Hari ini, nemu artikel menarik di Bali Post, bagus buat dibaca buat yang mengalami hal seperti ini, dan sebagai bekal bila suatu hari nanti mengalami hal yang sama :D ( Mudah-mudahan tidak lah yaaaaa....... )
Taken from http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/1/23/kel4.html
Mengapa Orang Jatuh Cinta Lagi ?
SERINGKALI pasangan suami istri (pasutri) tidak sepenuhnya menyadari bahwa pasangan mereka bukan buah pilihannya yang paling tepat. Teman hidup yang sudah dipilih belum tentu pria atau wanita paling sempurna bagi suami atau istri. Di luar keyakinan orang pada jodoh, banyak hal ikut mempengaruhi siapa pilihan teman hidup seseorang. Walau akhirnya yang disebut jodoh sebagaimana yang diyakini banyak orang cuma tersedia satu, namun pilihan dan peluang memilih yang layak menjadi jodoh kita sebetulnya begitu banyak. Misalnya, makin luas pergaulan seseorang, jodoh bukan lagi cuma sebatas pagar rumahnya belaka. Makin matang seseorang, di otaknya makin utuh formulasi ideal calon teman hidupnya. Makin pragmatis pandangan hidup seseorang, makin dipakai akal sehatnya dalam memilih teman hidup.
Sebuah jajak pendapat di Hongkong, sebagaimana ditulis situs www.cintakasih.itgo.com, mengungkap fenomena baru, bahwa cinta mulai dianggap tidak penting lagi dalam perkawinan. Orang muda lebih melihat faktor kecocokan, kelayakan mampu hidup bersama dalam perkawinan lebih penting ketimbang cinta.
Di Jepang, banyak orang mencari jodoh lewat biro jodoh. Ini fenomena lain dari masyarakat yang sibuk, sebab tak tersisa waktu buat bergaul dengan banyak lawan jenis. Cara ini pun dianggap ikut mempengaruhi mutu pilihan teman hidup. Sebab, dengan makin banyak sample untuk dipilih di biro jodoh, mestinya makin bulat dan utuh buah hasil pilihan dibanding cuma memilih seadanya di lingkungan yang paling dekat semata. Jatuh cinta karena sering ketemu dan bersama lalu menikah, secara matematis berbeda mutunya dibanding dengan baru jatuh cinta setelah bertemu dengan seribu lawan jenis, misalnya.
Peta CintaAnda pernah mendengar "peta cinta"? Setiap orang punya peta cintanya sendiri-sendiri. Ini semacam panduan batin yang menuntun selera orang memilih teman hidup. Peta cinta menentukan preferensi seseorang lebih tertarik pada tipe-tipe lawan jenis tertentu. Ada lelaki yang lebih suka pada wanita keibuan, pada wanita yang atraktif, pada wanita yang berdada besar atau berpanggul lebar, dan seterusnya. Begitu juga dengan wanita. Ada yang lebih suka tipe pria kerempeng, pria berotot, yang tepos atau berdada bidang. Ada juga wanita yang lebih tertarik pada pria kebapakan.
Peta cinta dibangun dari pengalaman masa kecil, yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Dipengaruhi pula oleh sikap keluarga, trauma masa lalu, pendidikan, dan kepribadian seseorang. Peta cinta menuntun orang mencari dan menemukan teman hidupnya. Ada prototipe tertentu dalam gambaran batinnya, seperti apa lawan jenis yang disukainya. "Kamu adalah tipe ideal saya," begitu sering terdengar kalau orang menemukan sosok yang sama dengan gambaran prototipe di batinnya. "Anak mami" biasanya cenderung mencari calon pendamping yang keibuan, sementara "anak papi" menemukannya pada figur kebapakan.
Namun tidak semua orang berhasil mengabulkan pesan peta cintanya. Tidak semua orang menikah dengan orang menurut gambaran peta cintanya. Lihatlah kasus Bill Clinton, misalnya. Trauma masa lalu Bill Clinton dari ayah tirinya, misalnya, seperti dianalisis oleh kolumnis Camille Plagia di Salon Magazine, konon membuat Clinton lebih berpreferensi terhadap sosok wanita yang cerdas, atraktif, dan sensual. Prototipe yang bagi Clinton ideal itu konon tidak penuh ditemukan Clinton pada Hillary, sang istri. Hillary malah dinilai pers Barat sebagai pribadi ibu pemaaf namun frigid. Sementara Clinton sendiri makin menemukan dirinya sebagai pribadi yang membawa tabiat kebapakan.
Itu sebabnya barangkali, gadis remaja, yang dengan menyimpan trauma masa kecil tertentu, yang electra complex, cinta dan lebih dekat dengan ayah, umumnya berpreferensi mencari sosok pria yang kebapakan seperti Clinton. Tidak jelas apa Kathleen Wiley, Gennifer Flowers, Paula Jones dan Monica Lewinsky, dan entah siapa lagi, yang tercatat dan dituding selingkuh dengan Clinton tergolong wanita yang suka pria kebapakan.
Anatomi berselingkuh kebanyakan orang modern bisa diterangkan secara begitu. Bahwa suami atau istri baru menemukan sosok dan pribadi yang lebih utuh atau benar-benar utuh sesuai dengan peta cintanya, setelah telanjur menikah. Kegagalan pria dan wanita menemukan tipe idealnya pada suami atau istrinya inilah yang berpotensi menjadi bom waktu perkawinan jika suatu hari suami atau istri punya peluang buat jatuh cinta dengan orang yang punya tipe persis seperti gambar dalam peta cintanya. Maka itu, wajar kalau orang bisa jatuh cinta lagi. Konflik timbul kalau pilihan baru ditemukan setelah orang punya suami atau istri.
Faktor PenentuHarold Bessel PhD, yang banyak menekuni soal-soal cinta dan pilihan teman hidup mengungkap unsur atraksi romantik (romantic attraction) dan kematangan emosi (emotional maturity) sebagai faktor yang juga ikut menentukan mutu perkawinan. Inilah unsur-unsur yang menjadi bahan pertimbangan bagaimana orang memutuskan pilihan teman hidupnya.
Namun tidak semua orang yang pilihan teman hidupnya dinilainya kurang pas, serta merta akan menghancurkan perkawinannya. Mungkin suatu hari dalam hidup perkawinan, suami maupun istri bisa saja menemukan atraksi romantiknya pada wanita atau pria lain. Bisa saja keterpikatan dalam pertemuan pria-wanita yang sudah bersuami atau beristri tersebut punya makna erotik, dan membuat mereka jatuh cinta lalu membawanya ke jenjang perkawinan.
Peluang untuk jatuh cinta dan jatuh cinta lagi seperti itu bisa saja terus berulang saban kali suami atau istri bertemu dengan tipe idealnya lagi. Tapi tentu tidak semua orang mengumbar emosinya sehingga peluang jatuh cinta lagi itu harus dijadikan kenyataan. Keterikatan orang dengan agama, etika, adanya rasa kesetiaan, sikap dan pandangan hidup, pertemuan suami atau istri dengan orang yang dirasa lebih ideal dibanding suami atau istrinya sendiri, tidak mesti diakhiri dengan jatuh cinta, percintaan dan perkawinan.
Perkawinan yang rapuh atau dirapuhkan oleh situasi dan kondisi, biasanya mudah sekali digoyang oleh peluang suami atau istri buat jatuh cinta lagi yang diam-diam biasanya dipelihara. Di tengah model perkawinan yang lebih terbuka (open marriage) seperti rata-rata perkawinan orang modern sekarang, lebih terbuka peluang suami maupun istri untuk jatuh cinta dan jatuh cinta lagi. Sikon suami maupun istri berkarier membuatnya bisa bergaul lebih terbuka dengan wanita dan pria yang mungkin lebih ideal dari teman hidupnya sendiri. Karier juga sering membawa pria dan wanita menemukan tipe idealnya pada suami atau istri orang lain.
"Model kebanyakan perkawinan orang sekarang dinilai menempuh proses karbitan," kata Bessel. Pergaulan lelaki-perempuan sekarang lebih lekas dan mudah membawa mereka ke kamar seks ketimbang ke ruang cinta. Cinta dibuat menjadi identik dengan seks. Ketika seks sudah bukan apa-apa lagi, ketika seks sudah membosankan, pertemuan menjadi tidak seabadi cinta.
Itu sebabnya mengapa cinta orang sekarang tergolong cinta "karbitan", cinta yang lebih cepat tumbuh di bibir, tapi tidak di hati. Cinta model "cinta kalau" atau "cinta karena", jenis cinta yang bersyarat. "Saya cinta kamu kalau kamu mau memberi saya seks!" Itu berarti tidak cinta lagi kalau seks tidak lagi ada. Atau, "Saya cinta kamu karena kamu cantik, kamu cakep dan baik." Begitu tidak cantik, tidak cakep dan tidak baik lagi, cinta tidak lagi ada. Sebaliknya, cinta sejati itu katanya jenis "cinta walaupun". "Saya cinta kamu walaupun kamu tidak memberi seks, walau kamu sudah nenek-nenek, walaupun kamu cacat dan buruk rupa."
Sikap hidup hedonistik kebanyakan orang sekarang, atau kecenderungan memilih hidup pragmatis, menggiring orang lebih memuja Putri Diana ketimbang Ibu Teresa, misalnya. Fenomena yang mengajak orang lebih suka meletakkan nilai-nilainya semata buat kenikmatan hidup, "tahu salah, tapi apa boleh buat", sebab semua orang juga berbuat begitu. Sikap snobisme begini yang membuat kadar cinta kebanyakan perkawinan sekarang cuma imitasi belaka. (*)
No comments:
Post a Comment