setelah melalui pemikiran, pertimbangan, dan negosiasi yang alot --antara ummi dan abi nih--, akhirnya tanggal 16 september kemaren kami sekeluarga pindah rumah ke solo
sebenernya nggak tepat kalo disebut sekeluarga ya, karena sebenernya yang terjadi adalah, ummi balik lagi ke jakarta setelahnya
yahh, akhirnya keputusan pindah langsung ke solo itu (selain alternatif lain ngontrak dulu di jakarta) harus diambil walaupun dengan amat sangat berat hati (buat ummi terutama ya)
packing barang2 sudah mulai dicicil sejak 2 minggu sebelumnya
oiya, lupa belum cerita
sebenernya alasan utama pindahan yang diluar rencana ini, karena rumah yg kami tempati selama ini di manggarai sudah laku, alias sudah dibeli sama orang
dan si pembeli ini, mau cepet-cepet nempatin rumahnya
kenapa buru-buru dijual?
sebenernya nggak buru-buru juga, kami justru merasa ini semua kemudahan yang Allah berikan
lucunya, pembeli rumah kami itu dateng nawar rumah sebelum rumahnya diiklanin
beliau langsung sreg, harga cocok, dan jadilah proses jual belinya
sungguh, ini kemudahan bagi kami (menanggapi komentar temen, kenalan, dan sodara yg menganggap kami terlalu grasa-grusu), intinya kami butuh, keluarga pembelinya juga butuh, dan kami ikhlas bila ternyata harus segera ninggalin rumah
coba bayangkan, bisa ternyata nanti saat kami udah harus pindah, dan rumah belum laku, harus bolak-balik lagi, dan harus ada biaya ekstra buat perawatannya
sabtu pagi, semua barang sudah siap naik truk, kecuali mobil, karena di detik-detik terakhir baru ketahuan ada masalah di radiatornya ( note. mobilnya ikut naik truk ya, total jenderal barang-barang kami diangkut oleh 2 truk ban dobel dan 1 mobil boks, katanya sih waktu naikin mobil ke truk, butuh tenaga 15 orang, hehehe )
sekitar jam 9, nyicil ngangkut barang ke truk, karena truknya besar dan nggak bisa masuk ke jalan depan rumah, terpaksa harus diangkut dulu pake mobil pickup baru dioper lagi ke truk
jam 1 siang, semua udah beres, udah rapi dan siap jalan
rumah lengang, kosong, sama seperti waktu pertama kali kita mau nempatin 3 taun lalu
waktu itu sih belum terasa sedih, cuma agak berat ninggalin rumah
yang sedih, waktu kami pamitan ke tetangga
semua ngumpul di depan rumah, saling peluk, saling cium, saling minta maaf
temen-temen abrar juga ngumpul semua ( kecuali Diva dan Rofi, maaf kami nggak sempet pamit ya sayang.. )
nggak terasa air mata terurai, semua tetangga yang baik, yang perhatian, yang sering direpotkan..
maafkan kesalahan kami selama ini dan terimakasih atas segala kebaikan
smoga jalinan silaturahim tetap terjaga, meski harus berjauhan
jam 16.30, kami udah di bandara, siap terbang ke solo
No comments:
Post a Comment