tuh lihat temennya jatuh kannn, jangan lari-lari dong oom.........", kami langsung tertawa terbahak-bahak, masa sih orang maen sepak bola nggak boleh lari-lari, hehehe
Abrar juga udah pinter nasihatin orang loh, udah banyak yang jadi korbannya, misalnya saat Abrar melihat Diva yang lagi mukul Eka, spontan Abrar bilang, "mbak Diva, enggak boleh gitu, nanti mbak Eka pulang lhooo".
Abi yang ketiduran dan masih belum ganti baju pun kena nasihat Abrar, "bi bangun bi, ganti baju dulu......"
Eits, bukan cuma orang yang Abrar nasehatin, ayam juga lho....kalo ada ayam lagi cari makan di tengah jalan, Abrar akan teriak, "ayaammmm, sini minggirrr, nanti ada mobil lhoo, ayo minggiiirrr!!" hahahahaha

Monday, September 26, 2005

Sudah tidak boleh dipangku lagi......

Hari ini, ummi cari tiket pulang ke Pacitan buat hari Jum'at nanti.
Insya Allah kami sekeluarga mau dateng ke nikahan oom Febri.
Alhamdulillah udah dapet sekaligus buat pulang pergi.
Yang bikin ummi kaget dan sebelumnya nggak ummi sadari, ternyata Abrar udah harus duduk sendiri, jadi ummi harus beli 3 seats, wahhhh...
Awal Juli lalu waktu pulang bertiga sama Mbah Kung, Abrar masih boleh dipangku, waktu itu kan umur Abrar 23 bulan, masih termasuk infant.
Abi sempat protes juga waktu ummi bilang Abrar harus duduk sendiri, kata abi kenapa ummi bilang umur Abrar 2 tahun, bilang aja 2 tahun kurang.
Lah, lha gimana, emang peraturannya gitu, hehe.
Lagipula badan Abrar kan agak bongsor, malah suka disangka udah umur 3-4 tahun, masa mau di"manipulasi" jadi 20 bulan ?
Satu lagi, biasanya kalo di pesawat, Abrar maunya dipangku ummi, kalo Abrar duduk sendiri ummi jadi lumayan bisa menikmati perjalanan kan :))

~Kita harus menyadari bahwa anak kita tlah tumbuh besar, he's growing bigger and bigger.......~

Monday, September 19, 2005


Kacamata-nya kegedean.....:D Posted by Picasa

Mutiara hati ummi, yang sudah semakin besar.....kelihatan banget kalo dia itu pemalu, dari tangannya yang disembunyiin itu lho.....but ummi loves you just the way you are , dear....... Posted by Picasa

Abrar dengan pose default-nya..... Posted by Picasa

Alif dan Athar, 2 bersaudara yaang akuurrr banget. Mereka lagi istirahat habis balapan kuda nih. Bunda Lystin dan Mama Dewi, mohon ijin upload foto ini yaaa :) Posted by Picasa

Abrar, Hani, dan para ayah.......masih di depan kandang gajah, bau pesing lho, tapi pada betah, hahaha Posted by Picasa

Abrar dan Abi di depan kandang gajah, Abi dah gaya abis Abrar nya justru melengos, whuaaaa :)) Posted by Picasa

It's the time, to let you reach the dreams.......

Detik pertama saat mendengar berita itu, tulang-tulang ummi seakan lemas tak berdaya.
Ummi kehilangan seluruh semangat yang dengan susah payah ummi kumpulkan sejak bangun pagi. Karena memang hari Senin is a struggle day for me !
Berita itu, tak lain dan tak bukan adalah berita rencana pernikahan Oom Febri, adik ummi satu-satunya.Kok bisa ya ummi sedih ?
Bukankah seharusnya ummi bahagia ?
Ummi pun tak bisa mengerti perasaan ummi sendiri....
Bukankah dulu ummi yang sering mengusulkan agar mereka segera menikah ?
Tak baik berpacaran lama-lama, kata ummi waktu itu pada Mbah Kung, toh mereka sudah selesai kuliah.
Justru Mbah Kung yang nggak setuju mereka menikah, mereka masih sangat muda katanya, hehe, padahal menurut ummi sih mereka sudah cukup usia untuk menikah.
Dulu ummi malah jauh lebih muda dari mereka saat ummi menikah.
Tapi hari ini, di saat mereka memutuskan sendiri untuk menikah ( tanpa campur tangan dan tekanan orang tua ), ummi malah merasa sedih luar biasa.
Oom Febri adik ummi satu-satunya, beda usia kami 3 tahun.
Hubungan kami cukup dekat, bahkan sangattt dekat.
Dulu memang saat masih usia balita, kami seringkali bertengkar, tapi sekaligus seringkali kami tak mau saling berpisah.
Ummi ingat waktu ummi kelas 3 SD dan Oom Febri kelas 1 SD, Oom Febri masih terlalu malu untuk beli kue di kantin, akhirnya setiap istirahat ummi beli kue di kantin dulu trus nganterin kue buat Oom Febri di kelasnya.
Oom Febri juga baik banget, dia seringkali ngalah sama ummi.
Oom Febri juga perhatian sama Abrar, dan Abrar jadi akrab sama Oom Febri.
Klo libur kuliah, Oom Febri suka maen ke Jakarta dan menurutin kemauan Abrar main apaaa saja.
Intinya, hanya satu hal yang bikin ummi sedih, ummi hanya takut kehilangan Oom Febri. Setelah menikah, otomatis sebagian besar waktu dan perhatian Oom Febri tercurah buat keluarganya.
Oom Febri mungkin akan jadi jarang curhat sama ummi, Oom Febri juga nggak akan lagi sering main ke Jakarta.
Egois sekali ya. Ummi pun jadi mikir, dulu waktu ummi mau nikah sama abi, Oom Febri sedih begini juga enggak ya ?
Harusnya ummi enggak boleh sedih, menikah berarti menyempurnakan separuh agama, kenapa ummi harus sedih ?
Calon istri Oom Febri, tante Endras namanya, juga baik, tante Endras yang seorang perawat, seringkali membantu Mbah Ti saat menangani pasien.
Tante Endras pasti akan jadi istri yang baik buat Oom Febri, juga menantu yang baik buat Mbah Ti dan Mbah Kung, juga adik ummi dan abi, insya Allah.
Dan sebentar lagi, mereka akan punya anak-anak yang lucu, sehat, dan sholeh, bertambah banyaklah saudara Abrar.
Jadi apa yang lagi yg bisa membuat ummi sedih ?

Meski begitu, hari ini ummi belum berani menelpon Oom Febri, ummi takut kesedihan itu meruah lagi, dan Oom Febri tidak boleh tau itu......

Tuesday, August 30, 2005

Namaku bukan "Sholeh", Aunty....

Kejadiannya hari Minggu lalu di kelas bermain Abrar.
Ceritanya Abrar lagi pengen maen sendiri, enggak mau gabung sama temen-temennya, dia asyik naik turun tangga, loncat-loncat, bahkan rebahan di lantai.
Jadinya ummi sibuk membujuk Abrar agar mau bergabung sama temen yang lain.
Udah jadi kebiasaan ummi, manggil Abrar dengan semua panggilan indah; "Cinta", "Sayang", "Sholeh", "Good boy", "Pinter" nggak lupa "Luthfi", "Abrar", dan "Fathoni" pun keluar semua.
Tapi diantara semua panggilan itu, ummi paling suka "Sholeh", karena ummi betul betul ingin kelak Abrar jadi anak yang sholeh, amiin.
Eh, pas lagi serius mbujuk Abrar ( dengan sekian banyak kata "Sholeh"), dateng seorang aunty, menegur ummi dan Abrar dengan ramah, "Ayo main sana yuk sama temen-temennya", "Siapa namanya Mom ? Sholeh ya ?".
Dasar Abrar, dia masih asyik maen sendiri, tapi ummi terpaksa cengar-cengir menahan geli, hihihi, ummi wakilin aja Abrar buat jawab pertanyaan aunty, "Namaku bukan Sholeh, Aunty.....tapi Luthfi Abrar Fathoni", hehehehe

Oya, ngomongin soal panggilan Abrar, ummi suka diprotes sama tetangga dan teman-teman ummi, kata mereka, "Siapa sih panggilan anakmu sebenernya ?"
Soalnya emang ummi suka panggil "Luthfi", "Abrar" juga "Fathoni".
Whahaha, enggak tau juga deh, emang manggilnya suka-suka ummi :)
Dulu, ummi suka nama Luthfi, artinya lembut....
Lalu Fathoni, yang artinya cerdas......
Tapi belakangan ummi lebih suka manggil Abrar, artinya orang yang berbuat kebaikan....
Nama itu kan doa, ummi ingin Abrar lebih banyak berbuat kebaikan, makanya ummi doain terus, "Abrar....Abrar.....Abrar...., amiinn"
Mau manggil apapun, silakan aja kok, klo gak lagi serius merhatiin sesuatu, dipanggil apapun bagi Abrar gak masalah.
Asal jangan pas Abrar serius aja, bisa marah dia nanti, hehehe
Eh, tapi sekarang Abrar lebih suka memanggil dirinya sendiri dengan sebutan "Mas", kayaknya emang udah waktunya dia punya adek ya.....:))

Monday, August 29, 2005

Asthma

3 minggu lalu Abrar batuk pilek, seperti biasa ummi nggak berniat bawa Abrar ke dokter, biasanya kan flu sembuh sendiri.
3 hari kemudian, batuk pileknya berkurang, tapi nafas Abrar mulai berbunyi, saat malam tiba bunyinya makin jelas dan frekuensi bernafas Abrar jadi lebih sering, akhirnya Abrar pun dibawa ke rumah sakit.
Dokter bilang, ada kemungkinan Abrar menderita asma ( apalagi setelah dokter tau ummi dan mbah kung juga mengidap asma ), tapi diagnosa asma tidak bisa ditegakkan begitu saja pada anak seusia Abrar, harus dilakukan observasi lebih lanjut.
Alhamdulillah, setelah 2 malam Abrar sesak nafas, hari berikutnya Abrar mulai membaik, batuk pileknya pun mulai sembuh.
Tapi minggu kemaren Abrar mulai batuk pilek lagi, awalnya ummi pikir hanya batuk pilek ringan, apalagi batuknya batuk kering tanpa dahak, tapi hari ke 3 Abrar sesak nafas lagi, ummi pun membawa Abrar ke dokter lagi.
Dokter meminta Abrar diterapi inhalasi, alhamdulillah sesak nafasnya jauh berkurang, meski belum bisa dikatakan sembuh benar.
Jadinya, sekarang ummi yang bingung, seperti apa sih treatment yang benar bagi anak yang terindikasi menderita asma ?
Ummi memang menderita asma, tapi ummi bisa mengendalikan diri agar tidak terlalu capek dan stress yang bisa memicu asma kambuh.
Dan ummi sudah biasa pake inhaler yang diresepkan dokter tiap kali asma ummi kambuh.
Lalu bagaimana dengan Abrar ?
Apa ya bisa anak sekecil Abrar diberi kesadaran agak tidak terlalu capek bermain ?
Sebagai orang tua, apa yang bisa ummi lakukan agar gejala asma Abrar tak akan menjelma menjadi asma yg sesungguhnya ?
Atau kalaupun benar Abrar menderita asma agar frekuensi kambuhnya bisa diminimalkan sejarang mungkin ?
Mohon bantuannya, bagi yang mengetahui treatment bagi anak asma, plese let me know.....tks.

Learning Math with Albert

Ummi abis beli satu set buku baru, "Lerning Math with Albert" namanya, buat ngenalin konsep matematika sama Abrar.
Ummi dulu paling enggak suka sama pelajaran matematika, ummi nggak ingin Abrar seperti itu, gimanapun caranya, ummi ingin kelak Abrar beranggapan that Math is Fun :)
Bukunya bagus menurut ummi, terdiri dari 10 core books, 10 activity books, 5 CD ROM, dan seperangkat Magic Math Kit, oiya ada juga achievement chart dan stiker bintang untuk setiap kemampuan yg dapat dicapai anak.
Wah, ummi semangat banget mulai bacain buku ini ke Abrar. Semalem ummi dan Abrar udah mulai baca buku yang pertama, "Which is Bigger ?", dan Abrar pun mulai bisa menjawab kalo ditanya, "Bola siapa yang lebih besar ?" "Bola Abet !!!!"

Sekolah Abrar......

Hari minggu kemaren, sengaja ummi nganterin Abrar masuk kelas jam 12.00, bukan jam 09.00 karena paginya ummi, abi, dan Abrar jalan-jalan ke monas dulu, jalan dari rumah jam 6 pagi, ternyata jam 8 masih belom pengen pulang juga, akhirnya masuk sekolahnya molor jam 12.00 deh.
Ternyata lebih enak masuk jam segitu, kelasnya sepi, hanya ada sekitar 8 anak, biasanya di kelas jam 9 pagi lumayan rame, cuman sayang tempat parkirnya udah keburu penuh, susahhh banget dapet tempat kosong.
Abrar jadi lebih enjoy, dia mau ikut maen kereta api sama temennya, mau ikut bbrp permainan sama aunty nya, tapi tetep aja ada bbrp permainan yang dia tolak, "nggak mau ummi......."
Ummi abi enggak maksa, nurutin aja maunya Abrar maen apa, kata aunty gpp gak ikut temen-temen maen, Abrar mau maen sendiri juga boleh.
Abrar paling semangat klo waktunya mewarnai, ehhmm sebenernya bukan mewarnainya ya, tapi saat dia disuruh milih pensil warna apa yang akan dia pakai, hehehe
Baru sebulan Abrar sekolah, tapi udah mulai kelihatan kemajuannya, Abrar udah mulai enggak terlalu malu lagi bersosialisasi dengan orang lain..... Good, Boy !

Saturday, August 27, 2005

Abi Ugik dan Ummi Ninid

Belakangan Abrar suka diajari menjawab hal-hal yang seringkali ditanyain sama orang lain, misalnya namanya siapa, siapa nama abinya, siapa nama umminya, umurnya berapa, abi kerja dimana, bla bla
Efek dari pertanyaan-pertanyaan itu, Abrar jadi gemar menyebut "abi" dengan "abi ugik" dan "ummi" dengan "ummi ninid"
Kata-kata ummi dan abi udah nggak pernah lagi disebut tanpa embel-embel ugik dan ninid, hahaha lucu sekali.
Dikit-dikit, Abrar mengatakan "ummi ninid" dan "abi ugik", misalnya "mana ummi ninid tadi" atau "abi ugik pegi ke kantoy" atau "abi ugik baca koyan" atau "mau gendong ummi ninid"
Waduh, jadi seolah-olah ummi sama abinya Abrar itu buanyaaakkk banget, sampe harus dipanggil plus namanya, hehehe

Friday, August 26, 2005

MBA

Kemaren ummi dapet gelar baru dari abi, Management by Accident.
Gara-garanya, ummi suka memutuskan sesuatu dengan grasa-grusu, nggak bandingin dulu apa untung ruginya, tapi udah ambil keputusan duluan, klo ternyata ada ruginya ya nyesel belakangan.
Atau ada kejadian yang bisa dicegah, tapi akhirnya terjadi juga, baru pencegahan dilakukan, haha.
Ummi sih ketawa-tiwi aja dibilangin begitu sama abi, tapi jauuuhhh di dalam lubuk hati, ummi meyakini apa yang dikatakan abi itu benar ( meskipun tidak semua keputusan ummi ambil dengan prinsip MBA lho )
Ummi janji dalam hati, mau memperbaiki management diri, biar gelar MBA itu cepet-cepet dicopot sama abi, hihihi.

Tuesday, August 16, 2005

Ulang Tahun

Hari ini Abrar ulang tahun yang kedua.
Alhamdulillah, Abrar telah tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan ceria.
Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya buat Abrar, melindungi dan menjaga Abrar, menjadikan Abrar kelak berada dalam barisan orang-orang sholeh yang akan selalu berjuang menegakkan agama-Nya. Amin.
Nothing special di hari ultah Abrar, tidak ada kue, tidak ada balon, hanya limpahan peluk dan doa.
Smoga kelak Abrar menyadari, bahwa pertambahan usia bukanlah untuk dirayakan, tapi lebih layak untuk direnungi.
Kemarin, Mbah Ti dan Mbah Kung mengadakan syukuran ultah Abrar.
Mbah Ti bikin nasi kuning banyak sekali, lalu ditata dalam kardus trus dibawa ke puskesmas untuk dibagikan ke teman-teman Mbah Ti, wah sampe repot deh.
Trus Oom Febri ngeprint foto Abrar yang pake sarung dan bawa sajadah itu pake colour printer trus ditempelin di atas kardusnya, plus permohonan doa buat Abrar.
Waahh, terimakasih ya Mbah Ti, Mbah Kung, dan Oom Febri, hanya Allah yang mampu membalas itu semua.

Ini bbrp ucapan buat Abrar dari temen ummi:

toex_k: SELAMAT ULANG TAHUN LUTHFI, SEMOGA PANJANG UMUR, CEPET PINTER, BERBAKTI SAMA PAPA&MAMA.

dianekawhy (16/08/2005 7:44:37): Hani said : 'Happy 2nd anniversary Kakak Luthfi, semoga mendapatkan usia yang barokah'

lyst_agustian: buat dek Abror : Selamat Ulang Tahun yg ke 2 ya
lyst_agustian: semoga berkah amiin

eko_pct: Turut mengucapkan selamat ULTAH yg ke-2 buat si mutiara kecil, semoga panjang umur, sehat selalu serta bertaqwa kpd Allah SWT serta berbakti kpd kedua ortu....

Ke Rumah Adek Deeja

Hari Sabtu pagi, Abrar ummi abi dan bude pergi ke rumah adek Deeja, anaknya oom Hudi dan tante Selly.
Adek Deeja masih terlalu kecil, jadi blum bisa diajak maen sama Abrar.
Eh, tapi waktu ummi pengen gendong adek Deeja, Abrar kasih ijin lho, ga papa katanya.
Di rumah adek Deeja, Abrar betah banget, Abrar loncat sana sini, maen sendiri, pokoknya enjoy deh, padahal biasanya Abrar gak begitu suka lho diajak ke rumah teman ummi/abi.
Rumah adek Deeja di Cibinong, deket rumahnya mas Ammar, anaknya tante Yusi sama oom Andri. Udaranya segerr banget, nggak panas, perumahannya juga bersih dan rapi, bikin ummi kepincut, hehehe.
Waktu mau mampir ke rumah mas Ammar, ternyata mas Ammarnya lagi pergi ke Puncak, wahh ga jadi deh.
Oiya, Abrar juga lengket banget sama oom Hudi, Abrar mau digendong, mau dipangku, Abrar tanya ini itu, pake ilmu pelet apaan ya oom Hudi, kok Abrar sampe nempel gitu ???

Monday, August 15, 2005

Abrar masuk sekolah......

Minggu lalu, Abrar mulai masuk Tumble Tots di Mall Ambasador. Hari pertama trial dulu, dan akhirnya ummi abi mutusin daftarin Abrar sekalian.
Abrar cuma masuk sekali seminggu, hari Minggu jam 9 pagi, satu kelas sama Mba' Orlin, anaknya Oom Hari sama Tante Lilies.

Minggu pertama, pas mau berangkat trial, ummi sama abi sempet deg-degan juga, gimana kalo Abrar rewel dan nggak mau ikut kelas sampai selesai ?
Ternyata kekhawatiran itu beralasan, tadinya Abrar mau duduk tenang merhatiin aunty dan uncle bicara, Abrar juga mau ikut tepuk tangan dan pura-pura jadi pesawat terbang.
Tapiii, 15 menit menjelang kelas usai, Abrar mulai kelihatan bosan dan gelisah, akhirnya ummi pun minta Abrar keluar lebih dulu.

Minggu kedua, Abrar mulai terlihat lebih enjoy, walaupun belum mau bergabung dengan teman-temannya tapi Abrar nggak minta keluar kelas.

Tadinya ummi kecewa, pengennya Abrar bisa lebih cepat adaptasinya, tapi ummi harus sabar. Semuanya butuh proses, dan ummi tak boleh memaksakan kehendak ummi pada Abrar........

Monday, August 01, 2005

TOLONG, TERIMAKASIH, dan MAAF

3 kata itu kunci agar seorang anak bisa bersikap santun, dari dini, sejak Abrar belajar ngomong, kata itu benar benar ummi dan abi tekankan.
Kalau mau minta diambilin sesuatu atau dibantu melakukan sesuatu harus bilang tolong, kalau sudah dibantu jangan lupa bilang terimakasih, dan kalau merepotkan seseorang atau tanpa sengaja melukai atau melewatinya harus bilang maaf.
Gampang-gampang susah mengajari Abrar mengucapkan tiga kata itu, terutama kata "maaf".
Entah kenapa kata itu paling susah dibiasakan, sedangkan kata tolong dan terimakasih keluar bagai air mengalir, hehe
Saat Abrar tanpa sengaja menabrak temannya, atau menumpahkan air pada baju bude, sulitt sekali membujuknya mengucapkan maaf.
Hmm, mungkin itu gambaran egonya yang masih tinggi ya, dia enggak mau disalahkan atas peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi itu, mengucapkan maaf kan secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa kita yang bersalah.
Tapi hari-hari belakangan ini keajaiban terjadi, merasa bersalah sekecil apapun, kata maaf langsung keluar dari mulutnya, bahkan mau melewati abi yang sedang duduk aja Abrar berulangkali bilang, "abi, maafs, maafs"
Yang lucu, Abrar masih sulit mengatakan maaf dengan benar, sama seperti mengucapkan kata-kata lain yang memang agak sulit, tapi kata maaf ini suka bikin ummi dan abi tergelak, habis Abrar ngomongnya, maafs......maafs........maafs.......hehe, kaya grup lawak di API yang kalo ngomong suka diakhiri huruf 'ks' itu, limau ya kalo ga salah.
Kata terimakasih juga punya banyak cerita, Abrar seringkali mengingatkan ummi atau abi kalay lupa menyampaikan terimakasih, seperti saat membayar di pintu tol, meskipun abi sudah bilang terimakasih ( tapi pelan ), Abrar suka ngingetin "macacih oom, gitu biii..." dan terpaksalah abi bilang terimakasih lagi dengan suara lantang.
Lalu kisah lucu tentang kata tolong, Abrar suka menggunakan kata itu sebagai senjata. Di saat ummi berusaha tegas melarangnya melakukan sesuatu, dia sering mengatakan "tolong". Misalnya Abrar seringkali minta diambilkan mainan di saat Abrar seharusnya tidur, kalau ummi bilang "enggak usah ya", Abrar pasti bilang, "ummi, toyong ambil mainan ummi, toyongggg.....", wahhh, umi jadi enggak tega nolaknya.......:(

Semoga 3 kata ini akan selalu jadi kata "ajaib" yang akan Abrar bawa sampai dewasa, amiinnn.

Huruf S atau huruf YA' ?

Abrar udah mulai hafal beberapa huruf hijaiyah, yang paling Abrar hafal yaitu alif, ba, tsa, miem, ain, ghoin, hamzah, lam, dan ya'.
Kadang-kadang Abrar ngetes ummi, abi, atau bude, "ini huyuf apa hayoooo ?" :D
Kemaren siang, waktu ummi dan Abrar lagi main rumah-rumahan pake karpet puzzle huruf yang gede-gede itu, tiba-tiba Abrar teriak, "ummiiii, ada huyuf ya'"
Ummi jadi kaget, puzzle itu kan hurufnya latin bukan hijaiyah, mana ada ya' ?
Olala, ternyata yang dimaksud ya' sama Abrar itu huruf S, hehehe
Ternyata Abrar lebih ngeh ke huruf hijaiyah daripada huruf latin, huruf latin yang Abrar hafal cuma "T" dan "B".
Ummi bilang, "Oww, itu mirip huruf ya' ya ? Sebenernya itu huruf S sayang, huruf ya' hampir sama seperti itu, tapi di bawahnya ada dua titik" hehehe

~jadi pengen cepet ngajarin iqro' nih, tapi blum boleh sama abi, kira-kira kapan ya waktu yang tepat ?~

Friday, July 29, 2005

Cacar Air

Minggu kemaren oom Febri kasih kabar, katanya mau sidang TA minggu ini, oom minta doa dari ummi dan abi, biar ujiannya lancar dan lulus dengan hasil yang bagus, insya Allah, semua selalu doain.
Selasa pagi-pagi, ummi nelpon oom Febri dari kantor, katanya oom lagi sarapan, wahhh umi kaget, biasanya kan oom baru sarapan jam 11-an biar enggak tambah gemuk katanya, tapi ini kok jam 7 dah sarapan ??? "Aku stress Mbak", gitu katanya.
Trus Kamis malem, mbah kung nelpon, mbah kung bilang kalo oom Febri kena cacar air, waduh gubrakksss, kasihan kan ? Udah mau ujian, stress, kena cacar air pula, tapi Allah pasti punya tujuan baik di balik semua itu. Tapi abis ditelpon mbah kung itu ummi ga terlalu mikirin, oom Febri itu kan biasanya tahan sakit, lagipula sakitnya kan udah jelas, cacar air, jadi umi ga terlalu khawatir.
Tapi setelah ummi nelpon langsung tadi pagi, ummi jadi sedih dan kepikiran, suaranya lemessssss banget, kelihatan jelas klo lagi nahan sakit, katanya demamnya gak turun-turun dari hari Senin, wahh udah 5 hari, udah bolak balik minum parasetamol tapi bbrp jam kemudian pasti langsung demam lagi, udah gitu oom Febri sekarang lagi di kostan, gak ada yang bisa diandalkan untuk ngurus, mungkin ada temen kost nya, tapi apa ya telaten ? ( mudah-mudahan ada yang telaten ya )
Sampai sore ini oom Febri masih demam, cacarnya mulai muncul di seluruh tubuh, padahal besok pagi oom Febri harus sidang. Rencananya mbah kung & mbah ti mau ke Solo sore ini nengokin oom Febri lagi ( kemaren mbah kung mbah ti dah kesana ), mbah ti enggak tega ninggalin oom Febri sakit sendiri.
Cepet sembuh ya oom, kami semua ikut sedih kalo oom sakit.....
Semoga besok lancar ya sidangnya, dengan hasil yang terbaik, amiinnnn.

Akhirnya, si Lumba-lumba pun bisa mandi....

Seminggu ini abi, ummi dan bude sibuk membujuk Abrar agar "rela" membiarkan boneka lumba-lumbanya dicuci, tapi setiap kali ditanya, jawabannya selalu, "enggak boyeh".
Boneka lumba-lumba warna biru yang jauh lebih besar dari Abrar itu sekarang jadi boneka kesayangan yang sulit digantikan dgn yang lain.
Warnanya kini bukan lagi biru putih cerah seperti saat pertama kali dibeli, tapi menjelma menjadi biru pudar dan abu-abu :D.
Saat Abrar mau bobok, si lumba-lumba harus ada disampingnya sambil sesekali dipeluk dan dicium dengan mesra, duuuhh.
Dan di pagi hari saat bangun tidur, lumba-lumba jadi makhluk pertama yang dicari baru ummi dan abi.
Siang hari saat asyik main pun Abrar bisa tiba-tiba mencari lumba-lumbanya, lalu memeluknya eraaaatttt banget, seperti berbulan-bulan nggak ketemu, hahaha.
Seringkali lumba-lumba juga dijadiin kuda tunggangan yang bisa nganter Abrar mengelilingi dunia imajinasinya.
Atau teman mengobrol yang asyik ( Abrar nanyain beberapa pertanyaan sama si lumba-lumba, lalu dijawabnya sendiri, hehe ).
Itulah sebabnya, kemanapun Abrar pergi, asal memungkinkan si lumba-lumba pasti akan dibawa serta.
Seperti waktu pulang ke rumah mbah ti awal Juli lalu, si lumba-lumba membuat ummi harus membawa travel bag yang besar sekali, padahal barang yang dibawa sebenernya cuma sedikit.
Biasanya sebulan atau dua bulan sekali si lumba-lumba dicuci.
Tapi beberapa bulan ini si lumba-lumba nggak bisa dicuci karena Abrar nggak rela berpisah dengannya seharian.
Awalnya sih enggak masalah, tapi lama-lama si lumba-lumba jadi kelihatan jorok, dekil, dan bau.
Sampai akhirnya, 2 hari yang lalu sebelum bobok tiba-tiba Abrar mengadu, "abi, lumba-lumba bau", katanya.
Abi tertawa, lalu Abi mengusulkan, "gimana kalo besok lumba-lumba mandi, biar bersih dan wangi", "iya" kata Abrar.
Akhirnya setelah melalui proses negoisasi yang alot, hehe, pagi ini Abrar memberikan "ijin resmi" pada bude untuk mencuci si lumba-lumba, itupun Abrar harus diyakinkan lebih dulu bahwa dia akan bermain dan tidur siang tanpa si lumba-lumba sampai si lumba-lumba kering sore nanti.
Dan lucunya, sebelum si lumba-lumba masuk ke mesin cuci, Abrar menciumi dan memeluk dia dulu seolah olah enggak tega berpisah, wah wah....
Ummi jadi agak khawatir, takut Abrar jadi ketergantungan dan kecanduan sama si lumba-lumba.
Gimana kalo ternyata suatu saat kami harus pergi ke suatu tempat dan tidak bisa mebawa si lumba-lumba turut serta ?

Thursday, July 14, 2005

Rumahku Syurgaku

Akhir-akhir ini entah kenapa banyak sekali temen temen ummi yang membicarakan masalah rumah. Ada yang rumahnya mau direnovasi dan sedang sibuk mencari referensi kesana kemari, ada yang rumahnya selesai direnovasi lengkap dengan foto foto yang menunjukkan rumah yang betul betul indah, ada yang akan segera pindah ke rumah barunya. Mereka semua tentu sedang bergembira dan bersemangat, akan segera menempati rumah baru yang dibeli dan dibangun dengan jerih payah selama bertahun tahun, bahkan mungkin ada yang menyisakan cicilan yang harus dibayarkan sampai beberapa tahun ke depan. Dan dulu, ummi pun pernah merasakan kegembiraan dan semangat itu.

Lalu entah kenapa seiring dengan cerita teman teman itu, rasa syukur perlahan meluntur. Karena satu hal, mereka semua akan segera menempati sebuah rumah indah dan asri di lingkungan perumahan yang biasanya selalu tertata rapi, lengkap dengan jalan-jalan yang lebar dan mulus, taman-taman yang hijau dan segar, atau mungkin juga sportcenter yang bisa diakses kapanpun dengan mudah, karena memang dekat dengan rumah. Selama ini ummi belum pernah merasakan hal-hal itu, karena kami selalu memutuskan membeli rumah di daerah perkampungan, karena alasan-alasan tertentu yang saat itu kami pikir sangat logis dan rasional. Kami seringkali bersilaturahim ke rumah teman-teman kami yang tinggal di daerah perumahan, dan seringkali iri dengan lingkungan yang mereka tempati. Lingkungan yang bersih, tenang, jauh dari polusi, bahkan yang tinggal jauh di pinggiran, udaranya betul betul masih sejuk sekali. Mana ada hal hal seperti itu yang bisa kami rasakan di rumah kami sekarang ?Memang rumah kami sekarang ada di pertengahan kota, di tepi sebuah jalan yang sangat ramai di sore hari, bahkan pada hari Sabtu, Minggu, atau hari hari libur sekolah, keramaian itu bisa berlanjut sampai dini hari. Belum lagi debu yang luar biasa yang membuat kami tak betah membuka pintu rumah berlama-lama, kecuali sebelum jalanan di depan rumah kami guyur dengan air sampai benar benar basah, itupun tak menutup kemungkinan asap knalpot bajaj, motor, dan mobil yang lalu lalang tetap memaksa memasuki setiap lubang yang terbuka. Masalah lain muncul ketika ada tetangga sebelah rumah kami yang menyetel kaset keras-keras atau sedang bergurau dengan anggota keluarganya. Karena memang jarak antar rumah yang tak sampai satu meter. Atau ketika ummi ingin sekedar menanam bunga atau tanaman lain, keinginan begitu besar tapi tidak ada tempat yang memungkinkan, untunglah abi memutuskan membuatkan sebuah rak kayu di teras untuk meletakkan bunga bunga itu, itupun dengan konsekuensi tanamannya lebih cepat mati karena jarang terkena sinar matahari.
Semua alasan itulah yang menyebabkan ummi akhir akhir ini sangat memimpikan mempunyai sebuah rumah di perumahan, lengkap dengan taman yang hijau, halaman belakang tempat bercocok tanam atau memelihara ayam dan kelinci, dan taman bermain dekat rumah yang memungkinkan Abrar berlari-lari disana dengan teman temannya tanpa ummi khawatir dia akan ada ojek atau bajaj yang lewat, dari titik inilah rasa syukur itu melayang entah kemana. Bahkan jika suatu saat abi menawarkan ingin membeli rumah di perumahan, ummi pun sudah tahu perumahan mana yang sangat ummi inginkan.

Lalu akhirnya, di sebuah malam dengan penat yang luar biasa, ummi mencoba menguraikan semuanya. Jarak rumah kami hanya 15-20 menit perjalanan ke kampus maupun ke kantor. Dengan jarak sedekat itu saja, kadang ummi masih merasakan kecapekan yang sangat setelah pulang ke rumah, bagaimana bila ummi harus pulang ke Bekasi, Cibubur, Cibinong, atau mungkin Bogor ? Tentu rasa capeknya berlipat ganda. Memang salah satu pertimbangan kami membeli rumah di daerah kota adalah karena ummi masih kuliah, satu atau dua jam waktu yang habis di perjalanan sangat berarti bagi kebersamaan Abrar dan kami. Lalu lokasi rumah kami sangat dekat dengan rumah sakit besar dan dokter spesialis anak yang menangani Abrar dari bayi. Jadwal kontrol dan imunisasi jadi tidak memberatkan, apalagi jika Abrar sakit dan harus segera berkunjung ke dokter. Lokasi yang dekat dengan kota pun memudahkan ummi jika ingin mengikuti seminar seminar tentang anak dan kesehatan yang seringkali diadakan di daerah kota, seringkali ummi mendengar alasan teman-teman ummi melewatkan seminar bagus karena jarak rumah yang terlalu jauh. Lalu ikatan kekeluargaan dari para tetangga ~yang sebagian besar udah sepuh dan kebanyakan dipanggil "mbah" oleh Abrar~ sangat akrab satu sama lain, mungkin tidak akan kami dapatkan di lingkungan perumahan yang notabene warganya adalah keluarga keluarga muda yang sangat sibuk. Dan satu hal lagi yang sangat sangat harus diingat, di rumah ini ummi merasa sangat nyaman, jauh lebih nyaman dibandingkan dengan beberapa rumah terdahulu yang pernah kami tempati ( mudah mudahan ini merupakan satu bukti bahwa Allah memberkahi rumah kami, amiiinn ). Betapa naifnya, jika ummi tak mampu mensyukuri semua itu. Bahkan lebih ironis lagi melihat saudara saudara kita yang tinggal di kolong kolong jembatan, atau mengingat betapa banyak teman teman yang masih tinggal di rumah kontrakan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?

Jadi, bagaimanapun bagusnya kondisi rumah teman-teman kami, di perumahan manapun yang asri dan tertata rapi, tak akan menggoyahkan cinta pada rumah kami dan limpahan rasa syukur pada-Nya yang telah memberikan rizki tak terhingga berupa kesempatan tinggal bersama-sama di rumah kami tercinta.

~Yaa Allah, bimbing kami untuk selalu menjadi hamba Mu yang pandai bersyukur ~

Thursday, July 07, 2005

Pesawatku....terbang ke Jogja...

Cerita lucu minggu lalu, saat ummi, Abrar, dan Mbah Kung mau berangkat ke Jogja. Harusnya kami berangkat pake Wings Air flight pukul 19.15
Tapi karena hujan deras yang bikin jalanan jadi makin macet, kami terlambat sampai bandara.
Lucunya waktu Abrar tanya, "ummi mana pesawatnya" dan ummi bilang kalau pesawatnya udah terbang, Abrar dengan sedih berkata, "yahhh, pesawatnya jalan...."
Wah, ternyata Abrar udah pinter menyampaikan emosi lewat kata-kata, bukan hanya lewat tangisan atau kemarahan.

Friday, June 24, 2005


Itu apa yaaa ? Posted by Hello

Abrar dan Nabilla Posted by Hello

Mo pegi jayan jayan cama umi abi Posted by Hello

Sholat di masjid yukkkk ! Posted by Hello

bila Abrar bercerita

Abrar semakin lama semakin pintar dan lucu, tentu saja tho ya Abrar kan makin besar.....
Kosakatanya semakin banyak dan membuat dia jadi sosok anak yang gemar bercerita, kata lain yang lebih indah untuk menggambarkan kecerewetannya :D

Saat membuka sebuah halaman buku yang menggambarkan sekelompok anak sedang bermain, ia akan langsung berkisah dengan ceria, "ini mbak dea, ini mbak dipa, ini mas koki, ini abow....eh ada kucin juga, bawa baying baying, baling baling utey utey....ada anjin, anjin nggak bawa baying baying" ( ini mbak dea, ini mbak diva, ini mas rofi, ini abrar....eh ada kucing juga, bawa baling baling, baling baling muter muter....ada anjing, anjing enggak bawa baling baling )

Atau ketika pulang jalan jalan naek motor sama abi, dia pun akan bercerita " tung tung tung, tuyun, keta lewat, tut tut tut, tyus tung tung tung naek lagiiiiiiiii " ( tung tung tung turun, kereta lewat, tut tut tut, trus tung tung tung naek lagi, yang dimaksud tung tung tung sama Abrar itu adalah palang pintu di persimpangan jalan dan rel kereta api )

Sebelum bobok tadi malam pun, Abrar cerita tentang mas rofi yang biasa dia panggil mas koki, "tadi maen cama mas koki, maen kupo, maen peda, mas koki njem peda gituuuu" (tadi maen sama mas rofi, main pukul/palu ( susah banget dibenerin jadi pukul ), maen sepeda, mas rofi pinjem sepeda gitu )

Lalu setelah mendengar rentetan cerita Abrar, ummi dan abi pun tertawa terbahak bahak, raut wajahnya yang lucu membuat semua semakin geli. Ada saatnya Abrar pun menunggu komentar ummi tentang apa yang Abrar ceritakan, dan ummi pun tak dapat berkata kata, hanya tepuk tangan yang ummi hadiahkan.......

~Teruslah bercerita Nak, kapanpun ummi akan selalu bangga mendengarkan, bahkan hingga kau besar nanti. Dan betapa bangganya hati ummi nanti, bila kau menjadikan ummi orang yang pertama kali mendengerkan semua hal yang kelak akan kau alami. ~

Thursday, June 23, 2005

terlalukah ?

nak
ummi sudah kangen kamu
meskipun baru satu jam yang lalu ummi meninggalkanmu

ummi sudah merindukan harum tubuh dan rambutmu
meskipun baru beberapa saat lalu ummi memandikan dan mengeramasimu
lalu memakaikan bajumu
masih ingatkah kamu saat meminta ummi berkumur kumur dengan gayung kecilmu ?
lalu kamu tertawa gembira...........

ummi sudah sangat ingin berjalan di sampingmu
sambil menggandeng tangan mungilmu
lalu kita berlomba lari menyusuri jalan jalan yang sepi
seperti pagi ini.......
lalu kamu merajuk, saat merasa sudah tertinggal jauh dari ummi
lalu kita bersama sama mencari abi yang sengaja bersembunyi
padahal baru beberapa saat yang lalu peristiwa indah itu umi alami

ummi ingin mendengar lagi engkau bertanya, "mana ummi ?"
seperti saat matamu pertama kali terbuka pagi ini
ummi merasa sangat berharga nak
ummi lah orang yang pertama kau cari saat kau terjaga
dari mimpi mimpi indahmu

terlalu berlebihankah keinginan ummi untuk bersamamu setiap waktu permataku ?

Episode Cinta Untuk Rahmat Abdullah

20 June 2005 - 12:34

Merendahlah,
engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina
(Rahmat Abdullah)

Seperti tak percaya aku mendengar kabar itu: kau sudah
pergi untuk selamanya. Dan kenangan demi kenangan
berkelebat cepat di benakku, menyisakan satu nama: Rahmat
Abdullah.
Kita memang tak banyak bertemu, tak banyak bercakap. Tapi
percayakah kau, aku menjadikanmu salah satu teladan diri.
Kau menjelma salah satu sosok yang kucinta. Tahukah kau,
hampir tak ada tulisanmu yang tak kubaca? Dan setelah
membacanya selalu ada sinar yang menyelusup menerangi
kalbu dan pikiranku. Tidak sampai di situ, buku-bukumu
selalu membuatku bergerak. Ya, bergerak!
Kau mungkin tak ingat tentang senja itu. Tapi aku tak akan
pernah melupakannya. Saat itu kau baru saja pulang dari
rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanmu. Aku dan
seorang teman menunggumu. Kami membutuhkanmu untuk memberi
masukan terhadap apa yang tengah kami kerjakan. Tanpa
istirahat terlebih dahulu, dengan senyuman dan
kebersahajaan yang khas, kau menemui kami. Tak kau
perlihatkan bahwa kau sedang tak sehat. Bahkan kau bawa
sendiri makanan dan minuman untuk kami. Dengan riang kau
menyemangati kami.
"Ini kebaikan yang luar biasa," katamu. "Bismillah.
Berjuanglah dengan pena-pena itu!"
Lalu kami mengundangmu untuk hadir pada acara milad
organisasi kecil kami. Sekadar menyampaikan undangan, dan
tak terlalu berharap kau datang, karena kami tahu kau
sangat sibuk dengan begitu banyak persoalan ummat.
Hari itu, bulan Juli 2002, milad ke 5 organisasi kami:
Forum Lingkar Pena. Semua panitia direpotkan oleh banyak
hal yang harus dikerjakan. Aku masih sempat bertanya pada
panitia: "Adakah yang menjemput Pak Taufiq Ismail dan Pak
Rahmat Abdullah?"
Panitia menggeleng. Banyak yang harus dikerjakan. Tak ada
mobil atau tenaga untuk menjemput.
Sudahlah, pikirku. Pak Taufiq dan Pak Rahmat terlalu besar
untuk hadir di acara seperti ini.
Aku hampir melompat ketika melihat Pak Taufiq Ismail
datang sendirian dengan taksi dan menyapa kami riang. Dan
aku tak percaya ketika tak lama kemudian kau muncul!
"Ustadz, terimakasih sudah datang. Kami tidak menyangka...,"
sambutku.
Kau tersenyum. "Saya sudah agendakan untuk datang,"
katamu. "Ini acara FLP. Istimewa."
Mataku berkaca. Ini ustadz Rahmat Abdullah, ia terbiasa
diundang sebagai pembicara dalam berbagai acara nasional
sampai internasional. Dan kini ia sudi hadir sebagai
undangan biasa!
"Maaf ustadz tidak dijemput. Ustadz naik apa tadi?"
Naik bis. Tempatnya mudah dicari," katamu biasa.
Kau sempat turut memberikan award dalam acara tersebut dan
memimpin doa penutup. Aku menangis mendengar doa yang kau
lantunkan, Ustadz. Kau berulangkali mendoakan agar
organisasi kami: FLP selalu bisa melahirkan para pemuda
yang tak akan berhenti berjuang dengan pena....
Pada akhir acara, kau turut berjongkok bersama para pemuda
lainnya dan menandatangani spanduk yang kami gelar
bertuliskan "Sastra untuk Kemanusiaan."
"Saya mencintai sastra dan suka membuat puisi," ceritamu.
Hari itu kehadiranmu benar-benar memberi semangat baru
bagi kami.
Ustadz, aku selalu mengenangmu sebagai suami dan ayah yang
baik dalam keluarga. Sebagai guru sejati bagi ribuan da'i.
Dan ketika kau terpilih menjadi anggota DPR RI tahun 2004
lalu, tak ada yang berubah darimu, kecuali usaha yang
lebih keras untuk membuat rakyat tersenyum. Dalam
keadaanmu yang sederhana, kau tak berhenti memberi zakat
dan infaq dari gajimu. Kau satu dari sedikit orang yang
pernah kutemui, yang sangat berhati-hati dengan amanah dan
berjuang untuk menunaikannya tanpa cacat.
Ah, pernahkah kau meminta tarif untuk mengisi ceramah? Tak
ada. Kau bahkan pernah berkata: "Alhamdulillah ada lagi
orang yang mau mendengarkan taushiyah dari hamba Allah
yang lemah ini."
Terakhir kali kita bertemu, Ustadz, di sebuah jalan raya,
sekitar akhir tahun lalu. Dan aku tak percaya, kau-anggota
dewan yang terhormat--- masih saja menyetop kopaja.
Kini dalam usia 53 tahun, kau pun kembali untuk selamanya.
Ribuan orang, tak terhingga orang, datang mengiringi untuk
terakhir kali, sambil tak henti bersaksi tentang
keindahanmu.
Selamat jalan, Ustadz. Jalan kebaikan dan cinta yang
selalu kau tempuh di dunia, semoga mengantarkanmu ke
gerbang yang paling indah di sisiNya. Amiin.

(Helvy Tiana Rosa)

tulisan mbak Helvy ini diforward oleh seorang teman
sungguh, hati ini pun turut merasa kehilangan
meskipun tidak pernah mengenal beliau dengan dekat
hanya mendengar sebuah nama dari ribuan dengung kebaikannya
masihkah ada kesempatan, menimba ilmu dari seorang sholeh seperti dirinya ?

Monday, June 20, 2005

Perhatikanlah Aku!

taken from www.eramuslim.com

Perhatikanlah Aku!
Publikasi: 26/05/2005 09:36 WIB

eramuslim - Pernahkah mendapati tiba-tiba saja anak anda menjadi begitu rewel? Ia menangis, merengek, merajuk tak bisa dihentikan sampai membuat anda begitu lelah menghadapinya. Di tengah kesibukan si ibu yang tak kalah repotnya mengurusi pekerjaan rumah, tangisan serta tingkah anak yang demikian tentunya akan menambah berat tugasnya.
Kadang di tengah kelelahan itu, kita tak lagi sempat mengontrol emosi dan meningkatkan volume kesabaran untuk menghadapi si buah hati. Belum lagi pikiran yang suntuk harus menyelesaikan permasalahan yang tengah dihadapi; masalah uang belanja, tagihan listrik, tagihan telepon, iuran bulanan lingkungan rumah, dan sebagainya, tentunya akan menambah penat yang teramat sangat. Apakah yang akan dilakukan ibu bila berada dalam kondisi demikian? Tak mengacuhkan si anak, tentunya tak juga akan menghentikan rengekannya. Menghardik serta memarahinya, akan membuat tangisannya bertambah keras. Membungkam mulutnya dengan cubitan dan pukulan? Na'udzubillahi min dzaalik…semoga itu tidak termasuk ke dalam 'pilihan tindakan' yang akan kita lakukan.
Kenyataannya, tak sedikit anak-anak harus menjadi 'korban' dari kekerasan yang dilakukan oleh orang tua, baik disengaja maupun tidak. Awalnya memang hanya cubitan kecil dan pukulan ringan, gemas karena si kecil tak mau menurut. Namun ketika emosi sedang tak terkendali, dan tindakan tersebut telah menjadi kebiasaan, bisa-bisa tak sekadar cubitan dan pukulan ringan yang dilakukan. Entah apapun alasannya, melakukan kekerasan dalam bentuk apapun terhadap anak bukanlah pola mendidik yang patut dilakukan.
Seorang anak akan mempelajari dan merekam dengan cepat apapun peristiwa yang ia alami. Bila kekerasan yang selalu ditampilkan oleh orang tua di rumah, maka itu pula yang akan paling diingat olehnya, dan bisa jadi itu pula yang akan ia lakukan terhadap orang lain kelak. Masa kecil adalah masa emas yang akan menjadi memori sepanjang masa bagi seorang anak. Tak jarang tingkah polah seseorang ketika dewasa adalah akibat apa yang ia alami sepanjang masa kecilnya.
Seringkali kita tak menyadari, bahwa 'tingkah' yang anak perbuat di depan orang tua maupun di depan orang banyak, biasanya adalah usahanya untuk menarik perhatian si ibu atau ayah. Mungkin saja ia merasa bahwa kedua orang tuanya begitu sibuk seharian, sehingga perhatian dan belai sayang yang ia butuhkan tak terpenuhi. Bagi anak, belaian sayang, waktu untuk bercakap-cakap, bercanda dan bermain, adalah jauh lebih berharga dibandingkan dengan berapapun uang yang disisihkan untuknya. Menyalurkan emosi dan cinta pada anak, tak akan pernah bisa dibandingkan dengan berapapun jumlah materi yang dilimpahkan untuknya. Disamping memanjakan anak dengan materi tak selalu baik dan bukanlah pola pendidikan yang tepat baginya.
Sebagai contoh, saya memiliki seorang sepupu yang masih berumur empat tahun. Belakangan ini, ia menjadi begitu 'nakal' dan bertingkah yang merepotkan ibunya, terutama ketika ada orang yang berkunjung ke rumahnya. Padahal, ketika ia menginap atau bermain siang sampai sore hari di rumah saya, ia tak pernah sekalipun merepotkan kami. Malah ia menjadi sangat penurut dan tak pernah bertingkah macam-macam. Namun ketika ibu atau ayahnya datang menjemput, atau kami sedang bersama-sama orang tuanya di suatu tempat, perilakunya berubah. Hal ini terus terjadi berulang-ulang.
Suatu ketika, si kecil ini mendatangi ibunya yang sedang asyik mengobrol dengan ibu saya di meja makan. Ia menarik-narik tangan ibunya untuk ikut dengannya melihat sebuah tayangan yang sedang ia saksikan di televisi. Ibunya tak mau beranjak dan terus asyik mengobrol. Tak berapa lama, ia pun berteriak-teriak, melempar barang yang sedang ia genggam, dan memukuli ibunya. Bisa ditebak, si ibu pun menjadi marah dan menghardiknya. Hal ini sudah sangat biasa saya saksikan. Kejadian yang berulang, dan selalu bisa ditebak akhirnya. Padahal permintaan si anak begitu sederhana, ia hanya ingin ibunya ikut menyaksikan apa yang sedang ia tonton dan sedikit mengomentari. Hal kecil, namun ternyata begitu sulit dilakukan.
Kadang kita tak menyadari, bahwa ketika kita tidak menaruh perhatian pada apa yang dilakukan anak, ia mungkin akan menganggapnya sebagai hal yang besar. Walaupun bentuk perhatian itu sepele dan sangat mudah dilakukan, ternyata cukup banyak yang merasa kesulitan menjalankannya. Berbagai alasan mendasari perilaku orang tua yang 'tidak memedulikan' anak, di antaranya adalah kesibukan. Orang tua yang bijak tentu dapat memberikan pengertian pada anak, bahwa saat itu ayah atau ibu sedang mengerjakan sesuatu, sehingga anak pun akan belajar 'berempati' pada orang tua. Ini adalah salah satu strategi untuk mendidik anak agar tidak manja dan dapat belajar memahami kondisi orang lain. Seperti halnya menghadapi anak yang gemar meminta dibelikan mainan. Mungkin bila tak mau repot, kita bisa saja mengeluarkan uang dan langsung membelikannya. Namun hal tersebut tentu tak baik bagi perkembangan anak.
Dalam psikologi perkembangan anak, dikenal sebuah kondisi yang dinamakan Temper Tantrum atau luapan emosi yang meledak-ledak atau tidak terkontrol. Berbagai macam faktor yang menyebabkannya, di antaranya adalah karena tidak terpenuhinya kebutuhan anak, terhalangnya keinginan anak dalam mendapatkan sesuatu, pola asuh orang tua, ketidakmampuan anak untuk mengungkapkan sesuatu, dan sebagainya. Orang tua seringkali 'terjebak' dalam beberapa kondisi, dan kemudian mengikuti dan 'memenangkan' tantrum anak. Sehingga kemudian anak bisa tumbuh menjadi anak yang manja dan selalu menuntut agar semua keinginannya dipenuhi. Atau orang tua menyikapi perilaku tantrum tersebut dengan 'berlebihan' hingga berakibat tindakan kekerasan yang dilakukan demi menenangkan atau membungkam rengekan anak. Padahal, tantrum itu sendiri adalah kondisi yang normal terjadi, dan bisa dicegah atau diatasi. Masalahnya sekarang adalah minimnya pengetahuan dan kepedulian dari orang tua dalam hal pola asuh dan pendidikan bagi perkembangan anak.
Bisa jadi, perilaku tantrum tersebut pun tercipta oleh sebab kebiasaan orang tua yang sering tak mengacuhkan si anak, sehingga ia menjadi rewel sebab kebutuhannya tak dipenuhi. Bukan hanya si anak yang kemudian menjadi rewel, orang tua pun akan ikut 'stres' bila tantrum sedang terjadi. Hal ini akan menjadi kebiasaan yang akan terjadi berulang kali, sebab 'lalainya' kita dalam memperhatikan perkembangan anak, serta tak jeli memilah penyikapan yang tepat atas segala tingkah polahnya.
Maka, sediakanlah waktu kapan saja bila anak membutuhkan. Hingga tak lagi ia capai merengek hingga menangis meraung-raung demi meminta perhatian dari kedua orang tuanya.

DH Devita

Rencana Bahagia

taken from www.eramuslim.com

Rencana Bahagia
Publikasi: 16/06/2005 10:02 WIB

eramuslim - Sudah menjadi kelaziman setiap orang tua akan mencurahkan semua perasaan cinta kepada anaknya, apa pun akan dilakukannya untuk membahagiakan anak, semua demi satu kata: cinta. Seorang ibu bisa menahan kantuknya berjam-jam untuk berjaga sepanjang malam demi anaknya yang sedang sakit. Seorang Ayah bahkan rela merangkak di aspal yang panas di tengah hari yang terik asalkan itu bisa menghasilkan sesuap nasi demi perut anak-anaknya terisi.
Sebegitu cintanya orang tua kepada anak-anak walau mereka pun tak pernah tahu apakah kelak anak yang dikasihi sepenuh hati itu akan membalas mereka dengan kebaikan atau sebaliknya. Karena orang tua memang tidak pernah meminta sedikit pun balasan. Dan sudah barang tentu tak ada anak yang mampu membayar kasih orang tua, bahkan sekadar pengganti air susu.
Memang mereka tak pernah meminta apa pun dari anak-anak. Namun betapa tak terlukiskan kebahagiaan orang tua jika mendapati anaknya tetap memperhatikannya, tetap mencintai dan menyayanginya di saat usianya semakin senja, di saat tak ada lagi yang mendampinginya seperti saat dulu ia masih menimang-nimang si kecil, di saat tak ada lagi tempatnya bercurah, berkesah, di saat tak ada lagi kekasih yang memberikannya kecupan mesra setiap pagi dan sore.
Betapa tak terbandingkan haru yang dirasai orang tua yang mendapati anaknya yang sudah besar dan bahkan sudah berkeluarga tapi tetap mengecup tangan keriputnya dan menjadikan kakinya tempat bersimpuh.
Tahukah Anda yang diharap sang anak ketika ia tetap melakukan itu semua? Hanya doa agar ia tetap menjadi orang saleh. Dan satu doa yang dipinta, sejuta yang didapat. Ia meminta didoakan menjadi anak saleh, ibu mendoakannya, "Jadi anak yang saleh, sayang isteri, cinta anak-anak, jadi keluarga sakinah, hidup tentram, jauh dari bala dan bahaya, rezekinya lancar..." dan seterusnya. Si anak memintanya satu kali, ibu memberikan doa itu tak pernah putusnya. Bisa jadi, selama masih ada nafas yang melewati kerongkongannya doa itu akan terus mengalir.
Saya mencoba memutar waktu dua puluh lima tahun yang akan datang, saat itu mungkin anak-anak sudah besar dan menikah. Mungkin, di saat itu saya hidup sendiri, tidak ada pasangan di sisi dan hanya anak-anak yang saya miliki. Saya yakin dan teramat yakin, bahwa kebahagiaan sebagai orang tua adalah ketika melihat anak-anak bahagia hidup berumah tangga bersama keluarga tercintanya. Saya tidak berharap apa pun, juga tidak akan pernah meminta anak-anak membalas semua cinta yang pernah saya berikan, karena saya tahu sudah pasti mereka tidak akan pernah bisa membalasnya dengan apa pun.
Namun, teramat sulit saya melukiskan kebahagiaan yang saya rasakan tatkala anak-anak tetap memperhatikan, mencintai, menyayangi saya di usia renta nanti. Mungkinkah tak ada tetes air mata haru jika saya mendapati anak-anak saya berbakti untuk sedikit membalas apa yang pernah ia dapatkan dari saya selaku orang tuanya, meski takkan pernah sebanding?
Kebahagiaan yang selalu menjadi dambaan setiap orang tua itu entah kan dirasakan atau tidak di masa yang akan datang. Mungkinkah anak-anak saya akan tetap cinta dan berbakti di usia senja saya? Saya tak tahu. Hanya saja, saya telah mempersiapkannya sejak detik pertama ketika anak-anak menghembuskan nafas pertamanya, sejak isteri saya mengalirkan cintanya lewat air susunya, sejak saya memberinya nama-nama indah sebagai doa untuknya, sejak pertama kali saya mengenalkannya nama Allah yang kan menjadi sesembahannya dan nama Muhammad yang kan diteladaninya.
Lalu akan selalu ada doa yang tak akan pernah henti mengiringi setiap langkah kecil mereka. Ini yang saya sebut rencana bahagia.

Bayu Gautama

Friday, June 17, 2005

"nanti bica pecah, jangan naek gituuuu"

Abrar sekarang seneng menirukan perkataan orang orang di sekitarnya.
Saat ada yang bilang "mbak" saat manggil ummi, dia akan manggil ummi dengan sebutan mbak pula.
Kalau dilarang melakukan sesuatu, misalnya, "jangan sayang" dia pun akan menirukan "jangan cayang...."
Bahkan sekarang Abrar mulai mengembel-embeli setiap perkataannya dengan kata "gitu" dan "amat", misalnya "kotoy amatt" ( kotor amat ) atau "abi makan kacang gitu"
Abrar pun mulai memperlihatkan emosi yang nyata, saat dia kecewa, sedih, takut, dan senang.
Tak jarang dia mulai bisa mengungkapkan dengan kata-kata, "abow kaget..." ( Abrar kaget ), atau "abow mau nais" ( Abrar mau nangis )
Yang lucu lagi, di saat ummi atau abi berusaha bersikap tegas untuk melarang Abrar melakukan sesuatu, justru ummi dan abi jadi tertawa terbahak bahak karena reaksi Abrar sangat diluar dugaan.
Suatu malam, pernah Abrar berusaha naik ke atas meja makan setelah memanjat kursi, ummi lalu melarangnya..."jangan sayang, nanti kacanya bisa pecah...." ehhh Abrar dengan santai turun dari meja sambil bilang "nanti bica pecah, jangan naek gituuuu", hahahaha

Thursday, June 16, 2005


Abrar, Mbah Ti, dan Mbah Kung Posted by Hello

Abrar dan Oom Febri, lebaran taun lalu Posted by Hello