Wednesday, December 28, 2005

Dokter Fathoni dan Obat Hati

Mas Abrar pengen jadi dokter nanti, itu cita-citanya.
Tadinya sih itu hanya berupa "doktrin" dari ummi, "Kalo sudah besar jadi dokter aja ya, dokter yang baik, dokter yang sholeh, dokter yang ikhlas membantu orangyang sakit", "Kalo Mas jadi dokter, nanti bisa ngobatin ummi kalo ummi sakit", atau "Mas jadi dokter aja ya, kaya' Dokter Firman( dsanya Abrar ), nanti pasti banyak anak-anak kecil yang bisa Mas bantu"
Dan perlahan tapi pasti jadilah dokter sebagai cita-citanya ( at least sampai saat ini, di umurnya yang baru 2 tahun 4 bulan, nanti pasti akan berubah lagi sesuai keinginannya yang sebenernya ).
Lucunya, dia nggak mau menyebut dirinya Dokter Abrar, melainkan Dokter Fathoni, nama belakangnya.
"Nanti, kalo sudah besar Mas mau jadi apa ?"
"Doktey, mi"
"Oya ? Subhanallah, dokter siapa dong nanti namanya ?"
"Doktey Fathoni"
"Bukan dokter Abrar ?"
"Bukan, doktey Fathoni aja"
Hahahaha........
Kalau ada orang di rumah yang mengeluh sakit, Abrar pasti langsung nyari stestoskop nya, lalu dikalungin di leher layaknya dokter meriksa "pasien". Kadang Abrar bahkan nyari lampu senter buat memeriksa mulut "pasien".
Lalu, setelah memeriksa, ada satu obat serbaguna yang selalu diberikan pada pasien, apapun jenis penyakitnya.
Mau tau ???

Ummi : "Pak Dokter, ummi sakit nih, tolong diperiksa ya, perut ummi kok mules"
Abrar: "Iya, ntay duyu ya, ambil ntoskop duyu"
Ummi : "Iya"
Abrar: meriksa perut ummi pake stetoskop, terus perut ummi disorot pake lampu
senter, "udah mi"
Ummi : "Ummi sakit apa ya Dokter Fathoni ?"
Abrar: "Sakit peyut"
Ummi : "Ummi dikasih obat nggak ?"
Abrar: "Iya"
Ummi : "Mana obatnya ? Obat apa namanya ?"
Abrar: "Ini, obat hati"
Ummi : ?????%&*^&^&*), hahahahahaha