Saturday, January 01, 2005

Resign

Ehm, sering lo aku mikir, klo diadain pooling, berapa persen wanita bekerja yang bersedia resign kalau kebutuhan hidupnya terpenuhi. Kebutuhan hidup terpenuhi dalam artian gaji dari suami mencukupi atau ada tunjangan / bantuan dari pemerintah ( mimpi kali yeeeee..... ).
Banyak kali ya, 40% ? 50% ? Atau lebih ?

2 bulan terakhir di tahun 2004, yang terpikir resign melulu.
Sangat sangat dan sangat bertolak belakang dibandingkan saat Abrar baru berumur beberapa bulan.
Wacana resign memang udah muncul dari awal menikah, si Abie paling getol kalo udah ngomongin resign, tapi akhirnya selalu terbentur pada sekian banyak alasan ( yang memang ada, atau diada-adain ? )
Dulu, waktu Abrar umur 3 bulan dan harus ditinggal ngantor, aku sedih bukan main. Tapi begitu Abrar umur 5-6 bulan, mulai muncul perasaan "Ahh biasa, banyak kok anak-anak yang ditinggal kerja sama ibunya. Dan mereka baik-baik aja......"
Aku menikmati saat-saat di rumah bersama Abrar, tapi aku juga enjoy di kantor. Malah kalau Abie ngomongin resign, aku bilang "iya, nanti dipikirin", tapi dalam hati terbayang apa sih enaknya resign, kan bosen di rumah terus.
Tapi itu beberapa bulan lalu........bukan beberapa bulan ini dan bukan hari ini.
Semakin hari, semakin berat ninggalin Abrar ngantor.
Bukan karena dia nggak mau ditinggal, setiap pagi dia justru cium tangan dan melambaikan tangan, tanpa menangis. He's a good little boy.....dia akan selalu bilang "Iya" sambil mengangguk klo dipamitin ke kantor atau ke kampus.
Tapi justru sikap polosnya itu yang membuat aku makin merasa bersalah.
Ya Allah, berapa banyak jatah anakku yang tidak kuberikan ? Betapa besar kedzaliman yang kulakukan padanya ?
Memandikannya ( bukan hanya pagi hari seperti yang kulakukan ), menyuapi, menemani bermain, membacakan buku, menciumnya, memeluknya, membantunya bangun bila ia terjatuh, bertepuk tangan bila ia berhasil melakukan sesuatu yang "hebat"......berapa banyak hal yang seharusnya bisa kulakukan untuknya sepanjang hari ketika aku di kantor ?
Ummi harus segera membulatkan tekat Nak, ummi harus segera memutuskan.......sebelum terlalu berat apa yang harus ummi pertanggungjawabkan.........

To my lovely boy........
Ummi selalu sayang padamu, meski ummi tak selalu bersamamu.....

No comments: