Akhir-akhir ini entah kenapa banyak sekali temen temen ummi yang membicarakan masalah rumah. Ada yang rumahnya mau direnovasi dan sedang sibuk mencari referensi kesana kemari, ada yang rumahnya selesai direnovasi lengkap dengan foto foto yang menunjukkan rumah yang betul betul indah, ada yang akan segera pindah ke rumah barunya. Mereka semua tentu sedang bergembira dan bersemangat, akan segera menempati rumah baru yang dibeli dan dibangun dengan jerih payah selama bertahun tahun, bahkan mungkin ada yang menyisakan cicilan yang harus dibayarkan sampai beberapa tahun ke depan. Dan dulu, ummi pun pernah merasakan kegembiraan dan semangat itu.
Lalu entah kenapa seiring dengan cerita teman teman itu, rasa syukur perlahan meluntur. Karena satu hal, mereka semua akan segera menempati sebuah rumah indah dan asri di lingkungan perumahan yang biasanya selalu tertata rapi, lengkap dengan jalan-jalan yang lebar dan mulus, taman-taman yang hijau dan segar, atau mungkin juga sportcenter yang bisa diakses kapanpun dengan mudah, karena memang dekat dengan rumah. Selama ini ummi belum pernah merasakan hal-hal itu, karena kami selalu memutuskan membeli rumah di daerah perkampungan, karena alasan-alasan tertentu yang saat itu kami pikir sangat logis dan rasional. Kami seringkali bersilaturahim ke rumah teman-teman kami yang tinggal di daerah perumahan, dan seringkali iri dengan lingkungan yang mereka tempati. Lingkungan yang bersih, tenang, jauh dari polusi, bahkan yang tinggal jauh di pinggiran, udaranya betul betul masih sejuk sekali. Mana ada hal hal seperti itu yang bisa kami rasakan di rumah kami sekarang ?Memang rumah kami sekarang ada di pertengahan kota, di tepi sebuah jalan yang sangat ramai di sore hari, bahkan pada hari Sabtu, Minggu, atau hari hari libur sekolah, keramaian itu bisa berlanjut sampai dini hari. Belum lagi debu yang luar biasa yang membuat kami tak betah membuka pintu rumah berlama-lama, kecuali sebelum jalanan di depan rumah kami guyur dengan air sampai benar benar basah, itupun tak menutup kemungkinan asap knalpot bajaj, motor, dan mobil yang lalu lalang tetap memaksa memasuki setiap lubang yang terbuka. Masalah lain muncul ketika ada tetangga sebelah rumah kami yang menyetel kaset keras-keras atau sedang bergurau dengan anggota keluarganya. Karena memang jarak antar rumah yang tak sampai satu meter. Atau ketika ummi ingin sekedar menanam bunga atau tanaman lain, keinginan begitu besar tapi tidak ada tempat yang memungkinkan, untunglah abi memutuskan membuatkan sebuah rak kayu di teras untuk meletakkan bunga bunga itu, itupun dengan konsekuensi tanamannya lebih cepat mati karena jarang terkena sinar matahari.
Semua alasan itulah yang menyebabkan ummi akhir akhir ini sangat memimpikan mempunyai sebuah rumah di perumahan, lengkap dengan taman yang hijau, halaman belakang tempat bercocok tanam atau memelihara ayam dan kelinci, dan taman bermain dekat rumah yang memungkinkan Abrar berlari-lari disana dengan teman temannya tanpa ummi khawatir dia akan ada ojek atau bajaj yang lewat, dari titik inilah rasa syukur itu melayang entah kemana. Bahkan jika suatu saat abi menawarkan ingin membeli rumah di perumahan, ummi pun sudah tahu perumahan mana yang sangat ummi inginkan.
Lalu akhirnya, di sebuah malam dengan penat yang luar biasa, ummi mencoba menguraikan semuanya. Jarak rumah kami hanya 15-20 menit perjalanan ke kampus maupun ke kantor. Dengan jarak sedekat itu saja, kadang ummi masih merasakan kecapekan yang sangat setelah pulang ke rumah, bagaimana bila ummi harus pulang ke Bekasi, Cibubur, Cibinong, atau mungkin Bogor ? Tentu rasa capeknya berlipat ganda. Memang salah satu pertimbangan kami membeli rumah di daerah kota adalah karena ummi masih kuliah, satu atau dua jam waktu yang habis di perjalanan sangat berarti bagi kebersamaan Abrar dan kami. Lalu lokasi rumah kami sangat dekat dengan rumah sakit besar dan dokter spesialis anak yang menangani Abrar dari bayi. Jadwal kontrol dan imunisasi jadi tidak memberatkan, apalagi jika Abrar sakit dan harus segera berkunjung ke dokter. Lokasi yang dekat dengan kota pun memudahkan ummi jika ingin mengikuti seminar seminar tentang anak dan kesehatan yang seringkali diadakan di daerah kota, seringkali ummi mendengar alasan teman-teman ummi melewatkan seminar bagus karena jarak rumah yang terlalu jauh. Lalu ikatan kekeluargaan dari para tetangga ~yang sebagian besar udah sepuh dan kebanyakan dipanggil "mbah" oleh Abrar~ sangat akrab satu sama lain, mungkin tidak akan kami dapatkan di lingkungan perumahan yang notabene warganya adalah keluarga keluarga muda yang sangat sibuk. Dan satu hal lagi yang sangat sangat harus diingat, di rumah ini ummi merasa sangat nyaman, jauh lebih nyaman dibandingkan dengan beberapa rumah terdahulu yang pernah kami tempati ( mudah mudahan ini merupakan satu bukti bahwa Allah memberkahi rumah kami, amiiinn ). Betapa naifnya, jika ummi tak mampu mensyukuri semua itu. Bahkan lebih ironis lagi melihat saudara saudara kita yang tinggal di kolong kolong jembatan, atau mengingat betapa banyak teman teman yang masih tinggal di rumah kontrakan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?
Jadi, bagaimanapun bagusnya kondisi rumah teman-teman kami, di perumahan manapun yang asri dan tertata rapi, tak akan menggoyahkan cinta pada rumah kami dan limpahan rasa syukur pada-Nya yang telah memberikan rizki tak terhingga berupa kesempatan tinggal bersama-sama di rumah kami tercinta.
~Yaa Allah, bimbing kami untuk selalu menjadi hamba Mu yang pandai bersyukur ~