Rumah Mbah Kung kebanjiran, Minggu jam 3 dini hari.
Nggak tanggung-tanggung, air yang masuk ke rumah sampai semeter tingginya.
Padahal selama tinggal disana, belum pernah terjadi banjir sekalipun. Mungkin banjir terjadi karena intensitas hujan yang amat sangat tinggi.
Semua barang di rumah kena, kecuali barang-barang tante Endras dan oom Febri yang ada di lantai 2.
Buku-buku hancur, termasuk ijazah dan piagam-piagam ummi di SD dan SMP ( memang disimpan di lemari yang agak rendah, dan nggak sempat diselamatkan ), tanpa terkecuali bahan-bahan presentasi Mbah Ti buat pelatihan bidan beberapa saat lagi ( sabar ya Mbah Ti, Mbah Ti harus menyusun semuanya dari awal lagi ya ).
Foto-foto masa kecil ummi dan oom Febri juga ikut hancur, juga baju-baju, kasur, kursi, sofa, obat-obatan Mbah Ti.
Alhamdulillah, airnya segera surut, jadi kepanikan tidak bertahan lama.
Setelah air surut, semakin banyak kerugian yang tampak : mesin cuci dan kulkas tidak bisa dipakai, mobil dan motor tidak bisa distarter, CPU komputer terendam air, dll, dll.
Ikan di kolam hanya tersisa 4 ekor, sekian banyak ayam tinggal belasan ekor ( yang lucu, anak-anak ayam yg baru berusia 3-5 hari yang diletakkan di kardus di lantai kandang, ditemukan ngumpul di loteng jemuran, naik tanggakah ? wallahualam ).
Tapi alhamdulillah, si Jlitheng, kucing peliharaan Mbah Kung pulang ke rumah dengan selamat.
Dan alhamdulillah lagi, meskipun ketinggian air lumayan, tapi tidak ada korban jiwa, seluruh keluarga dan tetangga sekitar rumah Mbah Kung Mbah Ti tidak ada yang luka.
Yang menyedihkan, sebagian bangunan rumah Pak Marno dan Pak Mino di sebelah rumah Mbah Kung roboh kena air banjir. Mudah-mudahan Allah memberikan mereka kesabaran dan menggantikannya dengan yang lebih baik, amiin.
Hari-hari ini, hari-hari bersih-bersih yang melelahkan buat seluruh keluarga.
Maafkan kami ya Mbah, nggak bisa ikut datang membantu.
Mbah Kung dan Mbah Ti dibantu sama tetangga sekitar / keluarga yang nggak kebanjiran, keluarga dari Pucangsewu, bahkan adek Mbah Kung dari Trenggalek ikut datang dan bantuin beres-beres ( makasih ya Mbah To dan Mbah Tik, meskipun sibuk nyempetin dateng dan bantuin Mbah Kung ).
Semoga banjirnya cukup sekali ini saja, jangan terulang lagi.
Bagi saudara-saudara yang saat ini mengalami musibah banjir juga, semoga Allah memberikan kesabaran dan pengganti yang lebih baik.