Friday, July 29, 2005

Akhirnya, si Lumba-lumba pun bisa mandi....

Seminggu ini abi, ummi dan bude sibuk membujuk Abrar agar "rela" membiarkan boneka lumba-lumbanya dicuci, tapi setiap kali ditanya, jawabannya selalu, "enggak boyeh".
Boneka lumba-lumba warna biru yang jauh lebih besar dari Abrar itu sekarang jadi boneka kesayangan yang sulit digantikan dgn yang lain.
Warnanya kini bukan lagi biru putih cerah seperti saat pertama kali dibeli, tapi menjelma menjadi biru pudar dan abu-abu :D.
Saat Abrar mau bobok, si lumba-lumba harus ada disampingnya sambil sesekali dipeluk dan dicium dengan mesra, duuuhh.
Dan di pagi hari saat bangun tidur, lumba-lumba jadi makhluk pertama yang dicari baru ummi dan abi.
Siang hari saat asyik main pun Abrar bisa tiba-tiba mencari lumba-lumbanya, lalu memeluknya eraaaatttt banget, seperti berbulan-bulan nggak ketemu, hahaha.
Seringkali lumba-lumba juga dijadiin kuda tunggangan yang bisa nganter Abrar mengelilingi dunia imajinasinya.
Atau teman mengobrol yang asyik ( Abrar nanyain beberapa pertanyaan sama si lumba-lumba, lalu dijawabnya sendiri, hehe ).
Itulah sebabnya, kemanapun Abrar pergi, asal memungkinkan si lumba-lumba pasti akan dibawa serta.
Seperti waktu pulang ke rumah mbah ti awal Juli lalu, si lumba-lumba membuat ummi harus membawa travel bag yang besar sekali, padahal barang yang dibawa sebenernya cuma sedikit.
Biasanya sebulan atau dua bulan sekali si lumba-lumba dicuci.
Tapi beberapa bulan ini si lumba-lumba nggak bisa dicuci karena Abrar nggak rela berpisah dengannya seharian.
Awalnya sih enggak masalah, tapi lama-lama si lumba-lumba jadi kelihatan jorok, dekil, dan bau.
Sampai akhirnya, 2 hari yang lalu sebelum bobok tiba-tiba Abrar mengadu, "abi, lumba-lumba bau", katanya.
Abi tertawa, lalu Abi mengusulkan, "gimana kalo besok lumba-lumba mandi, biar bersih dan wangi", "iya" kata Abrar.
Akhirnya setelah melalui proses negoisasi yang alot, hehe, pagi ini Abrar memberikan "ijin resmi" pada bude untuk mencuci si lumba-lumba, itupun Abrar harus diyakinkan lebih dulu bahwa dia akan bermain dan tidur siang tanpa si lumba-lumba sampai si lumba-lumba kering sore nanti.
Dan lucunya, sebelum si lumba-lumba masuk ke mesin cuci, Abrar menciumi dan memeluk dia dulu seolah olah enggak tega berpisah, wah wah....
Ummi jadi agak khawatir, takut Abrar jadi ketergantungan dan kecanduan sama si lumba-lumba.
Gimana kalo ternyata suatu saat kami harus pergi ke suatu tempat dan tidak bisa mebawa si lumba-lumba turut serta ?