Di Intisari terbitan Maret 08, ada artikel yg sangat menarik, dengan kata sangat ya, karena menurut saya, semua artikel di Intisari pasti menarik dan wajib dibaca (bukan promosi, tapi mungkin karena sejak baru bisa baca, saya sudah akrab dengan gaya penulisan artikel dalam Intisari)
Judulnya "Bahagia Juga Punya Ukuran", isinya kurang lebih, kalau pencapaian kebahagiaan didasarkan pada pemenuhan kebutuhan.
Berdasarkan Abraham Maslow (teori Maslow), kebutuhan manusia ada 5 tingkat :
1. Kebutuhan mempertahankan hidup (makan, pakaian, tempat tinggal, seks)
2. Kebutuhan bebas dari bahaya dan ancaman
3. Kebutuhan sosial
4. Kebutuhan apresiasi atas prestasi yg dicapai, dan
5. Kebutuhan aktualisasi diri, berupa pencapaian cita-cita
Semakin rendah kebutuhan seseorang, semakin sedikit parameter yg menentukan kebahagiaan.
Di artikel tsb dicontohkan, seorang dari kalangan ekonomi lemah yg kebutuhannya masih berada di tingkat mempertahankan hidup, begitu kebutuhan makan, pakaian, dan tempat tinggal terpenuhi, tidak akan ada masalah lain.
Kebalikannya dgn kalangan eksekutif, apabila dia punya prestasi bagus tapi tak mendapat apresiasi, bisa jadi ia merasa jadi orang paling malang sedunia.
Repot juga ya, ternyata bergelimang materi belum tentu jadi jaminan hidup bahagia.
Lalu bagaimana kalo kita ditanya, apa parameter hidup bahagia bagi kita ?
Karena saya muslim, jawaban saya cukup 2 kata,...sabar dan syukur.
Sabar atas segala kondisi buruk yang harus kita hadapi, dan syukur atas segala kemudahan yang kita terima.
Dengan begitu, hatipun akan lapang apapun yang terjadi.
Bukankah bahagia itu salah satunya dicerminkan oleh hati yang lapang dan tenang ?
Syukur bukan cuma kalo kita punya mobil bagus, rumah megah, dan gaji gede.
Tapi tinggal di kontrakan yang nyaman, bisa tidur nyenyak, bisa sholat dengan tenang, bisa meluk anak dan suami, bahkan bisa ngeblog tanpa gangguan, termasuk hal-hal kecil
yang harus disyukuri.
Mudah sih ngomongnya, tapi pasti berat melakukannya.
Seringnya sih, kita bersyukur klo dapet kenikmatan, tapi ga sabar klo terima kesulitan :d
Semoga saja, kita semua termasuk orang yang selalu bersabar dan bersyukur, amiiin
3 comments:
iya, tapi maslow tidak mengungkapkan soal kebebasan memilih agama.
aminnnnnnnnnn :)
ayooo ngeblog lagiiiiiiiiii
Bahagia itu mangan wareg, nyandhang rapet, turune anget. Cukuplah...
Post a Comment