Akhir-akhir ini keinginan berhenti bekerja makin menguat, mengikat, mengakar, dan menghujam jauh ke dalam relung hati.
Tapi apa daya, semua itu baru sebatas keinginan tanpa daya kekuatan, hanya harapan tanpa kuasa tuk membuatnya tercipta, dan sekedar impian yang tak pernah kutahu kapan menjelma nyata.
Hanya satu yang bisa mewujudkan itu semua, keberanian. Bukan pesangon sekian puluh juta, atau jaminan akan kelangsungan hidup di masa yang akan datang, hanya keberanian !!!
Aku harus berani menghadapi semua tudingan miring orang-orang.
Aku harus berani mengatakan pada orang tua dan keluarga besarku bahwa ini pilihan terbaik untuk hidupku.
Dan aku harus berani meyakinkan diri bahwa Allah semata sumber rejekiku, bukan perusahaan tempatku bekerja selama ini.
Tapi sampai detik ini, aku belum punya keberanian itu.
Terseok-seok aku mengumpulkannya sedikit demi sedikit, satu demi satu, sampai kapan ?
Beri aku kekuatan Ya Allah, kekuatan dan keberanian......
Apalah artinya isak tangis penuh air mata, tanpa dayaku mewujudkan ini semua ?
Dia anakku, kulahirkan dari rahimku
Amanah terbesar dari Mu
Bagaimana sifatnya kelak
Seperti apa budi pekertinya
Sebaik apa ibadahnya
Doa-doa apa yang akan dia lantunkan
Dan sebesar apa cinta dan rindunya pada Mu dan Rasul Mu
Akulah yang akan Kau minta pertanggungjawaban
Bukan pengasuhnya
Lalu bagaimana mungkin aku bisa membimbingnya dan mengajarkan itu semua hanya dalam 4 jam dari 24 jam yang dia miliki dalam sehari ?
Aku berharap dia mencintaiku, menyayangiku, dan selalu menyebutku dalam doa-doanya.
Tapi mungkinkah dia melakukan itu ketika dia merasa betapa sedikitnya waktuku untuknya ?
Ampuni aku Robb, berilah aku kekuatan dan keberanian mewujudkan ini semua.